Rabu, 31 Juli 2013

SILSILAH THAREKAT NAQSYABANDIYAH

SILSILAH THAREQAT NAQSYABANDIYAH



“Ati’ullaha wa ati’ur rasula wa ulil amri minkum” (An-Nisa’ 59).
Ta’atilah Allah dan Rasulullah serta para pemimpin kalian.

Dengan mematuhi Rasulullah SAW, berarti kita mematuhi Allah . Oleh sebab itu jagalah agar Tuhan dan Rasulullah selalu berada dalam hatimu, dan bila kalian mematuhi gurumu, berarti kalian mematuhi Rasulullah SAW

Keberadaan seorang guru sangat penting dan setiap orang harus mempunyai seorang guru. Tanpa guru, tak seorang pun dapat mengalami kemajuan dan tak seorang pun bisa menemukan jejak dan jalur yang harus dituju. Bahkan Rasulullah SAW dan seluruh Rasul yang diutus Allah SWT ke dunia ini juga mempunyai guru. Rasulullah SAW mendapat bimbingan Jibril AS dalam proses pencarian Tuhan. Itulah sebabnya kita harus mempunyai seorang guru yang akan menunjukkan jalan kepada Rasulullah SAW dan seterusnya kepada Allah SWT. Jangan berpikir bahwa kita dapat mencapai suatu tempat tanpa seorang guru, mustahil. Bila kita menempuh jalan sendiri, kita tidak akan mencapai suatu tempat karena jika kita kehilangan jejak, akan benar-benar tersesat. Oleh sebab itu gunakanlah seorang pemandu yang mengetahui jalan yang kalian tempuh, yaitu orang yang pernah melalui jalan itu sebelumnya, sehingga dia menjadi berpengalaman. Dia akan mengantarmu dan membimbingmu langsung menuju tujuanmu tanpa pergi ke sana ke mari, atau ke suatu tempat yang bisa menyesatkanmu.

Itulah sebabnya mengapa seluruh Tarikat mempunyai Silsilah yang merupakan mata rantai Guru-Guru yang sambung-menyambung dan kembali secara langsung, tanpa interupsi kepada Rasulullah SAW. Inilah yang kita butuhkan, suatu jalinan langsung. Kita tidak menginginkan suatu mata rantai yang terputus di suatu tempat. Suatu pipa yang tertanam di dalam tanah dan membawa air dari satu desa ke desa yang lain harus benar-benar terjalin dengan baik. Jika terdapat satu lubang di suatu tempat, air itu tidak akan sampai. Jika mata rantai Wali itu terputus, kita tidak akan sampai kepada Rasulullah SAW.

Jika kita bertanya kepada seluruh manusia di muka bumi apa Agama anda, mereka mengatakan, “Kami adalah pemeluk Budha, Hindu, Kristen, Judaisme, atau Yoga,” atau suatu bentuk agama dan kepercayaan lainnya. Jika kita bertanya kepada mereka, “Siapa guru kalian?” Mereka akan menjawab, “si Anu dan Anu,” lalu siapa guru dari si Anu dan Anu tadi?

Sekarang kita bukannya ingin menentang suatu agama atau kepercayaan, karena semuanya itu akan mengantarkan kalian menuju tujuan masing-masing, tetapi mengertilah apa yang kami tanyakan, siapa guru dari guru kalian tadi? Orang itu tidak akan tahu bagaimana menjawab pertanyaan itu. Seseorang mungkin akan menjawab, “Kepercayaannya berasal dari ajaran mistik dari leluhur mereka yang telah berusia 2.000, 3.000, atau 6.000 tahun.” Lalu bagaimana kondisi “pipanya” dalam kurun waktu ribuan tahun itu? Siapa guru-guru yang membentuknya, guru-guru dan Guru Besar yang meneruskannya? Tidak ada yang mengetahuinya, mereka hanya mengenal dua, tiga atau empat guru, setelah itu tidak ada lagi.

