Saturday, July 13, 2013

SURAT AL-WAQIAH

TATA CARA MENGAMALKAN SURAT AL WAQIAH

Surat Al Waqiah adalah salah satu surat yang penuh dengan fadhilah dan keberkahan. Surah Al-Waqi'ah adalah surah yang ke-56 dalam Al-Quran, terletak pada juz ke 27 dan terdiri dari 96 ayat. Surat yang diturunkan setelah Surah Taahaa ini dinamakan dengan Al-Waaqi'ah (Hari Kiamat), diambil dari perkataan Al-Waaqi'ah yang terdapat pada ayat pertama. Surat ini banyak menceritakan tentang perihal hari kiamat dan bagaimana nanti pembagian umat di hari tersebut. Akan tetapi surat ini banyak memiliki fadhilah terutama dalam hal rezeki.

Berikut beberapa riwayat fadhilah dari surat waqiah
Sabda Rasulullah SAW:
1. "Surah al-Waqiah adalah surah kekayaan. Hendaklah kamu membacanya dan ajarkanlah kepada anak-anak kamu." (Riwayat Ibn Mardawaih daripada Anas: Kasyf al-Khafa').
"Sesiapa yang membaca surah al-Waqiah pada setiap malam ia tidak akan ditimpa kefakiran." (Riwayat daripada Ibn Mas'ud: al-Azkar, al-Jami al-Soghir).
"Ajarkanlah surah Al-Waqi'ah kepada isteri-isterimu. Kerana sesungguhnya ia adalah surah Kekayaan."(Hadis riwayat Ibnu Ady)
Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) berkata: “Barangsiapa yang membaca surat Al-Waqi’ah pada malam Jum’at, ia akan dicintai oleh Allah, dicintai oleh manusia, tidak melihat kesengsaraan, kefakiran, kebutuhan, dan penyakit dunia; surat ini adalah bagian dari sahabat Amirul Mukimin (sa) yang bagi beliau memiliki keistimewaan yang tidak tertandingi oleh yang lain.” (Tafsir Nur Ats-Tsaqalayn 5/203).
Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) berkata: “Barangsiapa yang merindukan surga dan sifatnya, maka bacalah surat Al-Waqi’ah; dan barangsiapa yang ingin melihat sifat neraka, maka bacalah surat As-Sajadah.”(Tsawabul A’mal, hlm 117).
Imam Muhammad Al-Baqir (sa) berkata: “Barangsiapa yang membaca surat Al-Waqi’ah sebelum tidur, ia akan berjumpa dengan Allah dalam keadaan wajahnya seperti bulan purnama.” (Tsawabul A’mal, halaman 117).
Ubay bin Ka’b berkata bahwa Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa yang membaca surat Al-Waqi’ah, ia akan dicatat tidak tergolong pada orang-orang yang lalai.” (Tafsir Nur Ats-Tsaqalayn 5/203).
Abdullah bin Mas’ud berkata bahwa Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa yang membaca surat Al-Waqi’ah, ia tidak akan tertimpa oleh kefakiran selamanya.” (Tafsir Nur Ats-Tsaqalayn 5/203).
Imam Baihaqi meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud berkata,”Aku mendengar Rasulullah saw bersabda,”Barangsiapa yang membaca surat al Waqi’ah setiap malam maka dirinya tidak akan ditimpa kemiskinan.”
Ibnu Katsir didalam mengawali penafsirannya tentang surat al Waqi’ah mengatakan bahwa Abu Ishaq mengatakan dari Ikrimah dari Ibnu Abbas berkata : Abu Bakar berkata,”Wahai Rasulullah saw tampak dirimu telah beruban.” Beliau bersabda,”Yang (membuatku) beruban adalah surat Huud, al Waqi’ah, al Mursalat, (An Naba’, pen) dan Diriwayatkan oleh Tirmidzi dan dia berkata : ia adalah hasan ghorib.
Beliau mengatakan bahwa Al Hafizh Ibnu ‘Asakir didalam menerjemahkan Abdullah bin Mas’ud dengan sanadnya kepada Amr bin ar Robi’ bin Thariq al Mishriy : as Surriy bin Yahya asy Syaibaniy bercerita kepada kami dari Syuja’ dari Abu Zhobiyah berkata ketika Abdullah (bin Mas’ud) menderita sakit, ia dijenguk oleh Utsman bin ‘Affan dan bertanya,”Apa yang kau rasakan?” Abdullah berkata,”Dosa-dosaku.” Utsman bertanya,”Apa yang engkau inginkan?” Abdullah menjawab,”Rahmat Tuhanku.” Utsman berkata,”Apakah aku datangkan dokter untukmu.” Abdullah menjawab,”Dokter membuatku sakit.” Utsman berkata,”Apakah aku datangkan kepadamu pemberian?” Abdullah menjawab,”Aku tidak membutuhkannya.” Utsman berkata,”(Mungkin) untuk putri-putrimu sepeningalmu.” Abdullah menjawab,”Apakah engkau mengkhawairkan kemiskinan menimpa putri-putriku? Sesungguhnya aku telah memerintahkan putri-putriku membaca surat al Waqi’ah setiap malam. Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah saw bersabda,”Barangsiapa yang membaca surat al Waqi’ah setiap malam maka dirinya tidak akan ditimpa kemiskinan selama-lamanya.”
Lalu Ibnu ‘Asakir mengatakan : begitulah dia mengatakan. Yang betul : dari Syuja’, sebagaimana diriwayatkan oleh Abdullah bin Wahab dari Surriy. Abdullah bin Wahab berkata bahwa as Surriy bin Yahya telah memberitahuku bahwa Syuja’ telah bercerita kepadanya dari Abi Zhobiyah dari Abdullah bin Mas’ud dia berkata,”Aku mendengar Rasulullah saw bersabda,”Barangsiapa yang membaca surat al Waqi’ah setiap malam maka dirinya tidak akan ditimpa kemiskinan selama-lamanya.” Dan Abu Zhobiyah pun tidak pernah meninggalkan dari membacanya.
Demikian pula Abu Ya’la meriwayatkan dari Ishaq bin Ibrahim dari Muhammad bin Munib dari as Surriy bin Yahya dari Syuja’ dari Abi Zhobiyah dari Ibnu Mas’ud. Kemudian Ishaq bin Abi Israil dari Muhammad dari Munib al ‘Adaniy dari as Surriy bin Yahya dari Abi Zhobiyah dari Ibnu Mas’ud bahwasanya Rasulullah saw bersabda,”Barangsiapa membaca surat al Waqi’ah setiap malam maka dirinya tidak akan ditimpa kemiskinan selama-lamanya.”, didalam sanadnya tidak disebutkan Syuja’. Ibnu Mas’ud mengatakan,”Sungguh aku telah memerintahkan putriku membacanya setiap malam.”
Ibnu ‘Asakir juga meriwayatkan dari hadits Hajjaj bin Nashir dan Utsman bin al Yaman dari as Sirriy bin Yahya dari Syuja’ dari Abu Fathimah berkata,”Abdullah mengalami sakit lalu Utsman bin ‘Affan datang mengunjunginya dan disebutkan hadits panjang ini. Utsman bin al Yaman berkata,”Abu Fathimah adalah hamba sahaya dari Ali bin Abu Thalib. (Tafsir al Quranil Azhim juz VII hal 512 – 513)
Begitupula dengan hadits yang diriwayatkan oleh ad Dailamiy dari Anas bahwa Rasulullah saw bersabda,”Surat al Waqi’ah adalah surat kekayaan maka bacalah dan ajarkanlah ia kepada anak-anakmu.”

MANFAAT WIRID AL WAQI’AH:
1. Barangsiapa membaca surat Al-Waqi’ah pada setiap hari dan malam sebanyak 40 kali, selama 40 hari pula, maka Allah rezekinya mengalir terus dari berbagai penjuru.
2. Berpuasa selama seminggu dimulai pada hari Jumat. Setiap selesai sholat fardhu bacalah Surat Al-Waqi’ah ini sebanyak 25 kali hingga sampai malam Jumaat berikutnya. Pada malam Jumaat berikutnya, selepas sholat Maghrib bacalah surah ini sebanyak 25 kali, selepas sholat Isya’ bacalah surah ini 125 kali diikuti dengan sholawat Nabi 1000 kali. Setelah selesai amalan, hendaklah memperbanyakkan sedekah. Kemudian jadikan surah ini amalan rutin pada waktu pagi dan petang. Insya’Allah rezeki akan mengalir seperti air bah.
3. Berpuasa selama 7 hari, di mulai pada hari Jumat berakhir pada hari Kamis. Puasanya “tidak memakan sesuatu yang bernyawa / tidak makan ikan, daging, segala heiwan, hanya makan sayur-sayuran saja. Dalam 7 hari itu, sesudah solat fardhu, membaca surat Al-Waqi’ah sebanyak 25 kali. Apabila bacaan tersebut di mulai setelah sholat fardhu Subuh pada hari Jumaat pertama, maka diakhirilah pembacaan Al-Waqi’ah itu pada setelah fardhu Isya’ pada Jumaat berikutnya. Pada malam Jumat terakhir ini hendaklah membaca surah Al-Waqi’ah sebanyak 125 kali kemudian shlawat 1000 kali. Insya’Allah tidak akan mengalami kemiskinan seumur hidup.
4. Bila orang membiasakan membaca surat ini setiap malam satu kali, maka dia dijauhkan dari kemiskinan. Bila di baca 14 kali setiap selesai solat Asar, maka akan memperoleh kekayaan yang berlimpah ruah. Jika di baca surah ini sebanyak 41 kali segala hajat yang berkaitan dengan rezeki akan terkabul.
5. Surat ini jika dibaca di sisi orang yang sedang sekaratul maut, insyaAllah akan mempermudah roh keluar dari jasadnya. Jika dibaca di sisi orang sakit, diringankan sakitnya. Jika di tulis, kemudian dipakaikan kepada orang yang hendak bersalin, InsyaAllah segera melahirkan dengan mudah.
6. Jika membaca surat ini sebanyak 3 kali selepas solat subuh dan 3 kali selepas sholat Isya’. Insya Allah dalam waktu setahun ia akan di jadikan seorang hartawan yang dermawan.
Adapun doa setelah membaca Surat Al-Waqi'ah lafaznya seperti dibawah ini:

.Bismillahir rahmanir rahiim
Allahumma rabbanaa anzil 'alainaa maa 'idatam minas samaai takuunu lanaa 'iidal li awwalinaa
wa aakhirinna wa aayatam minka warzuqnaa wa anta khairur raaziqiin.
Allahumma inkaana rizqunaa fil ardhi fa akhrijhu wa inkaana rizqunaa fis samaai fa anzilhu
wa inkaana rizqunaa fil maai wal bahri fa athli'hu wa inkaana rizqunaa ba'iidan faqarribhu
wa inkaana rizqunaa qaliilan fa aktsirhu wa inkaana rizqunaa a'asiran fayassirhu lanaa wal tanqulnaa ilaihi haitsu
maakaana bifadh-lika wajuudika wakaramika birahmatika yaa arhamar rahimin.
Artinya:
"Dengan menyebut nama Allah yang maha Pemurah dan Pengasih"
"Ya Allah, turunkanlah untuk kami hidangan dari langit yang akan menjadi hari raya bagi kami, yaitu;
bagi orang-orang yang bersama kami, dan yang hidup sesudah kami, serta menjadi bukti kekuasaan-Mu, berilah rezeki
bagi kami, karena Engkau sebaik-baik pemberi rezeki."
"Ya Allah, jika rezeki untuk kami berada dilangit, segeralah diturunkan, jika berada di bumi, segeralah dikeluarkan,
jika berada di dalam air dan lautan segeralah ditampakkan padaku, jika rezeki untuk kami berada di tempat yang jauh,
segeralah didekatkan padaku, jika keadaannya hanya kecil/sedikit, maka tambahkanlah yang besar/banyak, dan jika jalannya
sulit sampai pada kami, maka buatlah kemudahan bagi kami, serta pindahkanlah rezeki itu ke tempat kami (dimana kami berada),
dengan fadhal, belas kasihan serta kemurahan Engkau, dan dengan rahmat Engkau hai Zat Yang paling belas-kasihan.

RAHASIA MANUSIA YG TIDAK TAHU




RAHASIA YANG MANUSIA TIDAK TAHU



Apabila seseorang itu jiwanya tidak tergugat oleh harta, tidak tergugat oleh derita, tidak tergugat oleh orang kata, dia termasuk manusia luar biasa, kerana jiwanya dengan Tuhan saja

Banyak perkara yang manusia ketahui tapi tidak tahu rahsianya di sebaliknya. Antara perkara-perkara yang manusia tahu tetapi mereka tidak tahu rahsianya ialah…


1. Di antara cara mendidik manusia menjadi baik ialah dengan usaha menyakitkan nafsunya.

2. Jika seorang muslim mati bersama sakit zahirnya, maka itu adalah penghapusan dosanya atau dia mendapat darjat di dalam Syurga. Sebaliknya kalau dia mati bersama penyakit batinnya, dia akan ke Neraka.

3. Manusia yang berpenyakit lahir (fizikalnya), sakitnya boleh merosakkan anggotanya sahaja tetapi manusia yang berpenyakit batin boleh merosakkan semua yang ada di dunia. Banyak perkara yang akan dirosakkannya.

4. Sesuatu perkara atau benda yang kita suka, sangat sukar untuk kita tadbir dan mengurusnya. Biasanya selalu sahaja kita melakukan kesalahan di dalam mengurusnya.

5. Banyak orang boleh memperkatakan penyakit batin tetapi gagal mengesannya. Lantaran itulah ada orang waktu menceritakan penyakit sombong, pada masa yang sama dia sedang memakai sifat itu.

6. Mendidik manusia secara tidak formal dan dari sikap diri kita lebih berkesan daripada sekadar memberi ilmu dan teorinya.

7. Ramai manusia dirosakkan oleh makhluk yang paling bodoh, yang tiada akal dan tidak bersekolah iaitu duit dan harta. Bahkan orang yang paling pandai seperti profesor pun dirosakkannya.

8. Bangsa yang mempunyai sifat taqwa dan ilmu akan menguasai manusia lain. Begitu pun banyak bangsa tidak boleh menempuh jalan ini. Maka mereka menguasai bangsa lain dengan kekuatan lahirnya tetapi kerosakannya terlalu banyak.

9. Orang yang memiliki dunia selalunya jiwanya tidak tenang. Orang yang memiliki Allah, jiwanya tenang. Justeru itu orang yang memiliki dunia ada yang membunuh diri sendiri. Ini tidak berlaku kepada orang yang memiliki Tuhan.

10. Orang yang membunuh dirinya sendiri lebih besar dosanya daripada orang yang membunuh orang lain.

11. Kehidupan manusia di dunia ini sebenarnya mudah diselesaikan jika tahu rahsianya. Iaitu dengan iman dan taqwa. Nanti akan berlakulah, pemimpin menaungi dan menegakkan keadilan, orang kaya akan pemurah, orang miskin sabar, orang berilmu memberi ilmu, ulama-ulama memberi nasihat dan mendidik dan pemuda-pemudi memberi tenaga. Semua manusia bermaruah dan bersifat malu. Setiap orang akan mengutamakan orang lain. Anak yang kecil ditunjukkan kasih sayang, anak yang masih bersekolah jangan tunjuk sayang atau benci manakala terhadap anak yang sudah dewasa, tunjukkan kemesraan dan selalu dijadikan kawan berbincang.

12. Seseorang manusia itu akan dikasihi atau diberi simpati kalau dia kenal dirinya dan pandai meletakkan diri pada tempatnya.

13. Telah menjadi tabiat semula jadi manusia setiap orang sukakan keamanan, kasih sayang, simpati, dibantu, dihormati,dan tidak diganggu. Namun adakalanya manusia itu lupa, bahkan lumrah berlaku perkara yang dia tidak suka itu disebabkan oleh dirinya sama ada secara langsung mahupun tidak. Sebagai contoh, apabila seseorang itu zalim, orang lain akan berdendam dan membuat kacau hingga hilang keamanan. Bila tiada keamanan, penzalim juga turut susah dan terancam. Bila orang kaya bakhil, banyak orang dengki dan sakit hati. Risikonya dia juga ikut sama menanggung. Bila seseorang itu sombong, orang benci. Jika berlaku sesuatu keadaan yang menyusahkannya, orang tidak akan ambil peduli dan orang tidak bersimpati. Jadi, sikap kita itulah adakalanya mengundang bala atau kesusahan. Bolehlah kiaskan dengan sikap-sikap yang lain.

