Senin, 22 Juli 2013

TAUHID HAKIKI

ILMU TAUHID DALAM TAUHID HAKIKI

Berpikir itu supaya mendapat karunia. Semua Perkataan Allah [Kalamullah] itu perlu dipikirkan. Yang kita cari: bi makna yang tersirat dalam Kalam Allah ini. Berpikirlah sedalam-dalamnya dan tenangkan pikiran, barulah dapat keputusan. Yakinkanlah keputusan itu berdasarkan haq dan dalil.

Bukit saja yang jaraknya 1 km bisa kamu lihat. Mengapa Tuhan yang tidak ada antaranya tidak kelihatan? Sedangkan Tuhan itu berada "di tempat" yang terang. Dikatakan demikian, karena Tuhan itu terlindung olah Cahaya-Nya. Cahaya Tuhan lebih terang daripada segala yang terang. Mengapa Tuhan tidak kelihatan? Padahal Tuhan itu sudah NYATA ADA-NYA.


Siapa tidak melihat Tuhan tidak nyata ADA-Nya, berarti zahir-batinnya masih terhijab.


O
rang tauhid ketika berada di mana saja, yang dipandangnya wujud Tuhan saja. Tidak ada wujud selain-Nya. Ingat hakikat tauhid: "Laa maujudun illallah."

Inilah praktik orang-orang tauhid. Di mana pun berada tetap Wujud Allah dipandangnya. Sampai akhirat pun demikian. Kalau masih ada wujud makhluk dipandangnya: syirik. Masih bisa dipermainkan setan.


Wujud Allah itu wujud siapa?
Itulah Wujud Tuhan.



Itu sebabnya jika masih ada menyebut baharu saja: syirik. Firman saja mengatakan,Qola fal haqqu wal haqqa aqulu. [Q.S. Shad:84]. Diri Tuhan yang berdoa; barulah dikabulkan.

Mengapa takut mengaku diri kita ini diri Tuhan? Yang hidup: Tuhan; yang melihat: Tuhan; yang berkata: Tuhan; yang Mendengar: Tuhan. Tuhan semualah sudah.

Banyak orang berkata, bumi Tuhan, langit Tuhan, bukit Tuhan, rumah Tuhan, dan sebagainya. Nah, diri kita ini diri siapa kalau bukan diri Tuhan? Adakah ibu-bapak kita yang membuat kita? Jangankan tangan-kaki, membuat ujung hidung saja ibu-bapak kita tidak bisa.

Kalau benar anak itu hasil perbuatan ibu-bapaknya , mustinya setiap lelaki wajahnya tampan [seperti Adam "Muxlimo" Troy | abaykan. 8D ];
Kalau benar anak itu hasil perbuatan ibu-bapaknya, mustinya setiap perempuan wajahnya cantik [seperti Nyonya Adam "Muxlimo" Troy | abaykan part. 2 XD wkwkwk]
Kalau benar anak itu hasil perbuatan ibu-bapaknya, mengapa banyak juga yang lahir dalam keadaan cacat atau buta?

Sadarlah, perbuatan siapa itu?
Diri kita ini bukan hasil kelakuan ibu-bapak. Tidak ada yang bisa mengelak dari fakta ini. Tetap kembalinya pada Tuhan. Perbuatan Tuhan. Di sinilah kelemahan manusia: lupa bahwa semuanya itu dari Tuhan.

O
rang tauhid–dalam segala apa pun–tetap tidak meninggalkan minallahi: tetap Diri Tuhan dulu yang diperhatikannya. Kalau rasa dari Tuhan ini sudah ada pada diri kita, apalagi yang akan ditakuti? Karena segala-galanya sudah dirasakannya TUHAN SAJA ADA. Tidak ada kekhawatiran sedebu pun yang ditakuti dari makhluk.

 Coba perhatikan, Tubuh Maharuang yang meliputi sekalian alam ini dari mana? Bahkan kita ini hidup di dalam-Nya. Bukan hanya hidup, bahkan mendalam Tubuh-Nya. Coba Tubuh Maharuang ini bergerak sederajat saja: kiamat sudah.



auhid hakiki itu ilmu ketuhanan. Ilmu ketuhanan itu ilmu laduni. Ilmu laduni itu Allah mengajar hamba-Nya. Bagaimana Allah mengajar hamba-Nya? Asah akal dengan pemikiran. Berpikirlah!