Sebuah pohon yang tidak berakar tidak akan menghasilkan buah. Pohon yang perakarannya tidak kuat akan mudah diterpa angin karena pondasinya sangat lemah. Seorang guru tidak boleh “mencantelkan diri,” begitu saja tanpa orang-orang mengetahui siapa gurunya, siapa guru-guru sebelumnya sampai guru yang mendirikan jalur tersebut. Itulah sebabnya guru-guru Sufi merupakan guru-guru yang saling terhubung dan merupakan guru-guru terkuat di dunia, mereka mempunyai hubungan yang benar, mereka mengetahui para leluhur mereka. Jika anda tidak mengetahui leluhur anda, maka anda tidak akan terhubung ke mana-mana atau tidak mengetahui ke mana anda terhubung.

Dari Budha hingga sekarang, bisakah seseorang menghitung jumlah guru-gurunya? Atau dalam agama Hindu? Bagaimana dengan agama Sikh? Atau filosofi China? Jelaskan mengenai Silsilah guru-guru mereka, atau paling tidak sebutkan nama-nama mereka sejak 3.000 tahun yang lalu. Kami menginginkan mata rantai yang tidak terputus, tanpa ada satu yang hilang. Kalian tidak akan menemukan mata rantai seperti itu, bahkan dalam spiritualitas Kristen atau filosofi Yahudi, kita hanya bisa menemukannya dalam Sufisme. Dan tanpa mata rantai seperti itu kita tidak bisa pergi ke mana-mana,Karenanya setiap orang membutuhkan guru Sufi untuk mengantarkannya menuju tujuan masing-masing.

Ini adalah pengetahuan yang diambil dari hati Sayyidina Muhammad SAW dan dibawakan melalui Silsilah guru-guru tersebut. Anda tidak bisa menemukannya di buku apa pun.

Rasulullah SAW menerima tiga Atribut dari Allah SWT, yaitu: pertama, beliau dibersihkan dengan Air Kehidupan dan diberikan kehidupan yang abadi. Kedua, beliau menerima Cahaya Ilahi. Pada saat itu, sebagaima yang telah kami katakan, beliau mampu merasakan apa yang dirasakan oleh setiap orang dan berada dalam hati setiap orang. Itulah arti dari ayat, “Wa’lamuu anna fikum rasuulullah,” “Ketahuilah bahwa Rasulullah ada bersamamu, di antara kamu dan dalam dirimu” (al-Hujurat 7), karena beliau telah disandangkan dengan Cahaya Ilahi tersebut. Itulah sebabnya Rasulullah dapat mengetahui apa yang kita rasakan, bagaimana masa depan kita, apa yang kalian lakukan, dan apa yang akan terjadi baik di sini maupun di hari kemudian.

Yang ketiga, Rasulullah SAW menerima Kekuatan Ilahi dari Samudra Kekuatan Ilahi. Semua ini bersumber pada suatu pengetahuan tingkat tinggi dan harus dipahami dengan seksama. Itu adalah atribut dari “Bahrul Qudra,” Samudra Kekuatan, yang pernah diminta oleh Nabi Musa u namun tidak diberikan oleh Allah. Nabi Musa AS meminta agar Allah SWT memberinya kekuatan dari Samudra Kekuatan agar bisa berkata kepada sesuatu, “Jadilah!” dan jadilah dia, Allah I berkata, “Tidak, lihatlah gunung itu, Aku akan memberikan cahaya kepada gunung itu. Jika gunung itu tetap berdiri di tempatnya, engkau akan diberikan kekuatan itu, tetapi jika gunung itu melebur atau hancur, engkau tidak bisa menerima kekuatan itu, karena engkau pun akan hancur.” Dan ketika Allah SWT mengirimkan cahaya ke gunung itu, gunung itu menjadi hancur lebur, Nabi Musa AS pun jatuh pingsan (al-A’raf 143). Itulah sebabnya Allah I mengatakan bahwa kekuatan itu bukan untuknya melainkan untuk Rasul terakhir.