RAHASIA ALAM GAIB

.RAHASIA ILMU GHAIB

Salam Sejahterah
Segala Puja dan Pujian hanya kita haturkan keharidat Allah SWT yang telah menjadikan
Manusia sempurna dengan akal dan semua petunjuk jalan menuju Nya.
Puji syukur kita panjatkan Pada Allah,Tuhan YME yang telah mengizinkan kita
mengumpulkan dan merangkum sebagain besar materi keilmuan supranatural yang
telah di postingkan oleh para rekan-rekan di Kaskus Forum Supranatural.
Kita ketahui bahwa dalam Forum Supranatural terdapat sangat banyak sekali ragam
keilmuan baik dari segi fungsi maupun dari segi sumber keilmuan tersebut di dapat.
Sehingga dalam Rangkuman Buku Besar ini, kita coba mengelompokannya sesuai fungsi
dan sumber keilmuan tersebut secara sederhana dan mudah dipahami.
Demi nyamannya dan keberhasilan dalam pengamalan apa yang ada didalam
Rangkuman Buku Besar ini, kami sangat sarankan bagi calon praktisi untuk
memperhatikan semua tata cara yang telah di cantumkan dengan hati-hati serta apabila
terdapat keraguan dalam pemahamannya, dapat menggunakan menanyakan langsung
dengan yang meng-ijazahkan, baik menggunakan fasilitas Privat Massage maupun
membuka thread baru dalam Forum Supranatural.
Selain itu, dikarenakan banyaknya keilmuan yang telah di postingkan di Forum
Supranatural tersebut serta kelemahan kita selaku mahluk, sehingga memungkinkan
ketidaksempurnaan dalam merangkumkan semua materi yang ada serta memungkinkan
adanya materi yang terlewatkan dalam rangkuman ini. Hal tersebut sangat kita sadari
sehingga kita sangat harapkan masukan saran dan kritik yang membangun sehingga
dapat lebih menyempurnakan pengerjaan selanjutnya.
Akhirnya, kita ucapkan banyak terima kasih dan penghargaan yang tak terhingga kepada
teman-teman kaukuser yang telah dengan rela hati dan ikhlas dalam menyumbangkan
dan meng-ijazahkan pengetahuannya dalam Forum Supranatural ini.
Semoga apa yang kita lakukan mendapat Redho Allah SWT dan rangkuman ini dapat di
perguna bagi kita semua. sehingga kita mendapatkan suatu pengalaman yang berharga
dapat “menyicipi” manisnya ilmu.
Hakekat dan sumber kekuatan ilmu gaib
Di dunia ini, ada orang-orang diberi kelebihan oleh Tuhan hingga punya kemampaun
supranatural meskipun dia tidak pernah belajar. Ada pula orang yang diberi kemudahan
untuk mempelajari berbagai ilmu sehingga ia bisa punya banyak kemampuan dalam
waktu singkat. Ada juga orang yang kesulitan dalam mempelajari ilmu, padahal dia
sudah tekun berusaha. Jika Anda termasuk golongan yang terakhir, maka jangan pesimis
dulu. Masih banyak jalan untuk membuka pintu keilmuan Anda.
Banyak orang belajar ilmu gaib selama bertahun-tahun, tetapi tidak ada hasil yang
memuaskan. Kegagalan itu bisa saja terjadi karena ilmu yang dipelajari sudah tidak asli
tata-caranya atau mempelajari ilmu palsu. Banyaknya Ilmu palsu dan ilmu yang tidak asli
tradisinya biasanya adalah ulah oknum paranormal yang tidak bertanggung jawab.
Jangan mudah percaya kepada orang yang katanya bisa membuka aura, cakra atau hijab
gaib sehingga orang bisa dengan cepat menguasai ilmu gaib dan bisa masuk alam gaib.
Sesungguhnya hati Anda hanya bisa terbuka oleh usaha Anda sendiri. Orang lain hanya
bisa membantu mengarahkan dan memberi tahu caranya.
Sebab kegagalan lainnya adalah ketidaktahuan akan hakekat ilmu yang dipelajarinya.
Orang yang belajar ilmu gaib seharusnya tahu "dari mana sumber kekuatan ilmu gaib
dan bagaimana proses atau cara kerja ilmu gaib", atau mungkin dia berguru pada pada
paranormal palsu yang ilmunya pastinya palsu.
Oleh karena itu saya menyusun "Pembuka Ilmu Gaib" yang mengupas dua hal pokok
yang seharusnya menjadi pengetahuan awal bagi Anda yang ingin belajar ilmu gaib.
Pengetahuan ini akan sangat membantu dalam membuka pintu kekuatan gaib di tubuh.
Sumber Kemampuan Supranatural
Aliran hikmah dan kejawen sepakat bahwa sumber kekuatan ilmu gaib adalah khodam.
Namun kedua aliran tersebut berbeda pendapat mengenai pengertian khodam. Aliran
kejawen beranggapan bahwa khodam atau prewangan adalah jenis makhluk tertentu
yang memang diciptakan Tuhan untuk membantu manusia. Menurut faham kejawen,
khodam bukanlah jin dan bukanlah malaikat, melainkan makhluk gaib khusus yang
berfungsi menimbulkan kekuatan supranatural pada manusia sakti atau benda bertuah.
Sedangkan aliran hikmah yakin bahwa "khodam" sebetulnya hanyalah julukan bagi Jin
atau Malaikat yang membantu manusia. Pendapat ini setidaknya bedasarkan dua alasan
sebagai berikut: Pertama, Khodam dalam bahasa Arab berarti pembantu, penjaga atau
pengawal yang selalu mengikuti. Dalam bahasa arab pembantu rumah tangga, sopir,
tukang kebun dan body guard juga bisa disebut sebagai khodam.
Kedua, Bukankah dalam Al-Quran sudah diterangkan bahwa Allah hanya menciptakan
hambanya dalam tiga bentuk saja, yaitu: Malaikat, Manusia dan Jin. Kalaupun ada yang
istilah "khodam", maka tidak lain hanyalah nama alias untuk ketiga jenis makhluk
tersebut. Seperti halnya "setan", sebetulnya bukanlah jenis mahluk, melainkan hanya
julukan bagi jin dan manusia yang suka berbuat kejahatan. Saya pribadi lebih meyakini
pendapat aliran hikmah karena mempunyai alasan yang kuat.
Keajaiban yang ditimbulkan oleh ilmu gaib berbeda dengan mukzijat. Perbedaannya
terletak pada prosesnya dan siapa yang menerimanya. Mukzijat hanya diterima oleh
nabi/rasul dan prosesnya tanpa perantara, tidak ada perantara malaikat/jin yang
menyebabkan nabi Musa bisa membelah lautan dan tongkatnya menjadi ular. Kejadian
mukjizat langsung dari perintah Allah "kun fa yakun!". Mukjizat tidak bisa dipelajari atau
diusahakan oleh manusia, termasuk nabi, nabi hanya menerima dan tidak berkuasa
menolak kekuasaan Allah.
Sedangkan keajaiban yang ditimbulkan ilmu gaib sebenarnya adalah fungsi khodam yang
sudah menyatu dengan pemilik ilmu gaib. Misalnya orang yang kulitnya kebal senjata
tajam, sebetulnya ...
Next part.kulitnya diselimuti enegi gaib oleh khodam sehingga senjata yang
hendak menyentuh kulit terhalang dan tidak bisa menembus. Proses ini serupa dengan
atmosfer bumi yang ketika ada meteor jauh maka akan mengalami gesekan hingga
meteor terbakar dan habis, dengan begitu mahluk bumi menjadi aman dari meteor yang
berjatuhan.
Ilmu Gaib bisa dipelajari atau diusahakan. Usaha untuk memperoleh ilmu gaib bisa
dengan puasa, wirid mantra, meditasi, pengisian (bila ada guru) dan lain-lain. Khodam
yang akan menjadi ruh ilmu gaib pun berbeda-beda tergantung jenis ilmu dan siapa
yang mengamalkan ilmu tersebut. Untuk amalan yang murni bersumber dari Al-Quran,
IsyaAllah, khodamnya adalah malaikat. Ilmu Kejawen, kebanyakan berkhodam Jin
muslim atau jin non-muslim tergantung siapa yang mengamalkannya dan niat memiliki
ilmu tersebut.
Sifat Khodam Ilmu Gaib
Saya yakin, sebagian dari Anda menjadi takut mempelajari ilmu gaib setelah tahu bahwa
kekuatannya sebetulnya berasal dari makhluk gaib (khodam). Ketahuilah bahwa jin yang
menjadi khodam suatu ilmu berbeda sifatnya dengan jin pengganggu. Khodam adalah
jin yang bersifat pasif. Dia tidak bisa mempengaruhi pikiran Anda dan tidak bisa
menampakan diri.
Meskipun khodam selalu mengikuti Anda, dia tidak akan berkomentar apapun tentang
tindakan Anda. Khodam juga tidak bisa berkomunikasi dengan Anda, kecuali Anda
menguasai ilmu untuk berkomunikasi dengan khodam. Jadi intinya, meskipun ratusan
khodam mengikuti Anda, Anda tetaplah diri Anda yang merdeka, boleh melakukan apa
saja sesuka hati. Anda tidak perlu takut dengan khodam karena khodam sepenuhnya
hanya akan membantu Anda tanpa minta imblan dan tidak mengganggu.
Mengapa harus puasa dan baca mantra?
Hakekat puasa dalam ilmu gaib adalah untuk mempermudah penyatuan khodam
dengan pemilik ilmu. Bukan berarti tanpa puasa ilmu tidak bisa dikuasai. Jika ada guru
sakti yang bersedia mengisi Anda, maka Anda langsung bisa memiliki ilmu tanpa melelui
proses puasa/ritual. Kekuatan hasil pengisian tergantung seberapa besar kesaktian guru
yang mengisi Anda. Sedangkan jika Anda puasa/ritual sendiri, maka kekuatan yang
dihasilkan tergantung penghayatan dan kesungguhan Anda dalam menjalani
puasa/ritual.
Mantra adalah sarana untuk memanggil khodam. Saat Anda membaca mantra,
beberapa khodam yang sifatnya sama dengan mantra yang Anda baca langsung datang
mengitari Anda. Khodam-khodam itu tidak bisa lagsung bersatu dengan tubuh Anda
karena berlainan materi penyusun tubuh. Jin terbuat dari api (panas) dan Anda terbuat
dari tanah (netral), maka agar mempermudah penyatuan khodam dengan diri Anda
anda harus mengosongkan perut hingga tubuh Anda lemah dan terasa panas.
Lemahnya tubuh Anda saat berpuasa juga mempermudah penyatuan khodam.
Logikanya, tubuh lemah adalah karena kekurangan energi, maka ada kesempatan bagi
khodam untuk mengisi kekurangan energi di tubuh Anda.
Ilmu yang sudah ada pada diri Anda bisa bertambah kuat dan juga bisa melemah
tergantung kerajinan Anda dalam merawat ilmu tersebut. Merawat ilmu sama artinya
dengan menjaga hubungan antara khodam dan Anda. Semakin kuat ikatan antara Anda
dan khodam, kekuatan ilmu Anda semakin kuat. Cara merawat suatu ilmu adalah
dengan membaca mantranya rutin pada waktu yang ditentukan. Semakin khusyuk dan
banyak wirid mantra maka semakin besar pula kekuatan ilmu Anda.
Bermula
( Ki Sawung ) Sebagai awal pengijazahan, dan untuk memulai segala bentuk amalan yg
berkaitan dengan "Ilmu Hikmah". Ini adalah "diantara" salah satu tata cara yang disebut
sebagai "Hadoroh" atau "Hadorotan"atau "Tawassulan". Yakni juga disebut sebagai
pembacaan hadiah Al Fatihah yang berguna untuk menyambung "Tali Ruhani" kepada
para Ahli Hikmah terdahulu, sehingga membuat amalan menjadi lebih terjaga,
bermakna,dan mustajab, dengan izin Allah.
Amalan ini biasanya dibaca ketika setelah sholat dan sebelum mengamalkan suatu
materi keilmuan
1.Hadiah Fatihah kepada Kanjeng Rasulullah SAW
Ila hadrotin nabiyyil mustofa sayidina wa maulana Muhammadin,... Al
Fatihah 1x.
2. Hadiah Fatihah kepada 4 malaikat, dan para malaikat penjaga
Wa ila hadroti malaikatil jibriil wa mika-il wa isrofil wa `izroil wal malaikatil
muqorrobin wal karubiyyin syai-u lillaahi lahumul fatihah,... Al Fatihah 1x
3. Hadiah Fatihah kepada 4 sahabat,
Wa ila hadroti sadatina khulafaur rosyidin, abi bakrin, wa umar, wa utsman, wa ali,syai-u
lillahi lahumul fatihah, ...Al Fatihah 1x
4. Hadiah Fatihah kepada para wali,
Wa ila hadroti quthbur robbani syaikh `abdul qodiril jailani , syaikh ahmad
bin `ali albuni, syaikh ahmad addrobi as syafi`i, syaikh tilmisani maghribi,
syeikh abi hasan as syadzili, al imam ghozali, wal masya-ikhina, wal waliyyina, syai-u
lillahi lahumul fatihah, ...Al Fatihah 1x
5. Hadiah fatihah kepada para guru2 pribadinya masing2,
wa ila hadroti ...... (sebut nama2 gurunya yg mengajarkan ilmu2 batin)
syai-u lillahi lahumul fatihah, ...Al Fatihah 1x
6. Hadiah Fatihah kepada Ibu Bapak, muslimin wal muslimat,
wa ila hadroti abi wa ummi, wal muslimiina wal muslimati, syai-u lillahi
lahumul fatihah, ...Al Fatihah 1x
7. Hadiah Fatihah kepada diri kita sendiri, dan kepada qorin
wa `ala nafsi (sebut namanya sendiri) wal qorini, wa sadulur papat lima pancer syai-u
lillahi lahumul fatihah, ... Al Fatihah 1x
8. Hadiah fatihah atas hajat pribadi,
wa ilal hajati... (sebut keinginannya) ...Al Fatihah 1x
9. Hadiah fatihah kepada pemegang "kunci hikmah"
- Bi mu`jizati sayidina khidir alaihis salam ,... Al Fatihah 1x
-Wa bibarokati sayidina khidir alaihis salam, ...Al Fatihah 1x
-Wa ila ruhi sayidina khidir alaihis salam, ...Al Fatihah 1x
Dilanjut dengan membaca "kunci hikmah"
- Astagfirullohal `azhiim 3x
- A`uzubillahimina syaithonir rojim 3x
- Bismillahirrahmanirrahim 3x
- Kalimat Syahadat 3x
- Solawat yg disukai 3x
- Inna lillahi wa inna ilaihi ro-jiun 3x
- La haula wala quwwata illa billahil `aliyyil `azhiim 3x
Dilanjut lagi membaca 4 Raja Quran
- Al Fatihah 1x
- Al Ikhlas 3x
- Al Falaq 1x
- An Nas 1x
- Dilanjut dengan membaca Tahlil, La ilaha illallah 21x/100x
* Berbagai Laku Prihatin Untuk Meningkatkan Derajat Ilmu.
( Vibel ) Ikhtiar ini harus dilihat secara murni sebagai satu upaya untuk meningkatkan
derajat ilmu dimana dengan laku prihatin ....yang mampu mempengaruhi jiwa akan
membuat seseorang menjadi lebih arif dalam mengendalikan emosi, mengurangi nafsu
serta memaksimalkan energi yang telah/akan dikuasainya, sehingga tubuh menjadilebih
peka terhadap sesuatu baik berupagetaran atau makna yang tersirat amat halus
sekalipun, laku ini bisa disesuaikan dengan hasrat yang muncul didalam hati.
Mungkin ketika kita mencoba suatu langkah, kita tidak akan tahu maknanya... namun
setelah selesai barulah kita tahu hikmahnya...
- MUTIH.
Dalam menjalani laku ini seorang harus mampu menahan lapar dan dahaga pada
siang hari, dan ketika malam tiba atau pagi sebelum mulai nampak sinar matahari
hanya diperbolehkan makan makanan yang serba putih.
Seperti. Air putih, Nasi putih.
Dalam kondisi demikian tubuh menjadi lemas dan perasaan raga kita semakin
ringan, hingga bisa dikatakan tekanan energi dalam tubuh setara dengan energi
gelombang jin sehingga wajar mereka yang mutih terkadang bisa melihat jin tanpa
disadarinya. orang yang menjalani mutih otomatis nafsu syahwatnya menurun.
- NGERUH.
Dalam tahap ini seseorang tidak boleh makan segala jenis makanan yang bernyawa,
sebab apapun yang memiliki nyawa mengandung nafsu sehingga apabila dimakan
akan mempengaruhi meningkatkan nafsu pemakannya.
Tujuan ngeruh adalah menghilangkan nafsu, makanan yang tidak boleh dimakan
selama ngeruh misalnya...
-Daging segala macam hewan.
-Telur.
-Ikan laut atau tawar.
-Bahan makanan yang mengandung daging.
- NGEBLENG.
Adalah menghentikan segala macam kebiasaan demi mencapai tingkat perenungan
yang tinggi, pelaku dari tahapan yang cukup berat ini harus berpantang..
-Makan. -Minum. - Tidur. - Keluar Rumah. - Bersenggama. -Menyalakan Api.
Namun jika mereka yang belum mampu sebaiknya laku ini disesuaikan dengan
kondisi fisik, sebab hitungan laku batin tidak hanya disesuaikan dengan ukuran phikis
saja tetapi juga pisik.
- JEJEG.
Jejeg bisa diartikan mempunyai makna LURUS/ tegak.
Lurus disini bermaksud sebagai penggambaran agar manusia yang menjalani laku ini
bisa menjadi manusia yang lurus lahir batinnya. pada tahapan ini pelaku tidak
diperbolehkan menekuk kakinya sepanjang hari kecuali saat buang hajat atau shalat.
- LELANA.
Lelaku ini dijalani dengan berjalan kaki mulai matahari terbenam hingga terbit
matahari, selama dalam perjalanan dianjurkan mengolah jiwa atau selalu intropeksi
diri.
Selama laku lelana kemungkinan akan menemui hal hal yang sangat jauh dari
jangkauan akal/ghaib. sehingga bisa diharapkan akan menambah
kekayaan/pengalaman batin.
* Nilai puasa 3 hari = puasa 40 hari
( Ki Sawung ) Dimulai dari :
1. Kamis wage, jumat kliwon, sabtu legi.
2. jumat pahing, sabtu pon, ahad wage.
3. sabtu kliwon, ahad legi, sabtu pahing.
4. selasa kliwon, rabu legi, kamis pahing.
5. rabu pon, kamis wage, jumat kliwon.
pilihlah salah satu point, dimana anda akan melaksanakan puasa dalam rangka ngelmu,
seperti kita ketahui, ada beberapa mantera atau ilmu, yang mensyaratkan untuk
dipuasakan selama 40 hari. para pujangga Jawa akhirnya menemukan dan memberikan
jalan pintas yang nilainya setara, dan dengan tidak mengurangi makna, yaitu puasa
ngelmu untuk 40 hari, bisa diringkas menjadi hanya 3 hari saja.
* Pengetahuan Tentang Keris
( Orgil300 ) Keris adalah sejenis pedang pendek yang berasal dari pulau Jawa, Indonesia.
Keris purba telah digunakan antara abad ke-9 dan 14. Selain digunakan sebagai senjata,
keris juga sering dianggap memiliki kekuatan supranatural. Keris terbagi menjadi tiga
bagian yaitu mata, hulu, dan sarung. Beberapa jenis keris memiliki mata pedang yang
berkelok-kelok. Senjata ini sering disebut-sebut dalam berbagai legenda tradisional,
seperti keris Mpu Gandring dalam legenda Ken Arok dan Ken Dedes.
Keris sendiri sebenarnya adalah senjata khas yang digunakan oleh daerah-daerah yang
memiliki rumpun Melayu atau bangsa Melayu. Pada saat ini, Keberadaan Keris sangat
umum dikenal di daerah Indonesia terutama di daerah pulau Jawa dan Sumatra,
Malaysia, Brunei, Thailand dan Filipina khususnya di daerah Filipina selatan (Pulau
Mindanao). Namun, bila dibandingkan dengan Indonesia dan Malaysia, keberadaan
keris dan pembuatnya di Filipina telah menjadi hal yang sangat langka dan bahkan
hampir punah.
Tata cara penggunaan keris juga berbeda di masing-masing daerah. Di daerah Jawa dan
Sunda misalnya, keris ditempatkan di pinggang bagian belakang. Sementara di Sumatra,
Malaysia, Brunei dan Filipina, keris ditempatkan di depan.
Sebenarnya keris sendiri memiliki berbagai macam bentuk, ada yang bermata berkelok
kelok (7, 9 bahkan 13), ada pula yang bermata lurus seperti di daerah Sumatera. Selain
itu masih ada lagi keris yang memliki kelok tunggal seperti halnya rencong di Aceh atau
Badik di Sulawesi.
Bagian-bagian keris
Sebagian ahli tosan aji mengelompokkan keris sebagai senjata tikam, sehingga bagian
utama dari sebilah keris adalah wilah (bilah) atau bahasa awamnya adalah seperti mata
pisau. Tetapi karena keris mempunyai kelengkapan lainnya, yaitu wrangka (sarung) dan
bagian pegangan keris atau ukiran, maka kesatuan terhadap seluruh kelengkapannya
disebut keris.
* Pegangan keris
Pegangan keris ini bermacam-macam motifnya , untuk keris Bali ada yang bentuknya
menyerupai patung dewa, patung pedande, patung raksaka, patung penari , pertapa,
hutan ,dan ada yang diukir dengan kinatah emas dan batu mulia .
Pegangan keris Sulawesi menggambarkan burung laut. Hal itu sebagai perlambang
terhadap sebagian profesi masyarakat Sulawesi yang merupakan pelaut, sedangkan
burung adalah lambang dunia atas keselamatan. Seperti juga motif kepala burung yang
digunakan pada keris Riau Lingga, dan untuk daerah-daerah lainnya sebagai pusat
pengembangan tosan aji seperti Aceh, Bangkinang (Riau) , Palembang, Sambas, Kutai,
Bugis, Luwu, Jawa, Madura dan Sulu, keris mempunyai ukiran dan perlambang yang
berbeda. Selain itu, materi yang dipergunakan pun berasal dari aneka bahan seperti
gading, tulang, logam, dan yang paling banyak yaitu kayu.
Untuk pegangan keris Jawa, secara garis besar terdiri dari sirah wingking ( kepala bagian
belakang ) , jiling, cigir, cetek, bathuk (kepala bagian depan) ,weteng dan bungkul.
* Wrangka atau Rangka
Wrangka, rangka atau sarung keris adalah bagian (kelengkapan) keris yang mempunyai
fungsi tertentu, khususnya dalam kehidupan sosial masyarakat Jawa, karena bagian.wrangka inilah yang secara langsung dilihat oleh umum . Wrangka yang mula-mula
(sebagian besar) dibuat dari bahan kayu (jati , cendana, timoho , kemuning, dll) ,
kemudian sesuai dengan perkembangan zaman maka terjadi perubahan fungsi wrangka
(sebagai pencerminan status sosial bagi penggunanya ). Kemudian bagian atasnya atau
ladrang-gayaman sering diganti dengan gading.
Secara garis besar terdapat dua macam wrangka, yaitu jenis wrangka ladrang yang
terdiri dari bagian-bagian : angkup, lata, janggut, gandek, godong (berbentuk seperti
daun), gandar, ri serta cangkring. Dan jenis lainnya adalah jenis wrangka gayaman
(gandon) yang bagian-bagiannya hampir sama dengan wrangka ladrang tetapi tidak
terdapat angkup, godong dan gandek.
Aturan pemakaian bentuk wrangka ini sudah ditentukan, walaupun tidak mutlak.
Wrangka ladrang dipakai untuk upacara resmi , misalkan menghadap raja, acara resmi
keraton lainnya (penobatan, pengangkatan pejabat kerajaan, perkimpoian, dll) dengan
maksud penghormatan. Tata cara penggunaannya adalah dengan menyelipkan gandar
keris di lipatan sabuk (stagen) pada pinggang bagian belakang (termasuk sebagai
pertimbangan untuk keselamatan raja ). Sedangkan wrangka gayaman dipakai untuk
keperluan harian, dan keris ditempatkan pada bagian depan (dekat pinggang) ataupun
di belakang (pinggang belakang).
Dalam perang, yang digunakan adalah keris wrangka gayaman , pertimbangannya
adalah dari sisi praktis dan ringkas, karena wrangka gayaman lebih memungkinkan cepat
dan mudah bergerak, karena bentuknya lebih sederhana.
Ladrang dan gayaman merupakan pola-bentuk wrangka, dan bagian utama menurut
fungsi wrangka adalah bagian bawah yang berbentuk panjang ( sepanjang wilah keris )
yang disebut gandar atau antupan ,maka fungsi gandar adalah untuk membungkus wilah
(bilah) dan biasanya terbuat dari kayu ( dipertimbangkan untuk tidak merusak wilah
yang berbahan logam campuran )
Karena fungsi gandar untuk membungkus , sehingga fungsi keindahannya tidak
diutamakan, maka untuk memperindahnya akan dilapisi seperti selongsong-silinder
yang disebut pendok . Bagian pendok ( lapisan selongsong ) inilah yang biasanya diukir
sangat indah , dibuat dari logam kuningan, suasa ( campuran tembaga emas ) , perak,
emas . Untuk daerah diluar Jawa (kalangan raja-raja Bugis , Goa, Palembang, Riau, Bali )
pendoknya terbuat dari emas , disertai dengan tambahan hiasan seperti sulaman tali
dari emas dan bunga yang bertaburkan intan berlian.
Untuk keris Jawa , menurut bentuknya pendok ada tiga macam, yaitu (1) pendok bunton
berbentuk selongsong pipih tanpa belahan pada sisinya , (2) pendok blewah (blengah)
terbelah memanjang sampai pada salah satu ujungnya sehingga bagian gandar akan
terlihat , serta (3) pendok topengan yang belahannya hanya terletak di tengah . Apabila
dilihat dari hiasannya, pendok ada dua macam yaitu pendok berukir dan pendok polos
(tanpa ukiran).
* Wilah
Wilah atau wilahan adalah bagian utama dari sebuah keris, dan juga terdiri dari bagianbagian
tertentu yang tidak sama untuk setiap wilahan, yang biasanya disebut dapur,
atau penamaan ragam bentuk pada wilah-bilah (ada puluhan bentuk dapur). Sebagai
contoh, bisa disebutkan dapur jangkung mayang, jaka lola , pinarak, jamang murub,
bungkul , kebo tedan, pudak sitegal, dll. Pada pangkal wilahan terdapat pesi , yang
merupakan ujung bawah sebilah keris atau tangkai keris. Bagian inilah yang masuk ke
pegangan keris ( ukiran) . Pesi ini panjangnya antara 5 cm sampai 7 cm, dengan
penampang sekitar 5 mm sampai 10 mm, bentuknya bulat panjang seperti pensil. Di
daerah Jawa Timur disebut paksi, di Riau disebut puting, sedangkan untuk daerah
Serawak, Brunei dan Malaysia disebut punting.
Pada pangkal (dasar keris) atau bagian bawah dari sebilah keris disebut ganja (untuk
daerah semenanjung Melayu menyebutnya aring). Di tengahnya terdapat lubang pesi
(bulat) persis untuk memasukkan pesi, sehingga bagian wilah dan ganja tidak
terpisahkan. Pengamat budaya tosan aji mengatakan bahwa kesatuan itu
melambangkan kesatuan lingga dan yoni, dimana ganja mewakili lambang yoni
sedangkan pesi melambangkan lingganya. Ganja ini sepintas berbentuk cecak, bagian
depannya disebut sirah cecak, bagian lehernya disebut gulu meled , bagian perut
disebut wetengan dan ekornya disebut sebit ron. Ragam bentuk ganja ada bermacammacam,
wilut , dungkul , kelap lintah dan sebit rontal.
Luk, adalah bagian yang berkelok dari wilah-bilah keris, dan dilihat dari bentuknya keris
dapat dibagi dua golongan besar, yaitu keris yang lurus dan keris yang bilahnya
berkelok-kelok atau luk. Salah satu cara sederhana menghitung luk pada bilah , dimulai
dari pangkal keris ke arah ujung keris, dihitung dari sisi cembung dan dilakukan pada
kedua sisi seberang-menyeberang (kanan-kiri), maka bilangan terakhir adalah
banyaknya luk pada wilah-bilah dan jumlahnya selalu gasal ( ganjil) dan tidak pernah
genap, dan yang terkecil adalah luk tiga (3) dan terbanyak adalah luk tiga belas (13). Jika
ada keris yang jumlah luk nya lebih dari tiga belas, biasanya disebut keris kalawija ,atau
keris tidak lazim .
Sejarah
Asal keris yang kita kenal saat ini masih belum terjelaskan betul. Relief candi di Jawa
lebih banyak menunjukkan ksatria-ksatria dengan senjata yang lebih banyak unsur Indianya.
Keris Budha dan pengaruh India-Tiongkok
Kerajaan-kerajaan awal Indonesia sangat terpengaruh oleh budaya Budha dan Hindu.
Candi di Jawa tengah adalah sumber utama mengenai budaya zaman tersebut. Yang
mengejutkan adalah sedikitnya penggunaan keris atau sesuatu yang serupa dengannya.
Relief di Borobudur tidak menunjukkan pisau belati yang mirip dengan keris.
Dari penemuan arkeologis banyak ahli yang setuju bahwa proto-keris berbentuk pisau
lurus dengan bilah tebal dan lebar. Salah satu keris tipe ini adalah keris milik keluarga
Knaud, didapat dari Sultan Paku Alam V. Keris ini relief di permukaannya yang berisi epik
Ramayana dan terdapat tahun Jawa 1264 (1342Masehi), meski ada yang meragukan
penanggalannya.
Pengaruh kebudayaan Tiongkok mungkin masuk melalui kebudayaan Dongson
(Vietnam) yang merupakan penghubung antara kebudayaan Tiongkok dan dunia
Melayu. Terdapat keris sajen yang memiliki bentuk gagang manusia sama dengan belati
Dongson.
Keris "Modern"
Keris yang saat ini kita kenal adalah hasil proses evolusi yang panjang. Keris modern
yang dikenal saat ini adalah belati penusuk yang unik. Keris memperoleh ...bentuknya
pada masa Majapahit (abad ke-14) dan Kerajaan Mataram baru (abad ke-17-18).
Pemerhati dan kolektor keris lebih senang menggolongkannya sebagai "keris kuno" dan
"keris baru" yang istilahnya disebut nem-neman ( muda usia atau baru ). Prinsip
pengamatannya adalah "keris kuno" yang dibuat sebelum abad 19 masih menggunakan
bahan bijih logam mentah yang diambil dari sumber alam-tambang-meteor ( karena
belum ada pabrik peleburan bijih besi, perak, nikel dll), sehingga logam yang dipakai
masih mengandung banyak jenis logam campuran lainnya, seperti bijih besinya
mengandung titanium, cobalt, perak, timah putih, nikel, tembaga dll. Sedangkan keris
baru ( setelah abad 19 ) biasanya hanya menggunakan bahan besi, baja dan nikel dari
hasil peleburan biji besi, atau besi bekas ( per sparepart kendaraan, besi jembatan, besi
rel kereta api dll ) yang rata-rata adalah olahan pabrik, sehingga kemurniannya terjamin
atau sedikit sekali kemungkinannya mengandung logam jenis lainnya. Misalkan
penelitian Haryono Arumbinang, Sudyartomo dan Budi Santosa ( sarjana nuklir BATAN
Yogjakarta ) pada era 1990, menunjukkan bahwa sebilah keris dengan tangguh Tuban,
dapur Tilam Upih dan pamor Beras Wutah ternyata mengandung besi (fe) , arsenikum
(warangan )dan Titanium (Ti), menurut peneliti tersebut bahwa keris tersebut adalah
"keris kuno" , karena unsur logam titanium ,baru ditemukan sebagai unsur logam
mandiri pada sekitar tahun 1940, dan logam yang kekerasannya melebihi baja namun
jauh lebih ringan dari besi, banyak digunakan sebagai alat transportasi modern (pesawat
terbang, pesawat luar angkasa) ataupun roket, jadi pada saat itu teknologi tersebut
belum hadir di Indonesia. Titanium banyak diketemukan pada batu meteorit dan pasir
besi biasanya berasal dari daerah Pantai Selatan dan juga Sulawesi. Dari 14 keris yang
diteliti , rata-rata mengandung banyak logam campuran jenis lain seperti cromium,
stanum, stibinium, perak, tembaga dan seng, sebanyak 13 keris tersebut mengandung
titanium dan hanya satu keris yang mengandung nikel.
Keris baru dapat langsung diketahui kandungan jenis logamnya karena para Mpu (
pengrajin keris) membeli bahan bakunya di toko besi, seperti besi, nikel, kuningan dll.
Mereka tidak menggunakan bahan dari bijih besi mentah ( misalkan diambil dari
pertambangan ) atau batu meteorit , sehingga tidak perlu dianalisis dengan isotop
radioaktif. Sehingga kalau ada keris yang dicurigai sebagai hasil rekayasa , atau keris
baru yang berpenampilan keris kuno maka penelitian akan mudah mengungkapkannya.
Keris Pusaka terkenal
* Keris Mpu Gandring
* Keris Pusaka Setan Kober
* Keris Kyai Sengkelat
* Keris Pusaka Nagasastra Sabuk Inten
* Keris Kyai Carubuk
* Keris Kyai Condong Campur
* Sekilas tentang susuk
( Ki Sawung ) Susuk memang controversial, sebetulnya apa dan bagaimana susuk itu
sesungguhnya. Perbuatan susuk ialah memasukkan sesuatu bahan kedalam badan untuk
mendapatkan sesuatu kelebihan dan menutupi kekurangan. Pelbagai jenis bahan bisa
digunakan, bergantung kepada apakah keinginan pengguna.
Pemakai susuk biasanya mempunyai beberapa pantangan seperti tidak boleh memakan
beberapa bahan tertentu seperti pisang tanduk, pisang emas, tidak boleh melintas di
bawah tali jemuran dan lain-lain, bergantung kepada jenis susuk yang dipakainya.
Terdapat pelbagai jenis susuk yang umum digunakan:-
o Susuk Emas
o Susuk Perak
o Susuk Besi /baja
o Susuk Raksa
o Susuk Berlian
o Susuk intan
o Susuk mutiara
o Susuk gotri/pelor
o Susuk gabah ketan/beras
o Susuk galih kayu
o Susuk dari bagian tertentu hewan
o Dll, sebagai inovasi dan penemuan/penciptaan kreasi baru.
Manfaat
- Pemakai susuk percaya bahwa susuk itu akan membantu mereka menjadi
bertambah cantik, bertambah berani, semakin dikasih, semakin manis, dan lain-lain
menurut susuk yang dipakai.
- Susuk sama halnya seperti pada pusaka2 bertuah, yang dapat memberikan pengaruh
tertentu kepada pemiliknya, sehingga memakai susuk kurang lebih sama seperti
pada tuah kepemilikan pusaka.
- Dahulu, susuk kebanyakan dipakai putera-puteri bangsawan untuk meningkatkan
pamor mereka pada kalangan tertentu. Sehingga awal pengetahuan susuk adalah
hal yang sangat rahasia sekali untuk konsumsi exclusive.
- Susuk mampu menutup kekurangan pada tubuh kita tanpa merobah fisiknya.
Bahkan dibuktikan sesuatu kelemahan penampilan organ tubuh yang misalnya cacat,
malah dengan susuk dapat dibuat menjadi sangat menarik. Kekurangan berobah
menjadi kelebihan.
- Susuk, mampu menimbulkan semangat kembali di kalangan suami isteri yang sudah
tak bergairah, sehingga mampu mencegah perselingkuhan.
- Susuk mampu mengobati masalah frigiditas / rasa dingin dan hilang nafsu seksual
pada seorang wanita.
- Susuk dengan cara tertentu juga mampu mengatasi masalah impotensi bagi pria
- Susuk juga mampu membuat penampilan kulit menjadi lebih elastis dan mencegah
penuaan, keriput, dan kelemahan tulang.
- Peletakan susuk secara professional sama halnya seperti pada praktek akupuntur,
yaitu sebagai support penyelarasan energi penyembuhan dan kekuatan kaitannya
dengan pusat –pusat energi pada tubuh. Teknik susuk sebenarnya adalah subfokus
dari pengetahuan tentang refleksi dan akupuntur.
- Disamping manfaat untuk kewibawaan, dan juga kesaktian/kekebalan, susuk mampu
juga untuk membuka mata ketiga, sehingga dapat melihat hal-hal yang kasat mata.
Kelemahan
- Pemakai susuk terpaksa mematuhi pantang-larang tertentu. Jika terlanggar
pantangan, susuk itu akan keluar dengan sendirinya dan menjadi tawar.
- Susuk ini terpaksa dibuang, sebaiknya oleh yang memakaikan susuk, ataupun
melalui cara yang di ajari.
Larangan
Antara makanan yang menjadi pantangan pemakai susuk (bergantung kepada jenis
susuk.)
• Labu air
• Pisang Tanduk
• Pisang emas
• Sate tusuk
• Jantung pisang.
• Dll, sesuai petunjuk yg memasang.
Antara perbuatan yang menjadi pantangan pemakai susuk (bergantung kepada jenis
susuk.)
• Melalui bawah tali jemuran pakaian
• Melalui di bawah tangga/rumah
• Melalui di bawah pohon kelor
• Di lempar bantal
• Minum air penawar.
Pemasangan Susuk.
Ada beberapa cara pemasangan susuk secara umumnya dan secara khusus
Pertama, dengan cara ...disusukkan / ditanam pada bagian tubuh tertentu.
Kedua, dengan cara di loloh, yakni ditelankan atau diminum.
Ketiga ada pula dengan cara gaib, yakni piranti2 susuk masuk secara gaib dan misterius
kebagian tubuh yang diinginkan. Hal ini hanya dapat dilaksanakan oleh mereka2 yg telah
mumpuni benar dalam bidang susuk. Praktek ini sudah mirip seperti melaksanakan
santet.
Ke empat dengan cara dilamurkan / dilulurkan Hal ini ialah menggunakan sarana serbuk
/ bubukan emas, intan, berlian, mutiara, dlsb.
Lokasi pemasangan Susuk.
- Diantara dua alis mata
- Pada pipi wajah
- Dagu/ sudut bibir
- Tengkuk
- Bawah dada kanan-kiri / payudara.
- Punggung kanan-kiri
- Pinggul kanan-kiri
- Lengan kanan-kiri
- Telapak tangan kanan-kiri
- Bawah pusar
- Kemaluan
- Paha kanan-kiri
- Betis kanan-kiri
Budaya Susuk
Selama ini kita mengenal budaya susuk hanyalah popular di tanah Jawa saja,
Padahal didaerah lainpun juga sangat mengenal budaya ini.
Susuk dikalangan suku melayu.
Etnis melayu dahulu, menggunakan susuk dari bahan rempah2 dan bunga2an
Suatu contoh yakni; merica, ketumbar, bawang, bunga kenanga, melati, mawar,dll
Bahkan kalangan suku melayu di Medan sangat mengenal dengan sarana pekasih susuk
air emas, yang termasuk dari bagian susuk cair untuk lamuran.
Susuk di Kalimantan
Banyak rumah2 adat atau rumah-rumah kebesaran, tiang pasak rumahnya disusuk
dengan menggunakan intan. Hal ini diyakini untuk menguatkan daya tahan rumah, dan
menimbulkan kesan damai dan nyaman / sejuk pada penghuni rumah.
Demikian juga dengan tempat2 perniagaan, kebanyakan disusuk emas pada lokasi pintu
masuknya.
Susuk di Indonesia bagian timur
Kita pernah mendengar tentang mutiara hitam. Mutiara hitam ini jika dijadikan serbuk
dan bubuk lalu ditelan, diyakini mampu untuk mengembalikan dan menaikkan
kejantanan seorang laki-laki. Dengan kata lain sebagai sarana pengobatan impotensi dan
atau lemah syahwat.
* Perlengkapan Ilmu Harimau
( Ki Sawung )Taring harimau biasanya digunakan sebagai simbol "mendapatkan"atau
"memegang", maksudnya dalam dunia bisnis, ialah menancapkan - pengaruh, apa2 yg
didapat supaya benar2 dapat dinikmati hasilnya, selain sebagai simbol kewibawaan
pengaruh..
Kulit harimau sebagai simbol "pakaian" atau pengaruh kharismatik dalam bahasa
kekuasaan ialah "jubah kebesaran" dalam bahasa kebatinan disebut sebagai "keilmuan"
memegang/menyimpan kulit harimau sama halnya seperti memakai "ilmu harimau"
Kuku harimau, sebagai simbol untuk "menggapai" atau pencarian maksudnya ialah
supaya peluang2 usaha benar2 bisa dicengkeram untuk kemudian dilaksanakan dalam
rangka mencapai hasil..
Kumis harimau, berfungsi layaknya aji pameling maksudnya dipakai sebagai "antena"
penyambung batin jarak jauh atau berfungsi kayak telepon seluler gaib / telepati jg
untuk support feeling dan indera ke enam
Mata harimau, untuk daya hipnotis..
Kening harimau untuk "pengaruh" / wibawa
Tulang iga harimau, untuk "tampil keren" istilahnya itu adalah "tulang keren", untuk
performance
Susuk macan, ialah sepasang atau satu macam tulang lepas yg terdapat di antara leher
dan dada harimau, inilah pusat inti "kekuatan SIMA macan/harimau" yg dalam mantera
(tatar sunda) disebut sebagai "sima aing sima maung" "sora aing gelap ngampar" sima
aku sima macan, suaraku bagaikan kilat menyambar
demikianlah ini perlengkapan "ilmu harimau" yg diturunkan turun temurun oleh buyut
kakekku
yang berasal dari daerah Tapanuli Selatan yang bergelar "Batara Diyangsari" sebagai
pemegang waris terakhir leluhurnya "Siluman manusia Harimau dari Tapanuli"
* Mani Gajah, cara meramu, pengetesan keaslian, dan kegunaan Pengetesan
keaslian.
cara tau asli apa engga tentang mani gajah kristal,kerok sedikit mani gajah, lalu ditanam
didalam tanah lebih kurang sejengkal setelah itu timbun pake tanah dan kasi beras