Allah SWT telah memberi Rasulullah SAW Samudra Kekuatan itu sehingga beliau bisa mengucapkan “Jadilah!” Maka jadilah dia—tanpa perlu meminta izin kepada Allah SWT karena beliau telah berenang dalam Samudra Kekuatan itu. Rasulullah SAW bersabda, “Maa shabballahu fii shadrii syay-an ilaa wa shababtuhu fi shadri Abii Bakri,” “Apa pun yang Allah berikan ke dalam hatiku, telah kuberikan pula ke dalam hati Abu Bakar Ash-Shiddiq RA” (Maybudi, Razi, Ajluni, Suyuti), kemudian Abu Bakar As-siddiq menyerahkan semuanya kepada Salman al-Farisi , Salman kepada Qasim , Qasim kepada Imam Jakfar Saddik seterusnya pada Abu Yazid Al Bisthami sampai kepada Syekh Bahauddin Naqsyabandy dan sampai sekarang kepada Guru kita. Inilah yang dinamakan Silsilah.

Bagi seorang Sufi tidak mempunyai jarak dengan nabi Muhammad walau dipisahkan sambung menyambung dengan 36 Ahli Silsilah kerena setiap Ahli Silsilah itu sesungguhnya Rohani mereka bersatu dengan Rohani Rasulullah SAW dan sudah pasti bergabung dengan Allah SWT. Muhammad bin Abdillah selaku manusia telah wafat meninggalkan kita 1400 tahun yang lalu, akan tetapi Nur Muhammad akan tetap abadi sepanjang zaman.

Saidi Syekh Muhammad Hasyim Al-Khalidi (Ahli Silsilah ke-34) pernah menjelaskan dalam pantunnya :

Bukan Marabah Makan Padi, Marabah makan buah sikaduduk

Bukan di Mekkah tempat nabi, Nabi beserta kita duduk

Begitu dekatnya, begitu akrab dan mesranya para sufi merasakan hubungannya dengan Rasulullah dan Allah SWT

Jangan berpikir bahwa Allah menciptakan makhluk-Nya dan meninggalkannya begitu saja. Allah akan menyandangkan para Wali-Nya dan menyandangkan Rasulullah dengan Atribut dan Cahaya-Nya untuk menghindarkan orang dari penderitaan dan dosa menuju maqam yang tinggi di hari kemudian.

Ketika Salman al-Farisi RA, salah satu Wali terbesar yang muncul setelah Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq dan berasal dari Persia, mengetahui dari buku yang telah dibacanya dan melalui suatu tanda di luar kebiasaan yang muncul di gugusan bintang, yang menandakan bahwa Rasul terakhir akan muncul. Beliau tahu bahwa akan terjadi suatu peristiwa besar di dunia ini. Untuk pergi ke Mekkah, beliau menjual dirinya sebagai budak kepada beberapa orang yang pergi ke Mekkah, dan beliau mengiringi unta milik orang yang membelinya sepanjang 5.000 mil dari Persia ke Mekkah untuk bertemu Rasulullah SAW. Sekarang kita malah enggan untuk menempuh 20 atau 40 mil dengan kendaraan, dan mengatakan bahwa itu terlalu jauh. Lihatlah perjalanan para Wali yang sangat panjang dan jauh untuk bertemu dengan Rasulullah SAW

Kepada Para Wali diberikan Ilmu yang Maha Luas tidak akan habis diminum oleh Milyaran orang, kepada para Ahli Silsilah (Maha Guru) dititipkan Nur Muhammad sebagai faktor tak terhingga untuk menyelamatkan ummat manusia dari kehancuran. Abu Hurairah dalam hadits, “Shabba Rasulullah fii qalbi wi’aanaini fa ammaa ahaduhumaa fa batsats-tuhu bii khalqi wa ammal akhara law batsats-tuhu laquthi’a hadzal bul’uum,” “Rasulullah telah meletakkan dua jenis ilmu pengetahuan dalam hatiku. Satu pengetahuan telah kusebarkan kepada orang-orang, tetapi bila pengetahuan yang lainnya kukatakan, mereka akan memotong leherku” (Bukhari).