diatasnya..
kemudian lepaskan beberapa ekor ayam diatasnya sehingga pada makan2 nanti
perhatikan, si ayam terus matok2 tanah walaupun beras udah abis ayam tidak akan
berhenti matok dan terus mencakar2 tanah tsb sampai - terbongkar abis mani gajah yg
ada dalam tanah.. itu berarti aseli..
jika mani gajah palsu, begitu beras abis, begitu ayam lsg pergi..
Alkisah MANI GAJAH :
Ada seekor gajah yg luar biasa gagah, walaupun dia sangat ditakuti dan diikuti banyak
gajah2 lain, tapi dia suka menyendiri. Suku anak dalam (Kubu) menyebutnya dengan
nama GAJAH TUNGGAL. Inilah Rajanya Gajah, layaknya The Mammouth dari Himalaya.
Jika ia berjalan di tengah rimba, bahkan sang Raja Rimba (Harimau) akan segera
menyingkir pergi jauh-jauh, tidak mau berpapasan dgn Gajah Tunggal tersebut. Dan
ketika masanya Purnama bersinar terang, maka birahi sang gajah pun naik. Mulailah ia
tampakkan kegarangannya, mengibas kesana-sini apapun yg menghalangi jalannya.
Sekumpulan gajah segera membentuk lingkaran, dengan gajah2 betina dalam lingkaran
tersebut. Dan masuklah Gajah Tunggal ke dlm lingkaran tsb sambil mulai memilih,
mana2 gajah betina yg ia sukai.
Terjadilah acara sakral si Gajah melaksanakan perkimpoiannya.. Ada yg pernah
mengintip dari kejauhan dan menyatakan keheranannya, gajah betina mengambil posisi
terlentang ,katanya.. mereka bersetubuh layaknya manusia.
Dan saat inilah yang ditunggu-tunggu oleh suku anak dalam. Usai sang Gajah
bersetubuh, biasanya dia akan memeriksa sisa2 spermanya yang jatuh ketanah, dan
segera menguburnya dengan sangat teliti.
Setelah sang Gajah yakin dan lalu pergi bersama rombongannya, segeralah org2 yg
mengintip tadi berlari dan memberi tanda pada tempat di mana sang gajah mengubur
mani nya itu.
sesegera itu pulalah orang2 itu, secepatnya lari dan pergi pulang ke kampungnya.
mereka berkata, sang Gajah suka mengontrol kembali tiba2 ke tempat itu, jk ia melihat
ada orang, maka org itu dikejar tanpa henti sampai mati org tersebut.Mereka2 yg
berhasil menggali kembali kuburan mani gajah itu biasanya akan mendapatkan Mani
Gajah yg Sudah Mengkristal lembut, dan semakin lama, semakin mengeras menjadi
batu. Inilah yg kemudian diolah dengan ramuan tertentu menjadi Minyak Pelet Mani
Gajah.
Cara meramunya
satu butir MG ukuran pentol korek
bisa dicampur kurang lebih 100 cc minyak .....kelapa tunggal
namun jika minyak kelapa tunggal jg cuma ada sedikit pun
tidak masalah, misal; cuma ada satu botol kecil ukuran 2 cc
campur aja dahulu, setelah itu campur lagi 100 cc minyak kelapa hijau
nah itu sudah cukup dan jadi..
sehingga yg digunakan, bisa kita ambil saja ramuan tadi
seukuran satu botol kecil (2cc), dan itu saja yg dibawa2
biangnya biarkan saja kita simpan dirumah
selanjutnya, yg dibotol kecil tadi harus kita beri makan
yaitu diberi sepotong kecil emas, atau bubuk emas murni secukupnya
serta diberi sedikit kapas mentah yg sudah jatuh dari pohonnya
yaitu kita cari saat hari jumat (kapas mentah tersebut)
inilah yg disebut dia "kapas siluman"
nah pada saat purnama penuh tiba
biang MG dan turunannya yg di botol kecil itu
kita jemur dibawah sinar purnama..
kurang lebih 2 jam, dari jam 10 s.d. 12 malam..
untuk yg lebih mantap lagi
si MG yang dibotol kecil tadi
sebaiknya kalau "punya kesabaran"
sebaiknya setelah di purnama in
lalu di pendam dalam tanah selama 40 hari
atau afdolnya selama 100 hari..
dan jadilah
minyak MG kualitas "super"
gunanya antara lain:
- membantu kelancaran usaha
- aman dari "kerusuhan"
- disenangi dalam pergaulan
- pelet
? Resep Meramu Minyak Pengasihan AirMata Duyung
- air mata duyung aseli 1 tetes
- ketan hitam 6 butir
- kunyit seukuran pentol korek api
- bubuk emas secukupnya
- minyak kentang 3 tetes
- minyak kelapa hijau 2 cc
membuat ramuan minyak pengasih air mata duyung ini,
dilaksanakan di hari jumat antara jam 11 s.d. jam 12 siang
saat mencampur bahan2 ramuan,
harus dilingkungan asap kemenyan.
Minyak pengasihan ini, hanya cocok dipakai oleh wanita saja.
Dengan tujuan untuk menarik perhatian laki2.
* Petuah dan filosofi pengobatan tradisional
Air WayurAmarta
yg terbuat dari embun yang terdapat di tembolok ayam . air tersebut dapat menjadi
sarana pengobatan; jika diusapkan pada tangan , maka segala yang dipegang akan
menjadi obat, segala penyakit menjadi sembuh, hanya dengan jalan melakukan Cipta
Sasmita nama saja…..
Dan untuk mengobati luka, maka luka itu haruslah bersih dahulu, kalau sudah bersih
berilah minyak dari lemak ayam dan campurlah dengan prusi yang ditumbuk, serta
rumah lebah madu,lalu dihangatkan pada suatu tempat agar bercampur menjadi satu.
Kemudian jika lika sudah direndam maka lendirnya dilap dengan kain lunak. Obat yg
masih hangat2 kuku tadi ditaruh pada kain sebesar lukanya lalu dipakai sehari semalam.
Dan juga ada pantangannya:
1.jangan makan jenis ikan asin, berakibat luka menjadi gatal2
2. jangan makan kacang2an berakibat luka bengkak2 dan melepuh
3. jangan makan manis2an berakibat luka tidak sembuh2
4. jangan makan umbi2an berakibat kambuh2an lukanya
Adapun obat kalau kena ragas (tulang beracun), tiap pagi diusapi dan diberi parem daun
akila. Tiap pagi sebelum makan apapun ,ludahilah lukanya, dari atas kebawah, dan
mantrailah begini : Bolu bolor bar luwar.
Obat jika digigit ular, pada lukanya sundutlah dengan api, setelah beberapa saat ,
dibawah dan diatasnya ikatlah dengan benang lawe dan mantrailah begini: Wis wata
witawar.
Obat disengat serangga . jika serangga tersebut tertangkap, buanglah sengatnya,
pantatnya diberi kecekan (salep), pagi sore obatilah dengan salep kecekan tadi. Cara
menempelkan obat yaitu memakai bulu ayam putih mulus. Dan luka harus dibuka
dahulu supaya cepat sembuh. Kerak gigi, air kencing, usapkan melingkar pada luka ,
mantranya begini: Kentup katup sap-sap dening jalantahku, mulyat pakarana
(sengat tertutup diusap2 oleh minyakku, sembuh tanpa akibat)
Obat kesurupan atau terkena sihir. Di malam hari saat tengah malam, ambillah tanah
didepan pintu , lalu kelilinglah dengan menaburkan tanah itu pada 4 pojokan rumah,
mantrailah begini: sing sapa kang hanedya tumeka, nadyan tumeka haywa tumama,
lamun sarana baling kamarang sarasaningkang hangsang sangsara
(barang siapa yang mau datang, meskipun telah datang janganlah mempan, jika sarana
telah dilempar pulang kepada segala rasa yang mengarah sengsaralah)
sedangkan penyakit2 lainnya , perlu pralambang, daun2nan yang dipakai obat maka
gantilah namanya, seperti:
1. Daun kelor gantilah istilahnya menjadi daun limaran
2. Daun lomban rapit istilahnya menjadi daun sabrang
3. Daun randhu menjadi daun baladewa
4. Daun jarak menjadi daun bledhek
5. Daun asam menjadi daun teruna
6. Daun papasin menjadi daun tunang
7. Daun injen2an menjadi daun prastawa
8. Daun sirih menjadi daun haturan
Semua itu masing-masing mempunyai maksud sendiri2. jika mengobati dgn daun ,
sehari semalam daun tersebut jangan sampai tertiup angin. Perhatikan semua daun yg
ingin kaupakai sebagai obat.Jika daun dari pohon kayu , ketika mengobati , yg sakit
harus berdiri. Jika daun dari tumbuhan merambat,ketika mengobati, yg sakit harus
duduk.
Air Tuli, Air Buta, Daun Tuli, Daun Bisu.(pengobatan penyakit buta dan tuli)
Yang dimaksud air tuli ialah batu-batuan. Yang dimaksud air buta ialah air yang diciduk
dengan mata tertutup dengan memakai pinggan berwarna putih, saat memejamkan
mata tidak boleh berucap disertai menahan napas, kemudian air tersebut ditaruh pada
wadah yg terbuat dari bokor batu,dicampur wayuramarta sedikit.
Yang dimaksud daun buta ialah daun yang tertelungkup pada pohon, memetiknya
dengan mata yg terpejam. Yang dimaksud daun tuli ialah daun pada pohon yang jika ada
angin maka daun itu tidak bergerak, memetik daun ini ialah dengan cara
membelakanginya. Yang dimaksud daun bisu ialah daun yang keriting , memetiknya
sambil menahan nafas dan ga boleh berkata-kata. Kemudian dicampur semuanya pada
air yg telah disebutkan tadi. Semua tadi lalu disuruh mengusapkan dan diminumkan tiga
kali
* Dunia makhluk halus
( Orgil300 ) Pada kenyataannya banyak orang yang tertarik menelaah pada dunia
mahkluk halus, barang kali mereka mendengar beberapa cerita atau membaca tulisan
atau dari buku-buku. Bagi orang yang telah mencapai ilmu sejati dalam kejawen atau
mungkin yang sudah menguasai metafisika, dunia mahkluk halus itu biasa adanya,
bukannya omong kosong. Dibawah ini digambarkan informasi dari dunia-dunia mereka
versi kejawen,dimana ( lebih dari satu dunia ) paling tidak yang terjadi ditanah Jawa.
Banyak ahli kejawen mempunyai pendapat yang sama bahwasanya di dalam ...
Next part.dunia yang
satu dan sama ini, sebenarnya dihuni oleh tujuh macam alam kehidupan, termasuk alam
yang dihuni oleh manusia. Di dunia ini memiliki tujuh saluran kehidupan yang ditempati
oleh bermacam-macam mahkluk. Mahkluk-mahkluk dari tujuh alam tersebut, pada
prinsipnya mereka mengurusi alamnya masing-masing, aktivitas mereka tidak
bercampur setiap alam mempunyai urusannya masing-masing. Dari tujuh alam itu
hanyalah alamnya manusia yang mempunyai matahari dan penduduknya yang terdiri
dari manusia, binatang dan lain-lain mempunyai badan jasmani.
Penduduk dari 6 alam yang lain mereka mempunyai badan dari cahaya ( badan Cahya )
atau yang secara populer dikenal sebagai mahkluk halus – wong alus – mahkluk yang
tidak kelihatan. Di 6 alam itu tidak ada hari yang terang berderang karena tidak ada
matahari. Keadaannya seperti suasana malam yang cerah dibawah sinar bulan dan
bintang-bintang yang terang, maka itu tidak ada sinar yang menyilaukan seperti sinar
matahari atau bagaskoro ( Jawa halus )
Konon Ada 2 macam mahkluk halus :
1.Mahkluk halus asli yang memang dilahirkan – diciptakan sebagai mahkluk halus.
2.Mahkluk halus yang berasal dari manusia yang telah meninggal. Seperti juga manusia
ada yang baik dan jahat, ada yang pintar dan bodoh.
Mahkluk-mahkluk halus yang asli mereka tinggal di dunianya masing-masing, mereka
mempunyai masyarakat maka itu ada mahkluk halus yang mempunyai kedudukan tinggi
seperti Raja-raja, Ratu-ratu, Menteri-menteri dll, sebaliknya ada yang berpangkat
rendah seperti prajurit, pegawai, pekerja dll.
Inilah kenyataannya yang bukan hanya merupakan ilusi atau bayangan semata, alam lain
itu
antara lain :
1. Merkayangan
Kehidupan di saluran ini hampir sama seperti kehidupan di dunia manusia, kecuali tidak
adanya sinar terang seperti matahari. Dalam dunia merkayangan mereka merokok,
rokok yang sama seperti dunia manusia, membayar dengan uang yang sama, memakai
macam pakaian yang sama, ada banyak mobil yang jenisny a sama di jalan-jalan, ada
banyak pabrik-pabrik persis seperti di dunia manusia. Yang mengherankan adalah,
mereka itu memiliki tehnologi yang lebih canggih dari manusia, kota- kotanya lebih
modern ada pencakar langot, pesawat-pesawat terbang yang ultra modern dll.
Ada juga hal-hal yang mistis di dunia Merkayangan ini, kadang-kadang bila perlu ada
juga manusia yang diundang oleh mereka antara lain untuk : melaksanakan
pertunjukkan wayang kulit, menghadiri upacara perkimpoian, bekerja di batik, rokok
dan manusia-manusia yang telah melakukan pekerjaan di dunia tersebut, mereka itu
dibayar dengan uang yang syah dan berlaku seperti mata uang di dunia ini.
2. Jin-Siluman
Mahkluk halus ini konon suka tinggal didaerah yang ber air seperti di danau-danau, laut ,
samudera dll, masyarakat siluman diatur seperti masyarakat jaman kuno. Mereka
mempunyai Raja, Ratu, Golongan Aristokrat, Pegawai-pegawai Kerajaan, pembantupembantu,
budak-budak dll. Mereka bisa tinggal di Keraton-keraton, rumah-rumah
bangsawan, rumah-rumah yang bergaya kuno dll.
Kalau orang pergi berkunjung ke Solo-Yogyakarta atau jawa Tengah, orang akan
mendengar cerita tentang beberapa siluman antara lain : Kanjeng Ratu Kidul – Ratu Laut
Selatan, Ratu legendaris, berkuasa dan amat cantik, yang tinggal di istananya di Laut
Selatan, dengan pintu gerbangnya Parangkusumo. Parangkusumo ini terkenal sebagai
tempat pertemuan antara Panembahan Senopati dan Kanjeng Ratu Kidul, dalam
pertemuan itu, Kanjeng Ratu Kidul berjanji untuk melindungi semua raja dan kerajaan
Mataram. Beliau mempunyai seorang patih wanita yang setia dan sakti yaitu Nyai Roro
Kidul, kerajaan laut selatan ini terhampar di Pantai Selatan Pulau Jawa, di beberapa
tempat kerajaan ini mempunyai Adipati. Seperti layaknya disebuah negeri kuno di
kerajaan laut selatan ini juga ada berbagai upacara, ritual dll dan mereka juga
mempunyai angkatan perang yang kuat.
Sarpo Bongso-Penguasa Rawa Pening.
Sebuah danau besar yang terletak di dekat kota Ambarawa antara Magelang dan
Semarang. Sarpo Bongso ini siluman asli, yang telah tinggal di telaga itu untuk waktu
yang lama bersama dengan penduduk golongan siluman. Sedangkan kanjeng Ratu Kidul
bukanlah asli siluman, beberapa abad yang lalu beliau adalah seorang Gusti dikerajaan
di Jawa, tetapi patihnya Nyai Roro Kidul adalah siluman asli sejak beberap ribu tahun
yang lalu.
3. Kajiman
Mereka hidup dirumah-rumah kuno di dalam masyarakat yang bergaya aristokrat,
hampir sama dengan bangsa siluman tetapi mereka itu tinggal di daerah-daerah
pegunungan dan tempat-tempat yang berhawa panas. Orang biasanya menyebut merak
Jim.
4. Demit
Bangsa ini bertempat tinggal di daerah-daerah pegunungan yang hijau dan lebih sejuk
hawanya, rumah-rumah mereka bentuknya sederhana terbuat dari kayu dan bambu,
mereka itu seperti manusia hanya bentuk baadannya lebih kecil.
Disamping masyarakat yang sudah teratur seperti Merkayangan, Siluman, Kajiman, dan
Demit masih ada lagi dua menjelaskannya lebih detail, secara singkat kedua masyarakat
itu adalah untuk mereka yang jujur, suci dan bijak.
Mahkluk halus yang tidak sempurna.
Disamping tujuh macam alam permanen tersebut, ada sebuah saluran yang terjepit,
dimana roh-roh dari manusia-manusia yang jahat menderita karena kesalahan yang
telah mereka perbuat pada masa lalu, ketika mereka hidup sebagai manusia.
Manusia yang salah itu pasti menerima hukumaan untuk kesalahan yang dilakukannya,
hukuman itu bisa dijalani pada waktu dia masih hidup di dunia atau lebih jelek pada
waktu sesudah kehidupan ( afterlife ) diterima oleh orang-orang yang sudah melakukan :
fitnah, tidak jujur, prewangan ( orang yang menyediakan raganya untuk dijadikan
medium oleh mahkluk halus ) blakmagic, guna-guna yang membuat orang lain
menderita, sakit atau mati dll, pengasihan supaya dikasihi oleh orang lain dengan caracara
yang tidak wajar, membunuh orang dll perbuatan yang nista. Memuja berhala
untuk menjadi kaya ( pesugihan ) yang dimaksud dengan berhala dalam kejawen
bukanlah patung-patung batu, tetapi adalah sembilan macam mahkluk halus yang
katanya, suka menolong “ manusia supaya menjadi kaya dengan kekayaan meterial yang
berlimpah.
Pemujaan terhadap kesembilan mahkluk jahat itu merupakan kesalahan fatal, mereka
itu bila dilihat dengan mata biasa kelihatan seperti :
1. Jaran Penoreh - kuda yang kepalanya menoleh kebelakang
2. Srengara Nyarap - .....anjing menggigit
3. Bulus Jimbung - bulus yang besar
4. Kandang Bubrah - kandang yang rusak
5.Umbel Molor - ingus yang menetes
6. Kutuk Lamur - sebangsa ikan, penglihatannya tidak terang
7.Gemak Melung - gemak, semacam burung yang berkicau
8. Codot Ngising - kelelawar berak
9. Bajul Putih - buaya putih.
Bagi mereka yang telah melakukan kesalahan dengan jalan memuja atau menggunakan
“ jasa-jasa Baik “ berhala diatas, mereka tentu akan mendapat hukuman sesudah “
kematiannya “ badan dan jiwa mereka mendapat hukuman persyaratan sangkan
paraning dumadi ( datang dari suci, di dunia inii hidup suci dan kembali lagi ke suci )
Berbagai macam hukuman sesudah kehidupan :
Ini merupakan hukuman yang teramat berat, tidak ada penderitaan yang seberat ini,
maka itu setiap orang harus berusaha untuk menghindarinya. Bagaimana caranya ?
mudah saja : bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dengan melakukan perbuatan
yang baik dan benar, berkelakuan baik, jujur, suka menolong, jangan menipu, jangan
mencuri, jangan membunuh, jangan menyiksa, jangan melakukan hal-hal yang jelek dan
nista.
Ada pepatah Jawa yang bunyinya “ Urip iku mung mampir ngombe “ artinya hidup
didunia ini hanyalah untuk mampir minum, itu artinya orang hidup didunia ini hanya
dalam waktu singkat maka itu berbuatlah yang pantas
II.Jin dan Khodam
Menarik Pusaka ( Ki Sawung )
cara sederhana :
1. uluk salam alias permisi dengan bahasa yg sopan kepada para
penunggu gaib yang ada di lokasi tersebut sambil membakar kemenyan
2. kemudian sampaikan niat untuk meminta pusaka, dan mintalah
tanda2nya. jika diijinkan untuk memiliki pusaka itu
3. setelah itu tidurlah di lokasi itu, maka jika diijinkan, akan muncul para
penunggu gaib di tempat itu, dan merekalah yang akan memberitahu
cara-cara dan syaratnya.. dan biasanya ini akan muncul dalam mimpi
4. jika memang jodoh dan haknya, mk pusaka akan muncul dengan 3 cara
pertama: akan muncul tiba2 dengan sendirinya..
kedua : gaib akan memberi tahu dimana bisa di gali dan diambil sendiri..
ketiga: gaib akan wujud menjadi seseorang dan memberikannya
langsung.
kalo mau amalan yg sederhana:
Ya Khobiir 9x (tahan nafas)
Ala ya`lamu man kholaqo wa huwal latiiful khobiir 9x
tatkala membaca amalan ini, sambil mengitari ( memutari )
lokasi yg dicurigai ada pusakanya..
jika memang berjodoh dan ada rejekinya
ga lama setelah berputar-putar di lokasi
akan muncul tiba2 benda pusaka itu
perhatian: amalan ini tidak menjamin pasti dapat

Menarik Pusaka ( Pengkhianat )
Di tempat yg ada pusakanya yg harus di lakukan
1.suci,dengan badan dalam ke adaan suci uluk salam ke alam gaib
2.bacakan yasin 33x
3.bacakan alfatihah7x,dan pas nyampe ????????????????????????????? di bacain 40x
4.bacain doa nurbuah33x
kemudian sediain kain putih panjang yg masih baru,dan di beli dari uang
halal,dalam artian,hasil dari berdagang secara halal (tidak boleh meminta
pada orang lain,termasuk keluarga)...
sama sediakan minyak misik....
klo blom berhasil ulangi lagi
Amalan Agar Terlindung Dari Gangguan
Manusia Dan Jin Dan Mahluk Berniat Jahat ( Semar )
Bismillahir Rohmaanirrohiim
Walaa Ya-uduhu Hif Dzuhuma Wahuwal Aliyul Adziim.
Wa Yur Silu Alaikum Hafadzhoh
Walaa Tadhurruu Nahu Syai-a
Inna Robbi Ala Kulli Syai0in Hafidz.
Fa Allahu Khoiroun Haa Fidzon Wahuwa Arhamar Rohimin.
Lahu Mu’aq Qibatum Mim Baini Ya Daihi Wamin Kholfihi Yah Fadzu Nahu
Min Amrillahi Waja’alnas Sama-a Saq Fam Mah Fuu Dzho
Wa Hafidz Na Ha Min Kulli Syai Thoo Nir Rojim
Wa Hif Dzom Min Kulli Syai Toonim Maa Ridin.
Wa Hif Dzon Dzalika Taq Dirul Azizil Alim
Wa Rabbuka Ala Kulli Syai – In Hafidzun.
Allahu Hafidzun Alaihim Wa Maa Anta Alaihim Bi Wakiili
Qod Alim Naa Maa Tanqushul Ardhu Minhum Wa ‘in Danaa Kitaabun
Hafidz.
Wallahu Miw Waroo – Ihim Muhith.bal Huwa Qur Aanum Majiidun.
Fii Lauhim Mahfudz.
In Kullu Nafsil Lamma ‘alaiha Haa Fidz.
Allahumma Ya Haafidzu. La Yasna Wa Ya Man Ni’muhu
Laa Tuh Showa Ya Mal Lahul Asmaa’ul Husna Wa Shifaatul ‘ulya
As Aluk A Bi Jahi Nabiyika Muhammadin Shallauhu Alaihi Wasallam,
Antah Fadzo Haamila Kitaabi Haa Dza Bima Hafadzta Bihidz Dzikro
Fa Innaka Qulta Wa Qoulukal Haq.
Inna Nahnu Nazzalnadz Dzikro Wa Innalahu La Haafidzun
La Haula Wala Quuwata Illa Billahil Aliyil Adzim.
Amalan untu Ketemu Raja Jin
1) lakukan di tempat yang gelap tanpa ada cahaya sedikitpun dan bersih
2) bakarlah kemeyan tanpa keliatan apinya
3) bacalah surah al jin ayat 1 sampai ayat 4 sebanyak 100x
surah al jin ayat 1 sampai 4
"Bismillahir rahmmanir rahiim.
"Qul uuhiya ilayya annahus tama'a nafarum minal jinni fa qaaluu innaa
sami'naa qur-aanan 'ajabaa yahdii ilar rusydi fa aamannaa bihii wa lan
nusyrika bi rabbinaa ahadaa wa annahuu ta'aalaa jaddu rabbinaa mat
takhadza shaahibataw wa laa waladaa wa annahuu kaana yaquulu
safiihunaa 'alallaahi syathathaa."
4) bacalah doa di bawah ini sampai jin nya datang
"Wa nufikho fish shuuri faidzaa hum minal ajdaatsi ilaa robbihim
yansiluun. Qooluu yaa wailanaa mam ba'atsanaa mim marqodinaa,
haadzaa maa wa'adar rohmaanu wa shodaqol mursaluun. Ing kaanat
illaa shoihataw waahidatan faidzaa hum jamii'ul ladainaa
muhdhoruun."
"Wa laqod 'alimatil jinaatu innahum lamuhdhoruun."
"Haadzihi jahannamul latii kuntum tuu'aduun."
"Ishlauhal yauma bimaa kuntum takfuruun."
Sebaiknya di puasakan dahulu sebelum di lakukan ritualnya
Melihat Jin atau Mahluk Gaib ( Ki Arjuna )
Bagi yang ingin melihat Jin / mahluk gaib secara dhohir /kasat mata, saya
akan berikan cara memanggilnya :
1.mantapkan niat anda apapun yang terjadi anda mampu
menghadapinya !!!
2.apapun yang terjadi saat ritual, tanggung resikonya sendiri..........
3. berwudhulah anda....kemudian masuklah kedalam kamar sendirian,
matikan lampu. bacakan doa pageran diri baca " HUU ALLOH " 21x
sambil tahan nafas.
4.kemudian baca mantra ini :
" YAYARAI, DADA ARDI, YAMAYYITI " baca 444x
Peringatan Kiarjuna : "Jangan coba2 jika mental anda blm siap, apapun
resikonya, anda tanggung sendiri "
Cek Khodam Diri ( cabul )
puasa 1 hari tidak memakan yg bernyawa pada hari kamis.
niat puasa ...."Nawaitu shoma godin liqodoi hajati sunatan lilahi taala"
tepat jam 12 mlm mandi besar dan memakai wangi wangian tanpa
alkohol dan masuk kedalam kamar yg gelap, di usahakan tanpa cahaya yg
masuk sedikit pun. sholat hajat 2 rakkat
selesai sholat membaca :
ALfatihah kepada Nabi muhammad, 4 sahabat nabi, malaikat
muqorobin,syekh abdul qodir jaelani, masing 1x
Asalammualaikum ya khodamul minal badani 3x
hadir - hadir - hadir ( sambil memukul lantai )
Yaa bathin 1000x ( dibaca harus pelan dan dalam hati )
Insya allah, akan bertemu kalau memang ada khodam didalam diri yg
mengamalkan silahkan komunikasi atau silahkan lari bagi yg takut
Untuk pagar diri lebih baik sebelom sholat dimulai :
duduk bersila baca ayat kursi 1x tahan napas lalu "ditembakan" kearah
depan, kanan,belakang, dan kiri. jadi 4 penjuru dibacakan 1x ayat kursi
sambil tahan napas.
biasanya "iklan2x" akan mulai muncul saat memasuki hitungan 500
apabila sudah sampai 1000 tidak ada pemunculan, di coba untuk melihat
cahaya khodam / jin yg ada di dalam ruangan
" syamhahirin syamkhohirin" 1000x Insya allah akan terlihat cahaya2x
seperti lampu blitz, artinya banyak jin atau khodam disekitar yg
mengamalkan
bagi yg bisa berkomunikasi dengan baik, jangan lupa pembicaraan di
mulai dengan salam dan di akhiri dengan salam serta di tanyakan nama
dan cara pemanggilan cepat.
Bertemu NABI KHIDIR A.S
dibaca ketika akan tidur dengan wudhu terlebih dahulu dan tidak
berbicara dengan orang lain. kemudian tidur dengan sisi kanan tubuh
dibawah (tubuh menghadap kanan
BISMILLAH HIR RAHMAN NIR RAHEEM
BISMILLAHI AL AMAAN AL AMAAN YA HANAAN AL AMAAN AL AMAAN
YA MANAAN AL AMAAN AL AMAAN YA DAYAAN AL AMAAN AL
AMAAN YA SUBHAN AL AMAAN AL AMAAN YA BURHAAN AL AMAAN
AL AMAAN MIN FITNA TIZ ZAMAANIWA JAFAA IL IKHWANIWA SHAR
RISH SHAITANWA ZULMIS SULTAN BE FADHLIKA YA RAHEEM YA
RAHMAN YA ZUL JALAALI WAL IKRAAM
WA SALL ALLAHU ALA KHAIRI KHALQI HI MUHAMMADIN WA ALIHIWA
AS HAABI HI AJMAEEN BI RAHMATIKA YA ARHAM AR RAHIMEEN
Kholwat untuk bertemu khodam surat Al Ikhlaash
Sebelum memasuki taraf kholwat, adalah kita harus melakukan puasa
(versi Romadhon) dengan buka tanpa memakan makanan yang
bernyawa (daging, ikan, telor, dan sejenisnya). Semisal hanya memakan
sayur dan nasi. Puasa dilakukan minimal 40 hari, dan tidak boleh
dipadukan dengan puasa Romadhon.
Cara kholwat.
1. Dilakukan di tempat (ruangan/kamar) yang tidak boleh ada cahaya luar
yang masuk ataupun cahaya lampu.
2. Berpakaian putih (semisal pakaian gamis).
3. Berpuasa seperti sebelum kholwat, selama minimal tiga hari. Buka dan
Saur dilakukan didalam kamar yang gelap.
4. Harus senantiasa dalamkeadaan wudhu.
5. Tidak boleh keluar kamar kecuali buang air kecil/besar atau berwudhu
dan tidak boleh mandi.
6. Tidak boleh bertegur sapa tanpa terkecuali, sampai dengan selesai.
Sebab itu; segala persiapan harus dirancang sebelumnya. Semisal
persiapan untuk buka/saur harus diletakkan dimana dan ketukan kamar
sebagai tanda sudah ada makanan, dsb-nya.
7. Setiap habis salat wajib, membaca surat Al Ikhlaash sebanyak 1000
kali.
8. Pada jam 24.00 membaca alfateha untuk Nabi Muhammad SAW 21
kali, Khulafaurrasyidin (empat sahabat Nabi) 21 kali, Sultonul aulia
Sayidissyeikh Abdul Qadir Jaelani 21 kali, Jami waliyullah minal awal ilal
akhir 21 kali. Kemudian membaca Alfateha sebanyak 700 kali.
Dilanjutkan membaca Surat Al Ikhlaash sebanyak 1000 kali.
9. Saat si Khodam menampakkan, ucapkan ass..wr..wb, kemudian
seterusnya akan dapat dipahami.
Catatan: Sepanjang kita menjalani dengan penuh ketekadan serta
kehusukkan, umumnya pada hari kedua si khodam sudah akan
menampakkan, selanjutnya tinggal komunikasi yang harus dilakukan.
Cara Melihat Jin
Dari kitabnya syeh mahfudzsyaroni magelang beserta ke 6 syech lainnya,
termasuk kyai haji kholil dr bangkalan, madura yang semuanya di juluki
"pakunya tanah jawa" di pulau jawa dan madura, aku pernah baca di
dalam kitab itu yang menerangkan khasiat "empedu harimau", yaitu di
gunakan untuk melihat jin...
1. Empedu harimau
2. Empedu rase
3. Empedu ayam cemani
4. Minyak misik
Ketiga empedu di keringkan kemudian dicampur minyak misik, dan
dibuat cat kelopak mata...(celak).
Kebetulan dalam silsilah keluarga ku masih ada keturunan dengan Eyang
Gunung lawu (Sunan Lawu, Brawijaya V), yang di juluki sebagai raja
leluhur manusia harimau di pulau jawa. Lam persaudaraan buat Ki
sawung, dan para senior.
Meminta Bantuan Sedulur Papat Lima Pancer
Bis..
kakang kawah adi arai-ari
sedulur tuwa papat lima pancer
sing dumunung ana ing awak ingsun
jungkungana laku ingsun
jabang bayine .......(sebutkan nama anda)
bisa kasembadan apa sing ana ati lan pikiran ingsun
yaiku....(sebutkan permintaan anda ex:bisa ketemu kalawan sira sedulur
kabeh) kanti kalis ing sambekala
padang panjang.... Amin...
sebelumnya didahului dengan al fatihah bagi yang muslim, bapa kami
bagi yang nasrani atau doa2 sejenis
Mantra Pemanggil Jailangkung (blackroses)
Jailangkung2x datanglah
disini ada pesta
pestanya meriah
datang diundang
pulang tak diantar
buatlah tubuh jalangkung,pakai kayu aja.menyerupai bentuk salib.trus
kepalanya pke batok kelapa.kakinya paki keranjang aja(buat pegangan)
trus dikasih baju.batok kelapanya gampar bentuk muka manusia(simple
aja yg penting ada mata hidung dan mulut).trus tempelin kapur ato
spidol di tubuhnya buat dia nulis. kemudian siapin sesaji.trserah pke
apa.kopi+rokok klebot jg gpp(asal jgn marlboro hehehe).trus siapin
menyan ato dupa.klo bisa sih cari dupa yg buat org konghucu
sembahyang(kebanyakan jin suka bau2/aura dupa tsb).semakin bagus
sesaji,semakin seneng tuh jin nya(bentuk penghormatan aja n biasanya
yg masuk jin2 trnama) kemudian siapin papan tulis. klo bisa minim 3
org.2 org pegang boneka nya.1 org buat baca mantra dan tukang Tanya
klo dah siap semuanya..baca mantra nya brulang kali sampil meng-asapi
tubuh jalangkung nya dgn asap dupa.tunggu beberapa menit.jika boneka
td terasa berat dr sebelumnya,berarti jin nya dan masuk. silahkan deh
tanya2 klo dia menjawab,bonekanya bergerak ke arah papan tulis dan
menuliskan sesuatu dgn sendirinya. klo bisa ruangannya agak gelap.pke
lampu lilin aja buat nerangin papan tulisnya ntar klo dah selesai.biasanya
sih si jin minta anter ke rmh asalnya.nah disini ....trgantung nyali dan
tanggung jawab anda.
III.Spritual Kejawen
* Pembelajaran Cipta,Karsa dan Pakarti ( Orgil300 )
1. Cipta, karsa ( kehendak ) dan pakarti ( tindakan ) selalu aktif selama orang itu masih
hidup. Pakarti bisa berupa tindakan fisik maupun non fisik, pakarti non fisik
misalnya seseorang bisa membantu memecahkan atau menyelesaikan masalah
orang lain dengan memberinya nasehat, nasehat itu berasal dari cipta atau rasa
yang muncul dari dalam. Sangatlah diharapkan seseorang itu hanya menghasilkan
cipta yang baik sehingga dia juga mempunyai karsa dan pakarti/tumindak yang
baik, dan yang berguna untuk diri sendiri atau syukur -syukur pada orang lain.
2. Untuk bisa mempraktekkan tersebut diatas, orang itu harus selalu sabar,
konsestrasikan cipta untuk sabar, orang itu bisa makarti dengan baik apabila
kehendak dari jiwa dan panca indera serasi lahir dan batin. Ingatlah bahwa jiwa dan
raga selalu dipengaruhi oleh kekuatan api, angin, tanah dan air
3. Untuk memelihara kesehatan raga, antara lain bisa dilakukan
A. Minumlah segelas air dingin dipagi hari, siang dan malam sebelum tidur,
air segar ini bagus untuk syarat dan bagian-bagian tubuh yang lain yang
telah melaksanakan makarti.
B. Jagalah tubuh selalu bersih dan sehat, mandilah secara teratur di negeri
tropis sehari dua kali.
C. Jangan merokok terlalu banyak.
D Konsumsilah lebih banyak sayur-sayuran dan buah-buahan dan sedikit
daging, perlu diketahui daging yang berasal dari binatang yang disembilah
dan memasuki raga itu bisa berpengaruh kurang baik, maka itu menjadi
vegetarian ( tidak makan daging ) adalah langkah yang positif.
E Kendalikanlah kehendak atau nafsu, bersikaplah sabar, narima dan eling.
Janganlah terlalu banyak bersenggama, seminggu sekali atau dua kali
sudah cukup.
4. Berlatihlah supaya cipta menjadi lebih kuat, pusatkan cipta kontrol panca indera.
Tenangkan badan ( heneng ) dengan cipta yang jernih dan tentram ( hening ) Bila
cipta bisa dipusatkan dan difokuskan kearah satu sasaran itu bagus, artinya cipta
mulai mempunyai kekuatan sehingga bisa dipakai untuk mengatur satu kehendak
5. Buatlah satu titik atau biru ditembok atau dinding ( . ) duduklah bersila dilantai
menghadap ke tembok, pandanglah titik itu tanpa berkedip untuk beberapa saat,
konsentrasikan cipta, kontrol panca indera, cipta dan pikiran jernih ditujukan
kepada titik tersebut. Jangan memikirkan yang lain, jarak mata dari titik tersebut
kira-kira tujuh puluh lima sentimeter, letak titik tersebut sejajar dengan mata,
lakukan itu dengan santai
6. Lakukan latihan pernafasan dua kali sehari, pada pagi hari sebelum mandi demikian
juga pada sore hari sebelum malam.