Allah membasuh hati Rasulullah dengan “Bismillah al-‘azhim,” Nama yang Terbesar. Sampai sekarang setiap Wali mencoba untuk mengetahui Nama Allah yang Terbesar, tetapi tidak ada yang mengetahuinya, karena rahasia itu belum dibukakan kepada seseorang, kecuali Rasulullah endiri yang telah menerima rahasia tersebut di dalam hatinya. Semua sekat dihilangkan dari hati Rasulullah tatkala Allah membasuh hatinya dengan air sungai Khawtsar, sebuah sungai di Surga yang diberikan kepada Rasulullah SAW manakala Allah SWT berfirman, “Innaa a’thaynaakal Khawtsar” (al-Khawtsar 1). Jika seseorang mandi di dalamnya, hatinya tidak akan pernah mati. Inilah sebabnya Rasulullah e bersabda, “Ana hayyun thariyyun fii qabri,” “Aku hidup dan tetap segar dalam kuburku” (Suyuti).

Ketika beliau baru berusia 1 jam, Rasulullah SAW bertanya kepada Allah SWT seolah-oleh beliau melihat-Nya, “Wahai Tuhanku, bagaimana dengan ummatku? Apakah Engkau akan membasuh ummatku dengan air dari sungai ini? Jika tidak, aku tidak mau dibasuh sendiri. Aku harus bersama ummatku, aku tidak bisa meninggalkan mereka.” Menurut Rasulullah SAW, ketika beliau meminta hal ini kepada Allah, Allah membasuh seluruh ummatnya dengan air dari Sungai Kehidupan itu. Allah I membasuh dan membersihkan hati mereka sampai menjadi bersih dan transparan seperti yang dimiliki Rasulullah, kemudian Allah menyerahkan mereka kepadanya, “Aku menyerahkan ummatmu dalam keadaaan bersih, suci, lemah lembut, pemurah, rendah hati, saling mencintai dan menghormati sesamanya. Apakah engkau menerimanya?” Rasulullah yang melihat mereka semua dalam keadaan bersih dan suci lalu berkata, “Aku menerimanya.” Ketika beliau mengatakan akan membawa mereka, Allah menunjukkan kepadanya bagaimana mereka akan membuat banyak dosa ketika diturunkan ke dunia ini. Rasulullah bersabda, “Wahai Tuhanku, apa yang telah Kau lakukan?” Allah menjawab, “Lupakan saja, cahaya tidak akan musnah dari dalam hati mereka. Mereka akan menutupi cahaya itu dengan kegelapan, tetapi itu akan seperti lap, dan Aku akan memberimu Awliya yang akan menjadi pembantumu agar mereka dapat membersihkan dan mengkilapkan hati mereka.”

Setelah Rasulullah menerima ummatnya dengan cahaya mereka, dan setelah Allah menunjukkan dosa-dosa yang akan mereka lakukan, Rasulullah meminta beberapa pembantu. Dengan segera Allah memberinya 7.007 Wali Naqsybandi untuk membantu beliau membersihkan ummatnya. Di antara mereka terdapat 313 Wali yang tingkatannya tinggi. Dan di antara mereka terdapat 36 Guru Besar dari Ahli Silsilah, jalan kita menuju Rasulullah SAW. Mereka hidup disetiap zaman apabila satu orang berlindung kehadirat Allah SWT maka akan digantikan oleh penerusnya sehingga seluruh Ilmu Rasulullah tersampaikan kepada ummatnya walau terbentang jarak ribuan tahun. Ketigapuluh Enam Guru Besar mencoba melakukan yang terbaik untuk membersihkan setiap orang dari dosa-dosanya melalui cahaya yang telah diberikan Allah ke dalam hati mereka. Beruntunglah bahwa kita berada di tangan salah satu Guru Besar tersebut—Guru Besar terakhir dalam silsilah ini, Maha Guru yang ketigapuluh Enam yang sangat Keramat.