CARA BERKENALAN DGN ALLAH

Wasilah, Cara Berkenalan Dengan Allah


Satu hal yang selalu saya syukuri dalam hidup ini karena Allah Yang Maha Pemurah berkenan memperkenalkan Kekasih-Nya, Seorang Guru Mursyid kepadaku sehingga lewat Beliau saya diizinkan oleh Allah untuk mengenal-Nya dengan sebenar-benar kenal.

“Kenal” dengan “tahu” adalah dua kata yang berbeda. Kebanyakan kita mengetahui tentang Allah tapi tidak mengenal-Nya. Kita mengetahui nama Presiden RI, yang sekarang sedang menjabat bernama Susilo Bambang Yudhoyono atau akrab di panggil SBY dan seperti umumnya masyarakat Indonesia pasti mengetahui nama Presidennya dan mungkin ada yang pernah melihat wajahnya secara langsung atau lewat TV. Hubungan kita dengan Presiden umumnya adalah hubungan “mengetahui” bukan hubungan “berkenalan”. Kita dianggap kenal, apabila pernah berjumpa, berjabat tangan dan saling menatap dan paling tidak ada ucapan sepatah dua patah kata dari Presiden kepada kita atau dialog kecil dengan demikian maka perkenalan kita dengan presiden menjadi sah. Hampir semua orang mengetahui dan mempunyai pengetahuan tentang sosok Presidennya minimal mengenal nama namun hanya segelintir orang yang benar-benar pernah berkenalan dengan Presiden. Istri dan anak2 Presiden sangat dekat hubungan dengan Beliau begitu juga dengan para pembantunya, Para Menteri, Gubernur, bupati sampai kepada Pak Lurah, kesemuanya adalah orang-orang yang mempunyai hubungan dengan presiden dan semakin kecil jabatan yang dipegang akan semakin kecil pula peluang untuk bisa berkenalan dengan Presiden.

Dalam kasus tertentu, bisa jadi orang yang tidak mempunyai jabatan sama sekali, hanya rakyat kecil bisa begitu kenal dengan Presiden. Bisa pembantu Rumah Tangga Presiden, atau tukang sapu yang bertugas menyapu jalan di depan rumah Presiden sehingga setiap pagi bisa melihat bahkan mendapat sapaan akrab dari presiden.

Senang atau tidak senang, untuk bisa berkenalan dengan Presiden harus mengikuti aturan yang telah ditetapkan, kalau tidak sesuai dengan aturan sampai kapanpun kita tidak akan pernah berkenalan dengan presiden atau malah kita kenal dengan Presiden gadungan atau sok kenal dengan presiden padahal belum pernah sekalipun berjumpa dengan Presiden.

Kenal dengan Presiden saja harus mengikuti aturan yang telah ditetapkan, begitu juga dengan kenal dengan Allah Sang Maha Raja Dunia Akhirat, tentu aturannya lebih ketat lagi. Selain kelompok Atheis, semua orang mengakui adanya Tuhan, dan sebagian besar mengetahui nama Tuhannya dengan baik bahkan menghapal sifat-sifat Baik dan nama-nama baik (Asmaul Husna) dari Tuhannya, namun sedikit sekali yang bisa berkenalan dengan Tuhannya. Analogi Presiden yang saya tulis diatas untuk memudahkan kita memahami hubungan antara manusia dengan Tuhan agar kita tidak merasa kenal apalagi merasa dekat.

Allah memberikan aturan bagaimana manusia bisa berkenalan dengan Allah lewat firman-Nya dalam surat Al-Maidah 35, “Wahai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah dan carilah WASILAH (Frekwensi/gelombang yang bisa mendekatkan) kepadaNya dan berjuanglah di jalanNya agar kalian beruntung.” Tentang WASILAH, Allah juga berfirman dalam Surat Al-Isra’ ayat 57, “Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari “Al Wasilah” kepada Rabb mereka, siapakah diantara mereka yang lebih dekat (kepada Allah)….”.

Kali ini kita tidak membahas tentang WASILAH secara luas karena sudah pernah saya bahas pada tulisan-tulisan lalu seperti Berwasilah Kepada Mursyid atau Rabithah Mursyid yang intinya Wasilah adalah sesuatu yang bisa mendekatkan kita dengan Allah. Banyak orang yang keliru memahami Wasilah dan menganggap Wasilah itu manusia sehingga hal inilah yang menyebabkan orang luar Tarekat menuduh pengamal Tarekat melakukan perbuatan Syirik (Menduakan Tuhan).

Wasilah bukanlah manusia, bahkan Para Nabi dan Rasul, Wali Allah atau Guru Mursyid bukanlah Wasilah, mereka hanya sebagai pembawa Wasilah yang berasal dari sisi Allah SWT. Wasilah dalam surat An-Nur 35 adalah Nur ala Nurin (Cahaya di atas Cahaya) yang diberikan Allah kepada siapa yang dikehendaki. Muhammad bin Abdullah adalah manusia biasa kemudian menjadi Rasulullah (utusan Allah) karena Beliau dipercayakan Allah untuk membawa cahaya-Nya berupa Nur Muhammad, sebagai Wasilah manusia dengan Allah.

Menghadirkan Wajah Rasulullah SAW (Bagi ummat yang hidup sezaman dengan Nabi) atau menghadirkan wajah Guru Mursyid sebagai ulama pewaris Nabi (Bagi ummat yang hidup sesudah Nabi) di dalam zikir dan ibadahnya berfungsi untuk menemukan WASILAH yang adalah dalam diri Nabi/Guru Mursyid sehingga menemukan frekwensi dan gelombang Allah, dengan demikian rohani seluruh ummat Muhammad akan berhubungan dengan Allah SWT. Itulah sebabnya ketika sahabat Nabi Saidina Ummar bin Khattab meminta izin kepada Nabi untuk melakukan Umrah, Nabi berpesan kepada Umar, “Wahai saudaraku umar, dimanapun engkau berada dan ibadah apapun yang kau lakukan, jangan lupakan Kami”. Tentu saja “Kami” yang dimaksud oleh Rasulullah adalah Allah dan Rasul-Nya.Wasilah,
Coba disimak doa sesudah azan :
Ya Allah, Tuhan yang memiliki seruan yang sempurna ini dan shalat yang didirikan, berilah kepada Nabi Muhamad s.a.w. wasilah dan keutamaan, dan bangkitkanlah ia pada tempat yang terpuji sebagaimana yang telah Engkau janjikan… (HR. Bukhari).

Maknanya siapun yang ingin menegakkan Shalat harus terlebih dahulu menemukan WASILAH, menggabungkan rohaninya dengan Rohani Rasulullah sehingga tercapailah Shalat yang Khusyuk dan benar-benar shalat menjadi media untuk Mikraj bagi orang beriman.

Shalat yang khusuk (Rohani yang shalat tersambung dengan rohani Rasulullah yang selalu beserta Allah) akan memberikan “Power” bagi siapapun yang melaksanakan dan benar-benar bisa mencegah perbuatan keji dan mungkar seperti yang dijanjikan dalam al-Qur’an dan menjadi kunci kemenangan dunia akhirat karena di dalam shalat tersebut akan terjadi dialog langsung antara hamba dengan Tuhannya dan inilah kunci kekuatan Islam Mulia Raya yang tiada tolak tandingnya,

Kaum orientalis (musuh Islam yang mempelajari Islam untuk merusak dan menjatuhkan Islam) mengetahui sumber kekuatan Islam ini, yaitu hubungan yang kuat secara zahir bathin antara ummat dengan Rasulullah dan hubungan ini berusaha diputuskan secara pelan-pelan lewat agen-agen yang menyusup kedalam Islam dan mengkampanyekan gerakan anti Tasawuf untuk melemahkan Islam dari dalam. Orientalis berhasil mempengaruhi orang Arab sehingga dari Arablah muncul aliran yang menentang Tawasul, Rabithah dan traidisi ibadah dalam Tasawuf yang sudah ada sejak zaman Nabi dan diperlihara serta dipertahankan oleh para sahabat dan para ulama selama ribuan. Dengan dalih ingin menegakkan Tauhid, maka dihancurkan situs-situs bersejarah Islam yang dianggap bisa menjadi tempat praktek-praktek ibadah yang mengarah kepada perbuatan syirik.

Kaum orientalis menyelidiki kunci keberhasilan kekhalifahan Islam yang tidak pernah kalah dalam perang karena meraka begitu mencintai sunnah Nabi dan mencintai ulama pewaris ilmu Nabi, hubungan kecintaan dengan Nabi bukan sekedar hubungan secara zahir semata tapi juga secara bathin. Para Nabi dan Para Wali tidaklah mati, mereka hidup disisi Allah, karenanya sampai akhir zamanpun kuburan Nabi dan Wali tetap akan memberikan berkah kepada siapapun yang menziarahinya. Inilah yang dipertahankan oleh ummat Islam selama 1300 tahun sampai datang kelompok baru yang muncul di arab berusaha menghilangkan tradisi ini. Ada kecemburuan dari ummat lain melihat Islam begitu lengkap dan terjaga peninggalan2-peninggalan sejarahnya sehingga mereka berusaha menghilangkan sehingga ummat Islam terpisah dengan sejarah masa lalunya.

Gerakan anti Tasawuf yang berpusat di Arab Saudi melakukan kampanye besar-besaran keseluruh dunia dengan dana kampanye yang luar biasa besar berasal dari minyak telah berhasil mempengaruhi sebagian besar ummat Islam yang awalnya hampir seluruh dunia menolak paham anti Tasawuf ini. Dikuasai dua kota suci umma Islam, Mekkah dan Madinah ikut membantu kampanye mereka karena orang mengganggap praktek ibadah yang dilakukan di dua kota suci tersebut yang paling benar. Gerakan ini sepintas lalu sangat manis nampaknya karena mereka mengajak kembali ke Al-Qur’an dan Hadist dan kembali kepada cara beragama zaman Rasulullah padahal yang terjadi sebenarnya adalah mereka menghilangkan mata rantai Islam yang telah terbangun ribuan tahun sehingga Ummat Islam dipaksa memahami Al-Qur’an dan Hadist menurut pemikiran mereka.

Ketika Teknik berhubungan dengan Allah berupa Wasilah ini dihilangkan oleh sebagian besar ummat Islam (karena dianggap sebagai perbuatan syirik) maka muncullah cara beragama yang kasar dan kaku hilang dari nilai-nilai mistis yang menjadi sumber kekuatan ummat Islam. Timbul sikap tidak toleran kepada orang yang berbeda pemahaman dengan mereka dan ini memang sengaja diciptakan oleh musuh-musuh Islam untuk menyerang Islam dari dalam. Ummat ini tidak menyadari bahaya aliran yang menyerang Tasawuf dan mensejajarkan tasawuf dengan aliran2 sesat yang memang sengaja diciptakan oleh mereka.

Tidak cukup itu saja, orientalis bahkan menciptakan Tarekat-tarekat palsu yang silsilah (jalur keguruan) tidak bersambung kepada Rasulullah dan juga menulis buku-buku kajin tasawuf yang tidak standar sehingga masyarakat semakin “ngeri” melihat Tasawuf.

Tasawuf dengan teknik wasilahnya bukanlah pilihan bagi ummat (memakai atau tidak memakai), ini adalah hal yang WAJIB di ambil agar ummat Islam tidak terus terperosok ke jurang yang dalam. Ummat Islam harus bangkit dengan membawa Api Islam berupa cahaya Allah dalam hidup sehingga kemanapun dia berada akan menjadi Rahmat bagi seluruh Alam. Ummat Islam jangan menjadi buih di lautan yang terombang ambing tanpa pengangan karena tidak lagi berpegang kepada Tali Allah (Wasilah).

Kita hidup di zaman yang sudah akhir, dan menyatukan Ummat Islam dalam satu pemahaman adalah hal yg mustahil karena Nabi sendiri sudah memprediksikan tentang perpecahan ummat ini dalam hadist Beliau. Yang bisa kita lakukan adalah saling menghormati diantara sesama kita bukan saling menjatuhkan atau menghancurkan saudara sendiri. Prinsipnya sangat sederhana, siapapun yang mengakui Allah sebagai Tuhan dan Muhammad sebagai Rasul maka dia adalah saudara kita, perbedaan-perbedaan dalam memaknai Al-Qur’an serta hadist adalah hal yang wajar dan bukan menjadi penghalang bagi kita semua untuk bersatu.

Bagi anda yang selama ini sangat membenci Tasawuf, segeralah bertaubat dan pelajari tasawuf dengan benar dari sumber-sumber yang bisa dipercaya bukan dari orang-orang yang membenci Tasawuf agar anda mendapat informasi yang benar. Saya termasuk orang yang awalnya sangat membenci Tarekat dengan segala praktek ibadahnya, syukur Alhamdulillah akhirnya Allah memberikan hidayah sehingga saya bisa mendapatkan ilmu Tarekat yang benar dan lewat Tarekatlah saya mengetahui hakikat Tuhan dan mengetahui hal-hal yang selama ini menjadi misteri dalam hidup.

Kita semua memimpikan ummat yang SATU, KUAT dalam TALI ALLAH sehingga rahmat Allah akan selalu tercurahkan kepada kita semua selebat hujan yang turun dari langit karena itu mari kita akhiri sikap saling membenci dan memusuhi diantara kita semua. sMOGA Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang menyatukan kita sebagai ummat yang saling menyayangi dan mencintai dan hati kita dengan lapang menerima perbedaan-perbedaan sebagai bagian dari Rahmat dengan demikian ummat Islam akan kembali jaya sampai akhir zaman, amin ya Rabbal ‘Alamin…
Memahami Konsep Manunggaling Kawula Gusti Syaikh Siti Jenar


Tanbihun.com- Pokok keilmuan Syekh Siti Jenar disebut sebagai “Ngelmu Ma’rifat Kasampurnaning Ngurip” (ilmu ma’rifat kesempurnaan hidup [the science of ma’rifat to attain perfection of life]). Ranggawarsita menyebutkan basis ilmiah ajaran tersebut adalah renungan filsafat yg bentuk aplikasinya adalah metafisika dan etika.

Ajaran metafisika meliputi ontologi, kosmogoni dan antropologi. Ontologi berbicara tentang Ada dan tidak ada. Dalam hal ini, Syekh Siti Jenar merumuskan tentang the Reality of the Absolute being (hakikat Dzat Yang Maha Suci) yg memiliki sifat, nama dan perbuatan “Kami”. Dari “Kami” inilah kemudian muncul “ada” dan “keadaan” lain, yg sifat hakikinya adalah “Tunggal”.

Manusia yg dalam hidupnya di alam kematian dunia ini disebut sebagai khalifatullah (wakil Allah=pecahan ketunggalan Allah), dan kemudian ia harus berwadah dalam bentuk jisim (jasmani) ia harus menyandang gelar “kawula”, sebab jasad harus melakukan aktivitas untuk memelihara jasadnya dari kerusakan dan untuk menunda kematian yg disebut :”ngibadah” kepada yg menyediakan raga (Gusti). Maka kawula hanya memiliki satu tempat kembali, yakni Allah, sebagai asalnya. Maka manusia tidak boleh terjebak dalam wadah yg hanya berfungsi sementara sebagai “wadah” Roh Ilahi. Justru Roh Ilahi inilah yg harus dijaga guna menuju ketunggalan kembali (Manunggaling Kawula Gusti).

Ajaran ini banyak ditentang karena Tuhan dan manusia adalah hal yang berbeda. Tuhan yang mencipta sedangkan manusia yang diciptakan. Jadi antara yang menciptakan dan yang diciptakan tidak bisa bersatu.
Kalo logikanya orang awam : manusia menciptakan mobil ya brarti mobil dan manusia memang berbeda. Manusia mengambil bahan baku untuk membuat mobil diluar dirinya. nah kalau Tuhan menciptakan manusia. Apakah ia juga mengambil bahan baku diluar diri-Nya?

Ada beberapa martir sufi yang mengakui ajaran ini misalnya syeh siti jenar dgn slogannya “Tiada Tuhan Melainkan Aku”. Atau Al Hallaj yang mengatakan “Ana Al Haqq”. Bahkan ada hadist nabi yang menceritakan bahwa nabi Muhammad sendiri pernah mengatakan “Ana Ahmad bi la mim” (Ahad) artinya ya Nabi seakan-akan bilang dirinya Tuhan. istilah2 tersebut jelas menandakan bahwa Tuhan ada di dalam diri mereka. Bahkan di Quran pun dikatakan bahwa Allah itu lebih dekat daripada urat leher kita.

Bagi mereka yang mampu melakukan zikir hingga mencapai tahan “fana” maka biasanya ia akan mengalami “mahzub”. Namun mahzub tidak mesti dalam keadaan fana. Mahzub bisa terjadi dalam keadaan sadar. Manusia yang mengalami mahzub biasanya akan mengatakan “Subhani” (Maha Suci Aku) dan istilah2 lain yang “meniadakan” dirinya sendiri sehingga memunculkan Tuhan dalam dirinya.
Ajaran MKG mengajarkan bahwa ada 3 unsur yang menyatu yaitu :

1. Sukma Kawekas (Nur Illahi)
2. Sukma Sejati (Nur Muhammad)
3. Nur Insan
Sasahidan Syekh Siti Jenar…

“Insun anakseni ing Datingsun dhewe, satuhune ora ana Pangeran amung Ingsun, lan nakseni Ingsun satuhune Muhammad iku utusan Ingsun, iya sajatine kang aran Allah iku badan Ingsun, Rasul iku rahsaning-Sun, Muhammad iku cahyaning-Sun, iya Ingsun kang eling tan kena ing lali, iya Ingsun kan langgeng ora kena owah gingsir ing kahanan jati, iya Ingsun kang waskitha ora kasamaran ing sawiji-wiji, iya Ingsun kang amurba amisesa, kang kawasa wicaksana ora kukurangan ing pangerti, byar.. sampurna padhang terawang-an, ora karasa apa-apa, ora ana keton apa-apa, mung Insun kang nglimputi ing ngalam kabeh, kalawan kodrating-Sun.”

Artinya :

“Aku angkat saksi di hadapan Dzat-Ku sendiri, sesungguhnya tidak ada Tuhan kecuali Aku, dan Aku angkat saksi sesungguhnya Muhammad itu utusan-Ku, sesungguhnya yg disebut Allah Ingsun diri sendiri (badan-Ku), Rasul itu Rahsa-Ku, Muhammad itu cahaya-Ku, Akulah Dzat yg hidup tidak akan terkena mati, Akulah Dzat yang selalu ingat tidak pernah lupa, Akulah Dzat yg kekal tidak ada perubahan dalam segala keadaan, (bagi-Ku) tidak ada yg samar sesuatupun, Akulah Dzat yang Maha Menguasai, yang Kuasa dan Bijaksana, tidak kekurangan dalam pengertian, sempurna terang benerang, tidak terasa apa-apa, tidak kelihatan apa-apa, hanya Aku yg meliputi sekalian alam dengan kodrat-Ku.”
Ajaran- ajaran Syekh Siti Jenar yang bisa dilacak dalam berbagai karya klasik atau buku lama…yaitu..
Serat Dewaroetji, Tan Khoen Swie, Kediri, 1928.
Serat Gatolotjo, Tan Khoen Swie, Kediri, 1931.
Serat Kebo Kenanga, Tan Khoen Swie, Kediri, 1921.
Serat Soeloek Walisongo, Tan Khoen Swie, Kediri, 1931.
Serat Tjebolek, terbitan van Dorp, Semarang, 1886.
Serat Tjentini, terbitan Bat. Genootschap van Kunsten en Wetenschappen, 4 Jl, Batavia, 1912-1915.
Kitab Wedha Mantra, bunga rampai ajaran para wali yang dihimpun oleh Sang Indrajit, diterbitkan oleh Sadu Budi Solo. PAda tahun 1979 sudah mengalami cetak ulang yg ke-12.
Suluk Walisanga, karya R. Tanojo yg di dalamnya memuat dialog-dialog antara Syekh Siti Jenar dengan Anggota Dewan Walisanga, gubahan dari karya Sunan Giri II.
Wejangan Walisanga, dihimpun oleh Wiryapanitra, diterbitkan oleh TB. Sadu Budi Solo, sekitar tahun 1969.
Mengenal Nama Syekh Siti Jenar

Syekh Siti Jenar (829-923 H/1348-1439 C/1426-1517 M), memiliki banyak nama : San Ali (nama kecil pemberian orangtua angkatnya, bukan Hasan Ali Anshar seperti banyak ditulis orang); Syekh ‘Abdul Jalil (nama yg diperoleh di Malaka, setelah menjadi ulama penyebar Islam di sana); Syekh Jabaranta (nama yg dikenal di Palembang, Sumatera dan daratan Malaka); Prabu Satmata (Gusti yg nampak oleh mata; nama yg muncul dari keadaan kasyf atau mabuk spiritual; juga nama yg diperkenalkan kepada murid dan pengikutnya); Syekh Lemah Abang atau Lemah Bang (gelar yg diberikan masyarakat Lemah Abang, suatu komunitas dan kampung model yg dipelopori Syekh Siti Jenar; melawan hegemoni kerajaan. Wajar jika orang Cirebon tidak mengenal nama Syekh Siti Jenar, sebab di Cirebon nama yg populer adalah Syekh Lemah Abang); Syekh Siti Jenar (nama filosofis yg mengambarkan ajarannya tentang sangkan-paran, bahwa manusia secara biologis hanya diciptakan dari sekedar tanah merah dan selebihnya adalah roh Allah; juga nama yg dilekatkan oleh Sunan Bonang ketika memperkenalkannya kepada Dewan Wali, pada kehadirannya di Jawa Tengah/Demak; juga nama Babad Cirebon); Syekh Nurjati atau Pangran Panjunan atau Sunan Sasmita (nama dalam Babad Cirebon, S.Z. Hadisutjipto); Syekh Siti Bang, serta Syekh Siti Brit; Syekh Siti Luhung (nama-nama yg diberikan masyarakat Jawa Tengahan); Sunan Kajenar (dalam sastra Islam-Jawa versi Surakarta baru, era R.Ng. Ranggawarsita [1802-1873]); Syekh Wali Lanang Sejati; Syekh Jati Mulya; dan Syekh Sunyata Jatimurti Susuhunan ing Lemah Abang.

Siti Jenar lebih menunjukkan sebagai simbolisme ajaran utama Syekh Siti Jenar yakni ilmu kasampurnan, ilmu sangkan-paran ing dumadi, asal muasal kejadian manusia, secara biologis diciptakan dari tanah merah saja yg berfungsi sebagai wadah (tempat) persemayaman roh selama di dunia ini. Sehingga jasad manusia tidak kekal akan membusuk kembali ketanah. Selebihnya adalah roh Allah, yg setelah kemusnaan raganya akan menyatu kembali dengan keabadian. Ia di sebut manungsa sebagai bentuk “manunggaling rasa” (menyatu rasa ke dalam Tuhan).

Dan karena surga serta neraka itu adalah untuk derajad fisik maka keberadaan surga dan neraka adalah di dunia ini, sesuai pernyataan populer bahwa dunia adalah penjara bagi orang mukmin. Menurut Syekh Siti Jenar, dunia adalah neraka bagi orang yg menyatu-padu dgn Tuhan. Setelah meninggal ia terbebas dari belenggu wadag-nya dan bebas bersatu dgn Tuhan. Di dunia manunggalnya hamba dgn Tuhan sering terhalang oleh badan biologis yg disertai nafsu-nafsunya. Itulah inti makna nama Syekh Siti Jenar.
Asal Usul Syekh Siti Jenar

Syekh Siti Jenar lahir sekitar tahun 829 H/1348 C/1426 M (Serat She Siti Jenar Ki Sasrawijaya; Atja, Purwaka Tjaruban Nagari (Sedjarah Muladjadi Keradjan Tjirebon), Ikatan Karyawan Museum, Jakarta, 1972; P.S. Sulendraningrat, Purwaka Tjaruban Nagari, Bhatara, Jakarta, 1972; H. Boedenani, Sejarah Sriwijaya, Terate, Bandung, 1976; Agus Sunyoto, Suluk Abdul Jalil Perjalanan Rohani Syaikh Syekh Siti Jenar dan Sang Pembaharu, LkiS, yogyakarta, 2003-2004; Sartono Kartodirjo dkk, [i]Sejarah Nasional Indonesia, Depdikbud, Jakarta, 1976; Babad Banten; Olthof, W.L., Babad Tanah Djawi. In Proza Javaansche Geschiedenis, ‘s-Gravenhage, M.Nijhoff, 1941; raffles, Th.S., The History of Java, 2 vol, 1817), dilingkungan Pakuwuan Caruban, pusat kota Caruban larang waktu itu, yg sekarang lebih dikenal sebagai Astana japura, sebelah tenggara Cirebon. Suatu lingkungan yg multi-etnis, multi-bahasa dan sebagai titik temu kebudayaan serta peradaban berbagai suku.

Selama ini, silsilah Syekh Siti Jenar masih sangat kabur. Kekurangjelasan asal-usul ini juga sama dgn kegelapan tahun kehidupan Syekh Siti Jenar sebagai manusia sejarah.

Pengaburan tentang silsilah, keluarga dan ajaran Beliau yg dilakukan oleh penguasa muslim pada abad ke-16 hingga akhir abad ke-17. Penguasa merasa perlu untuk “mengubur” segala yg berbau Syekh Siti Jenar akibat popularitasnya di masyarakat yg mengalahkan dewan ulama serta ajaran resmi yg diakui Kerajaan Islam waktu itu. Hal ini kemudian menjadi latar belakang munculnya kisah bahwa Syekh Siti Jenar berasal dari cacing.

Dalam sebuah naskah klasik, cerita yg masih sangat populer tersebut dibantah secara tegas,
“Wondene kacariyos yen Lemahbang punika asal saking cacing, punika ded, sajatosipun inggih pancen manungsa darah alit kemawon, griya ing dhusun Lemahbang.” [Adapun diceritakan kalau Lemahbang (Syekh Siti Jenar) itu berasal dari cacing, itu salah. Sebenarnya ia memang manusia berdarah kecil saja (rakyat jelata), bertempat tinggal di desa Lemah Abang]….

Jadi Syekh Siti Jenar adalah manusia lumrah hanya memang ia walau berasal dari kalangan bangsawan setelah kembali ke Jawa menempuh hidup sebagai petani, yg saat itu, dipandang sebagai rakyat kecil oleh struktur budaya Jawa, disamping sebagai wali penyebar Islam di Tanah Jawa.

Syekh Siti Jenar yg memiliki nama kecil San Ali dan kemudian dikenal sebagai Syekh ‘Abdul Jalil adalah putra seorang ulama asal Malaka, Syekh Datuk Shaleh bin Syekh ‘Isa ‘Alawi bin Ahmadsyah Jamaludin Husain bin Syekh ‘Abdullah Khannuddin bin Syekh Sayid ‘Abdul Malikal-Qazam. Maulana ‘Abdullah Khannuddin adalah putra Syekh ‘Abdul Malik atau Asamat Khan. Nama terakhir ini adalah seorang Syekh kalangan ‘Alawi kesohor di Ahmadabad, India, yg berasal dari Handramaut. Qazam adalah sebuah distrik berdekatan dgn kota Tarim di Hadramaut.

Syekh ‘Abdul Malik adalah putra Syekh ‘Alawi, salah satu keluarga utama keturunan ulama terkenal Syekh ‘Isa al-Muhajir al-Bashari al-‘Alawi, yg semua keturunannya bertebaran ke berbagai pelosok dunia, menyiarkan agama Islam. Syekh ‘Abdul Malik adalah penyebar agama Islam yg bersama keluarganya pindah dari Tarim ke India. Jika diurut keatas, silsilah Syekh Siti Jenar berpuncak pada Sayidina Husain bin ‘Ali bin Abi Thalib, menantu Rasulullah. Dari silsilah yg ada, diketahui pula bahwa ada dua kakek buyutnya yg menjadi mursyid thariqah Syathariyah di Gujarat yg sangat dihormati, yakni Syekh Abdullah Khannuddin dan Syekh Ahmadsyah Jalaluddin. Ahmadsyah Jalaluddin setelah dewasa pindah ke Kamboja dan menjadi penyebar agama Islam di sana.

Adapun Syekh Maulana ‘sa atau Syekh Datuk ‘Isa putra Syekh Ahmadsyah kemudian bermukim di Malaka. Syekh Maulana ‘Isa memiliki dua orang putra, yaitu Syekh Datuk Ahamad dan Syekh Datuk Shaleh. Ayah Syekh Siti Jenar adalah Syekh Datuk Shaleh adalah ulama sunni asal Malaka yg kemudian menetap di Cirebon karena ancaman politik di Kesultanan Malaka yg sedang dilanda kemelut kekuasaan pada akhir tahun 1424 M, masa transisi kekuasaan Sultan Muhammad Iskandar Syah kepada Sultan Mudzaffar Syah. Sumber-sumber Malaka dan Palembang menyebut nama Syekh Siti Jenar dgn sebutan Syekh Jabaranta dan Syekh ‘Abdul Jalil.
Pada akhir tahun 1425, Syekh Datuk Shaleh beserta istrinya sampai di Cirebon dan saat itu, Syekh Siti Jenar masih berada dalam kandungan ibunya 3 bulan. Di Tanah Caruban ini, sambil berdagang Syekh Datuk Shaleh memperkuat penyebaran Islam yg sudah beberapa lama tersiar di seantero bumi Caruban, besama-sama dgn ulama kenamaan Syekh Datuk Kahfi, putra Syehk Datuk Ahmad. Namun, baru dua bulan di Caruban, pada tahun awal tahun 1426, Syekh Datuk Shaleh wafat.

Sejak itulah San Ali atau Syekh Siti Jenar kecil diasuh oleh Ki Danusela serta penasihatnya, Ki Samadullah atau Pangeran Walangsungsang yg sedang nyantri di Cirebon, dibawah asuhan Syekh datuk Kahfi.
Jadi walaupun San Ali adalah keturunan ulama Malaka, dan lebih jauh lagi keturunan Arab, namun sejak kecil lingkungan hidupnya adalah kultur Cirebon yg saat itu menjadi sebuah kota multikultur, heterogen dan sebagai basis antarlintas perdagangan dunia waktu itu.

Saat itu Cirebon dgn Padepokan Giri Amparan Jatinya yg diasuh oleh seorang ulama asal Makkah dan Malaka, Syekh Datuk Kahfi, telah mampu menjadi salah satu pusat pengajaran Islam, dalam bidang fiqih dan ilmu ‘alat, serta tasawuf. Sampai usia 20 tahun, San Ali mempelajari berbagai bidang agama Islam dgn sepenuh hati, disertai dgn pendidikan otodidak bidang spiritual.
Padepokan Giri Amparan Jati

Setelah diasuh oleh Ki Danusela samapai usia 5 tahun, pada sekitar tahun 1431 M, Syekh Siti Jenar kecil (San Ali) diserahkan kepada Syekh Datuk Kahfi, pengasuh Pedepokan Giri Amparan Jati, agar dididik agama Islam yg berpusat di Cirebon oleh Kerajaan Sunda di sebut sebagai musu(h) alit [musuh halus].

Di Padepokan Giri Amparan Jati ini, San Ali menyelesaikan berbagai pelajaran keagamaan, terutama nahwu, sharaf, balaghah, ilmu tafsir, musthalah hadist, ushul fiqih dan manthiq. Ia menjadi santri generasi kedua. Sedang yg akan menjadi santri generasi ketiga adalah Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati. Syarif Hidayatullah baru datang ke Cirebon, bersamaan dgn pulangnya Syekh Siti Jenar dari perantauannya di Timur Tengah sekitar tahun 1463, dalam status sebagai siswa Padepokan Giri Amparan Jati, dgn usia sekitar 17-an tahun.

Pada tahun 1446 M, setelah 15 tahun penuh menimba ilmu di Padepokan Amparan Jati, ia bertekad untuk keluar pondok dan mulai berniat untuk mendalami kerohanian (sufi). Sebagai titik pijaknya, ia bertekad untuk mencari “sangkan-paran” dirinya.
Tujuan pertmanya adalah Pajajaran yg dipenuhi oleh para pertapa dan ahli hikmah Hindu-Budha. Di Pajajaran, Syekh Siti Jenar mempelajari kitab Catur Viphala warisan Prabu Kertawijaya Majapahit. Inti dari kitab Catur Viphala ini mencakup empat pokok laku utama.

Pertama, nihsprha, adalah suatu keadaan di mana tidak adal lagi sesuatu yg ingin dicapai manusia. Kedua, nirhana, yaitu seseorang tidak lagi merasakan memiliki badan dan karenanya tidak ada lagi tujuan. Ketiga, niskala adalah proses rohani tinggi, “bersatu” dan melebur (fana’) dgn Dia Yang Hampa, Dia Yang Tak Terbayangkan, Tak Terpikirkan, Tak Terbandingkan. Sehingga dalam kondisi (hal) ini, “aku” menyatu dgn “Aku”. Dan keempat, sebagai kesudahan dari niskala adalah nirasraya, suatu keadaan jiwa yg meninggalkan niskala dan melebur ke Parama-Laukika (fana’ fi al-fana’), yakni dimensi tertinggi yg bebas dari segala bentuk keadaan, tak mempunyai ciri-ciri dan mengatasi “Aku”.

Dari Pajajaran San Ali melanjutkan pengembaraannya menuju Palembang, menemui Aria Damar, seorang adipati, sekaligus pengamal sufi-kebatinan, santri Maulana Ibrahim Samarkandi. Pada masa tuanya, Aria Damar bermukim di tepi sungai Ogan, Kampung Pedamaran.

Diperkirakan Syekh Siti Jenar berguru kepada Aria Damar antara tahun 1448-1450 M. bersama Aria Abdillah ini, San Ali mempelajari pengetahuan tentang hakikat ketunggalan alam semesta yg dijabarkan dari konsep “nurun ‘ala nur” (cahaya Maha Cahaya), atau yg kemudian dikenal sebagai kosmologi emanasi.

Dari Palembang, San Ali melanjutkan perjalanan ke Malaka dan banyak bergaul dgn para bangsawan suku Tamil maupun Malayu. Dari hubungan baiknya itu, membawa San Ali untuk memasuki dunia bisnis dgn menjadi saudagar emas dan barang kelontong. Pergaulan di dunia bisnis tsb dimanfaatkan oleh San Ali untuk mempelajari berbagai karakter nafsu manusia, sekaligus untuk menguji laku zuhudnya ditengah gelimang harta. Selain menjadi saudagar, Syekh Siti jenar juga menyiarkan agama Islam yg oleh masyarakat setempat diberi gelar Syekh jabaranta. Di Malaka ini pula, ia bertemu dgn Datuk Musa, putra Syekh Datuk Ahmad. Dari uwaknya ini, Syekh Datuk Ahmad, San Ali dianugerahi nama keluarga dan nama ke-ulama-an Syekh Datuk ‘Abdul Jalil.
Pencerahan Rohani di Baghdad

Setelah mengetahui bahwa dirinya merupakan salah satu dari keluarga besar ahlul bait (keturunan Rasulullah), Syekh Siti Jenar semakin memiliki keinginan kuat segera pergi ke Timur Tengah terutama pusat kota suci Makkah.

Dalam perjalanan ini, dari pembicaraan mengenai hakikat sufi bersama ulama Malaka asal Baghdad Ahmad al-Mubasyarah al-Tawalud di sepanjang perjalanan. Syekh Siti Jenar mampu menyimpan satu perbendaharaan baru, bagi perjalanan rohaninya yaitu “ke-Esaan af’al Allah”, yakni kesadaran bahwa setiap gerak dan segala peristiwa yg tergelar di alam semesta ini, baik yg terlihat maupun yg tidak terlihat pada hakikatnya adalah af’al Allah. Ini menambah semangatnya untuk mengetahui dan merasakan langsung bagaimana af’al Allah itu optimal bekerja dalam dirinya.

Inilah pangkal pandangan yg dikemudian hari memunculkan tuduhan dari Dewan Wali, bahwa Syekh Siti Jenar menganut paham Jabariyah. Padahal bukan itu pemahaman yg dialami dan dirasakan Syekh Siti Jenar. Bukan pada dimensi perbuatan alam atau manusianya sebagai tolak titik pandang akan tetapi justru perbuatan Allah melalui iradah dan quradah-NYA yg bekerja melalui diri manusia, sebagai khalifah-NYA di alam lahir. Ia juga sampai pada suatu kesadaran bahwa semua yg nampak ada dan memiliki nama, pada hakikatnya hanya memiliki satu sumber nama, yakni Dia Yang Wujud dari segala yg maujud.

Sesampainya di Baghdad, ia menumpang di rumah keluarga besar Ahmad al-Tawalud. Disinilah cakrawala pengetahuan sufinya diasah tajam. Sebab di keluarga al-Tawalud tersedia banyak kitab-kitab ma’rifat dari para sufi kenamaan. Semua kitab itu adalah peninggalan kakek al-Tawalud, Syekh ‘Abdul Mubdi’ al-Baghdadi. Di Irak ini pula, Syekh Siti Jenar bersentuhan dgn paham Syi’ah Ja’fariyyah, yg di kenal sebagai madzhab ahl al-bayt.

Syekh Siti Jenar membaca dan mempelajari dgn Baik tradisi sufi dari al-Thawasinnya al-Hallaj (858-922), al-Bushtamii (w.874), Kitab al-Shidq-nya al-Kharaj (w.899), Kitab al-Ta’aruf al-Kalabadzi (w.995), Risalah-nya al-Qusyairi (w.1074), futuhat al-Makkiyah dan Fushush al-Hikam-nya Ibnu ‘Arabi (1165-1240), Ihya’ Ulum al-Din dan kitab-kitab tasawuf al-Ghazali (w.1111), dan al-Jili (w.1428). secara kebetulan periode al-jili meninggal, Syekh Siti Jenar sudah berusia dua tahun. Sehingga saat itu pemikiran-permikiran al-Jili, merupakan hal yg masih sangat baru bagi komunitas Islam Indonesia.

Dan sebenarnya Syekh Siti Jenar-lah yg pertama kali mengusung gagasan al-Hallaj dan terutama al-Jili ke Jawa. Sementara itu para wali anggota Dewan Wali menyebarluaskan ajaran Islam syar’i madzhabi yg ketat. Sebagian memang mengajarkan tasawuf, namun tasawuf tarekati, yg kebanyakkan beralur pada paham Imam Ghazali. Sayangnya, Syekh Siti Jenar tidak banyak menuliskan ajaran-ajarannya karena kesibukannya menyebarkan gagasan melalui lisan ke berbagai pelosok Tanah Jawa. Dalam catatan sastra suluk Jawa hanya ada 3 kitab karya Syekh Siti Jenar; Talmisan, Musakhaf (al-Mukasysyaf) dan Balal Mubarak. Masyarakat yg dibangunnya nanti dikenal sebagai komunitas Lemah Abang.

Dari sekian banyak kitab sufi yg dibaca dan dipahaminya, yg paling berkesan pada Syekh Siti Jenar adalah kitab Haqiqat al-Haqa’iq, al-Manazil al-Alahiyah dan al-Insan al-Kamil fi Ma’rifat al-Awakhiri wa al-Awamil (Manusia Sempurna dalam Pengetahuan tenatang sesuatu yg pertama dan terakhir). Ketiga kitab tersebut, semuanya adalah puncak dari ulama sufi Syekh ‘Abdul Karim al-Jili.
Terutama kitab al-Insan al-Kamil, Syekh Siti Jenar kelak sekembalinya ke Jawa menyebarkan ajaran dan pandangan mengenai ilmu sangkan-paran sebagai titik pangkal paham kemanuggalannya. Konsep-konsep pamor, jumbuh dan manunggal dalam teologi-sufi Syekh Siti Jenar dipengaruhi oleh paham-paham puncak mistik al-Hallaj dan al-Jili, disamping itu karena proses pencarian spiritualnya yg memiliki ujung pemahaman yg mirip dgn secara praktis/’amali-al-Hallaj; dan secara filosofis mirip dgn al-Jili dan Ibnu ‘Arabi.

Syekh Siti Jenar menilai bahwa ungkapan-ungkapan yg digunakan al-Jili sangat sederhana, lugas, gampang dipahami namun tetap mendalam. Yg terpenting, memiliki banyak kemiripan dgn pengalaman rohani yg sudah dilewatkannya, serta yg akan ditempuhnya. Pada akhirnya nanti, sekembalinya ke Tanah Jawa, pengaruh ketiga kitab itu akan nampak nyata, dalam berbagai ungkapan mistik, ajaran serta khotbah-khotbahnya, yg banyak memunculkan guncangan-guncangan keagamaan dan politik di Jawa.
Syekh Siti Jenar banyak meluangkan waktu mengikuti dan mendengarkan konser-konser musik sufi yg digelar diberbagai sama’ khana. Sama’ khana adalah rumah-rumah tempat para sufi mendengarkan musik spiritual dan membiarkan dirinya hanyut dalam ekstase (wajd). Sama’ khana mulai bertumbuhan di Baghdad sejak abad ke-9 (Schimmel; 1986, hlm. 185). Pada masa itu grup musik sufi yg terkenal adalah al-Qawwal dgn penyanyi sufinya ‘Abdul Warid al-Wajd.

Berbagai pengalaman spiritual dilaluinya di Baghdad sampai pada tingkatan fawa’id (memancarnya potensi pemahaman roh karena hijab yg menyelubunginya telah tersingkap. Dgn ini seseorang akan menjadi berbeda dgn umumnya manusia); dan lawami’ (mengejawantahnya cahaya rohani akibat tersingkapnya fawa’id), tajaliyat melalui Roh al-haqq dan zawaid (terlimpahnya cahaya Ilahi ke dalam kalbu yg membuat seluruh rohaninya tercerahkan). Ia mengalami berbagai kasyf dan berbagai penyingkapan hijab dari nafsu-nafsunya. Disinilah Syekh Siti Jenar mendapatkan kenyataan memadukan pengalaman sufi dari kitab-kitab al-Hallaj, Ibnu ‘Arabi dan al-Jili.

Bahkan setiap kali ia melantunkan dzikir dikedalaman lubuk hatinya dgn sendirinya ia merasakan denting dzikir dan menangkap suara dzikir yg berbunyi aneh, Subhani, alhamdu li, la ilaha illa ana wa ana al-akbar, fa’budni (mahasuci aku, segala puji untukku, tiada tuhan selain aku, maha besar aku, sembahlah aku). Walaupun telinganya mendengarkan orang di sekitarnya membaca dzikir Subhana Allah, al-hamduli Allahi, la ilaha illa Allah, Allahu Akbar, fa’buduhu, namun suara yg di dengar lubuk hatinya adalah dzikir nafsi, sebagai cerminan hasil man ‘arafa bafsahu faqad ‘arafa Rabbahu tersebut. Sampai di sini, Syekh Siti Jenar semakin memahami makna hadist Rasulullah “al-Insan sirri wa ana sirruhu” (Manusia adalah Rahasia-Ku dan Aku adalah rahasianya).

Sebenarnya inti ajaran Syekh Siti Jenar sama dgn ajaran sufi ‘Abdul Qadir al-Jilani (w.1165), Ibnu ‘Arabi (560/1165-638-1240), Ma’ruf al-Karkhi, dan al-Jili. Hanya saja ketiga tokoh tsb mengalami nasib yg baik dalam artian, ajarannya tidak dipolitisasi, sehingga dalam kehidupannya di dunia tidak pernah mengalami intimidasi dan kekerasan sebagai korban politik dan menemui akhir hayat secara biasa.

Dari perenungannya mengenai dunia nafsu manusia, hal ini membawa Syekh Siti Jenar menuai keberhasilan menaklukkan tujuh hijab, yg menjadi penghalang utama pendakian rohani seorang salik (pencari kebenaran). Tujuh hijab itu adalah lembah kasal (kemalasan naluri dan rohani manusia); jurang futur (nafsu menelan makhluk/orang lain); gurun malal (sikap mudah berputus asa dalam menempuh jalan rohani); gurun riya’ (bangga rohani); rimba sum’ah (pamer rohani); samudera ‘ujub (kesombongan intelektual dan kesombongan ragawi); dan benteng hajbun (penghalang akal dan nurani).
Ingsun, Allah dan Kemanunggalan (Syekh Siti Jenar)
1.“Sabda sukma, adhep idhep Allah, kang anembah Allah, kang sinembah Allah, kang murba amisesa.”

Pernyataan Syekh Siti Jenar diatas secara garis besarnya adalah: “Pernyataan roh yg bertemu-hadapan dgn Allah, yg menyembah Allah, yg disembah Allah, yg meliputi segala sesuatu.”

Ini adalah salah satu sumber pengetahuan ajaran Syekh Siti Jenar yg maksudnya adalah sukma (roh di kedalaman jiwa) sebagai pusat kalam (pembicaraan dan ajaran). Hal itu diakibatkan karena di kedalaman roh batin manusia tersedia cermin yg disebut mir’ah al-haya’ (cermin yg memalukan). Bagi orang yg sudah bisa mengendalikan hawa nafsunya serta mencapai fana’ cermin tersebut akan muncul, yg menampakkan kediriannya dengan segala perbuatan tercelanya. Jika ini telah terbuka maka tirai-tirai Rohani juga akan tersingkap, sehingga kesejatian dirinya beradu-adu (adhep idhep), “aku ini kau, tapi kau aku”.

Maka jadilah dia yg menyembah sekaligus yg disembah, sehingga dirinya sebagai kawula-Gusti memiliki wewenang murba amisesa, memberi keputusan apapun tentang dirinya, menyatu iradah dan kodrat kawula-Gusti.
2. “Hidup itu bersifat baru dan dilengkapi dengan pancaindera.

Pancaindera ini merupakan barang pinjaman, yg jika sudah diminta oleh yg empunya, akan menjadi tanah dan membusuk, hancur lebur bersifat najis. Oleh karena itu pancaindera tidak dapat dipakai sebagai pedoman hidup. Demikian pula budi, pikiran, angan-angan dan kesadaran, berasal dari pancaindera, tidak dapat dipakai sebagai pegangan hidup. Akal dapat menjadi gila, sedih, bingung, lupa tidur dan seringkali tidak jujur. Akal itu pula yg siang malam mengajak dengki, bahkan merusak kebahagiaan orang lain. Dengki dapat pula menuju perbuatan jahat, menimbulkan kesombongan, untuk akhirnya jatuh dalam lembah kenistaan, sehingga menodai nama dan citranya. Kalau sudah sampai sedemikian jauhnya, baru orang menyesalkan perbuatannya.”

Menurut Syekh Siti Jenar, baik pancaindera maupun perangkat akal tidak dapat dijadikan pegangan dan pedoman hidup. Sebab semua itu bersifat baru, bukan azali. Satu-satunya yg bisa dijadikan gondhelan dan gandhulan hanyalah Zat Wajibul Maulanan, Zat Yang Maha Melindungi. Pancaindera adalah pintu nafsu dan akal adalah pintu bagi ego. Semuanya harus ditundukkan di bawah Zat Yang Wajib memimpin.

Karena hanya Dialah yg menunjukkan semua budi baik. Jadi pancaindera harus dibimbing oleh budi dan budi dipimpin oleh Sang Penguasa Budi atau Yang Maha Budi. Sedangkan Yang Maha Budi itu tidak terikat dalam jeratan dan jebakan nama tertentu. Sebab nama bukanlah hakikat. Nama itu bisa Allah, Hyang Widi, Hyang Manon, Sang Wajibul Maulana dan sebagainya. Semua itu produk akal, sehingga nama tidak perlu disembah. Jebakan nama dalam syari’at justru malah merendahkan nama-NYA.
3.“Apakah tidak tahu bahwa penampilan bentuk daging, urat, tulang, sunsum, bisa rusak dan bagaimana cara Anda memperbaikinya?

Biarpun bersembahyang seribu kali setiap harinya akhirnya mati juga. Meskipun badan Anda, Anda tutupi akhirnya menjadi debu juga. Tetapi jika penampilan bentuknya seperti Tuhan, Apakah para Wali dapat membawa Pulang dagingnya, saya rasa tidak dapat. Alam semesta ini baru. Tuhan tidak akan membentuk dunia ini dua kali dan juga tidak akan membuat tatanan batu, dalilnya layabtakiru hilamuhdil yg artinya tidak membuat sesuatu wujud lagi tentang terjadinya alam semesta sesudah dia membuat dunia.”
Dari pernyataan itu nampak Syekh Siti Jenar memandang alam makrokosmos sama dengan mikrokosmos (manusia). Kedua hal tersebut merupakan barang baru ciptaan Tuhan yg sama-sama akan mengalami kerusakan atau tidak kekal.

Pada sisi lain, pernyataan Syekh Siti Jenar tsb mempunyai muatan makna pernyataan sufistik, “Barangsiapa mengenal dirinya, maka ia pasti mengenal Tuhannya.” Sebab bagi Syekh Siti Jenar manusia yg utuh dalam jiwa raganya merupakan wadag bagi penyanda, termasuk penyanda alam semesta. Itulah sebabnya pengelolaan alam semesta menjadi tanggungjawab manusia.

Maka mikrokosmos manusia, tidak lain adalah Blueprint dan gambaran adanya jagat besar termasuk semesta.
Baginya Manusia terdiri dari jiwa dan raga yg intinya ialah jiwa sebagai penjelmaan dzat Tuhan (Sang Pribadi). Sedangkan raga adalah bentuk luar dari jiwa yg dilengkapi pancaindera, berbagai organ tubuh seperti daging, otot, darah dan tulang. Semua aspek keragaan atau ketubuhan adalah barang pinjaman yg suatu saat setelah manusia terlepas dari pengalaman kematian di dunia ini, akan kembali berubah menjadi tanah. Sedangkan rohnya yg menjadi tajalli Ilahi, manunggal ke dalam keabadian dengan Allah.
4. “Segala sesuatu yg terjadi di alam semesta ini pada hakikatnya adalah af’al (perbuatan) Allah.

Berbagai hal yg dinilai baik maupun buruk pada hakikatnya adalah dari Allah juga. Jadi keliru dan sesat pandangan yg mengatakan bahwa yg baik dari Allah dan yg buruk dari selain Allah.” “…Af’al Allah harus dipahami dari dalam dan dari luar diri. Saat manusia menggoreskan pena misalnya, di situ lah terjadi perpaduan dua kemampuan kodrati yg dipancarkan oleh Allah kepada makhluk-NYA, yakni kemampuan kodrati gerak pena. Di situlah berlaku dalil “Wa Allahu khalaqakum wa ma ta’malun (Qs.Ash-Shaffat:96)”, yg maknanya Allah yg menciptakan engkau dan segala apa yg engkau perbuat. Di sini terkandung makna mubasyarah. Perbuatan yg terlahir dari itu disebut al-tawallud. Misalnya saya melempar batu. Batu yg terlempar dari tangan saya itu adalah berdasarkan kemampuan kodrati gerak tangan saya. Di situ berlaku dalil “Wa ma ramaita idz ramaita walakinna Allaha rama (Qs.Al-Anfal:17)”, maksudnya bukanlah engkau yg melempar, melainkan Allah jua yg melempar ketika engkau melempar. Namun pada hakikatnya antara mubasyarah dan al-tawallud hakikatnya satu, yakni af’al Allah sehingga berlaku dalil la haula wa la quwwata illa bi Allahi al-‘aliyi al-‘adzimi. Rosulullah bersabda “La tataharraku dzarratun illa bi idzni Allahi”, yg maksudnya tidak akan bergerak satu dzarah pun melainkan atas idzin Allah.”

Eksistensi manusia yg manunggal ini akan nampak lebih jelas peranannya, dimana manusia tidak lain adalah ke-Esa-an dalam af’al Allah. Tentu ke-Esa-an bukan sekedar af’al, sebab af’al digerakkan oleh dzat. Sehingga af’al yg menyatu menunjukkan adanya ke-Esa-an dzat, kemana af’al itu dipancarkan.
5. “Di dunia ini kita merupakan mayat-mayat yg cepat juga akan menjadi busuk dan bercampur tanah.

Ketahuilah juga apa yg dinamakan kawula-Gusti tidak berkaitan dgn seorang manusia biasa seperti yg lain-lain. Kawula dan Gusti itu sudah ada dalam diriku, siang dan malam tidak dapat memisahkan diriku dari mereka. Tetapi hanya untuk saat ini nama kawula-Gusti itu berlaku, yakni selama saya mati. Nanti, kalau saya sudah hidup lagi, Gusti dan kawula lenyap, yg tinggal hanya hidupku sendiri, ketentraman langgeng dalam ADA sendiri. Bila kau belum menyadari kebenaran kata-kataku maka dgn tepat dapat dikatakan, bahwa kau masih terbenam dalam masa kematian. Di sini memang terdapat banyak hiburan aneka warna. Lebih banyak lagi hal-hal yg menimbulkan hawa nafsu. Tetapi kau tidak melihat, bahwa itu hanya akibat pancaindera. Itu hanya impian yg sama sekali tidak mengandung kebenaran dan sebentar lagi akan cepat lenyap. Gilalah orang yg terikat padanya. Saya tidak merasa tertarik, tak sudi tersesat dalam kerajaan kematian. Satu-satunya yg kuusahakan, ialah kembali kepada kehidupan.”

Syekh Siti Jenar menyatakan dgn tegas bahwa dirinya sebagaiTuhan, ia memiliki hidup dan Ada dalam dirinya sendiri, serta menjadi Pangeran bagi seluruh isi dunia. Sehingga didapatkan konsistensi antara keyakinan hati, pengalaman keagamaan, dan sikap perilaku dzahirnya. Juga ditekankan satu hal yg selalu tampil dalam setiap ajaran Syekh Siti Jenar. Yakni pendapat bahwa manusia selama masih berada di dunia ini sebetulnya mati, baru sesudah ia dibebaskan dari dunia ini, akan dialami kehidupan sejati. Kehidupan ini sebenarnya kematian ketika manusia dilahirkan. Badan hanya sesosok mayat karena ditakdirkan untuk sirna. (bandingkan dengan Zoetmulder; 364). Dunia ini adalah alam kubur, dimana roh suci terjerat badan wadag yg dipenuhi oleh berbagai goda-nikmat yg menguburkan kebenaran sejati dan berusaha menguburkan kesadaran Ingsun Sejati.
SURGA DAN NERAKA Syekh Siti Jenar

“anal jannatu wa nara katannalr al anna”, sering digunakan oleh Syekh Siti Jenar dalam menjelaskan hakikat surga dan neraka. Penulisan yg benar nampaknya adalah “inna al-janatu wa al-naru qath’un ‘an al-ana” (Sesungguhnya keberadaan surga dan neraka itu telah nyata adanya sejak sekarang atau di dunia ini).

Sesungguhnya, menurut ajaran Islam pun, surga dan neraka itu tidaklah kekal. Yang menganggap kekal surga dan neraka itu adalah kalangan awam. Sesungguhnya mereka berdua wajib rusak dan binasa.

Bagi Syekh Siti Jenar, surga atau neraka bukanlah tempat tertentu untuk memberikan pembalasan baik dan buruknya manusia. Surga neraka adalah perasaan roh di dunia, sebagai akibat dari keadaan dirinya yg belum dapat menyatu-tunggal dgn Allah. Sebab bagi manusia yg sudah memiliki ilmu kasampurnan, jelas bahwa ketika mengalami kematian dan melalui pintunya, ia kembali kepada Hidup Yang Agung, hidup yang tan kena kinaya ngapa (hidup sempurna abadi sebagai Sang Hidup). Yaitu sebagai puncak cita-cita dan tujuan manusia.

Jadi, karena surga dan neraka itu ternyata juga makhluk, maka surga dan neraka tidaklah kekal, dan juga bukanlah tempat kembalinya manusia yang sesungguhnya. Sebab tidak mungkin makhluk akan kembali kepada makhluk, kecuali karena keadaan yang belum sempurna hidupnya. Oleh al-Qur’an sudah ditegaskan bahwa tempat kembalinya manusia hanya Allah, yang tidak lain adalah proses kemanunggalan ……ilaihi raji’un, ilaihi al-mashir………
PUASA dan HAJI Syekh Siti Jenar

“Syahadat, shalat dan puasa itu, sesuatu yang tidak diinginkan, jadi tidak perlu. Adapun zakat dan naik haji ke Makah, itu semua omong kosong (palson kabeh). Itu seluruhnya kedurjanaan budi, penipuan terhadap sesama manusia. Orang-orang dungu yg menuruti aulia, karena diberi harapan surga di kelak kemudian hari, itu sesungguhnya keduanya orang yang tidak tahu. Lain halnya dengan saya, Siti Jenar.”

“Tiada pernah saya menuruti perintah budi, bersujud-sujud di mesjid mengenakan jubah, pahalanya besok saja, bila dahi sudah menjadi tebal, kepala berbelulang. Sesungguhnya hal ini idak masuk akal! Di dunia ini semua manusia adalah sama. Mereka semua mengalami suka-duka, menderita sakit dan duka nestapa, tiada beda satu dengan yang lain. Oleh karena itu saya, Siti Jenar, hanya setia pada satu hal saja, yaitu Gusti Zat Maulana.”

Syekh Siti jenar menyebutkan bahwa syariat yang diajarkan para wali adalah “omong kosong belaka”, atau “wes palson kabeh”(sudah tidak ada yang asli). Tentu istilah ini sangat amat berbeda dengan anggapan orang selama ini, yang menyatakan bahwa Syekh Siti Jenar menolak syari’at Islam. Yang ditolak adalah reduksi atas syari’at tersebut. Syekh Siti Jenar menggunakan istilah “iku wes palson kabeh”, yg artinya “itu sudah dipalsukan atau dibuat palsu semua.” Tentu ini berbeda pengertiannya dengan kata “iku palsu kabeh” atau “itu palsu semua.”

Jadi yang dikehendaki Syekh Siti Jenar adalah penekanan bahwa syari’at Islam pada masa Walisanga telah mengalami perubahan dan pergeseran makna dalam pengertian syari’at itu. Semuanya hanya menjadi formalitas belaka. Sehingga manfaat melaksanakan syariat menjadi hilang. Bahkan menjadi mudharat karena pertentangan yang muncul dari aplikasi formal syariat tsb.

Bagi Syekh Siti Jenar, syariat bukan hanya pengakuan dan pelaksanaan, namun berupa penyaksian atau kesaksian. Ini berarti dalam pelaksanaan syariat harus ada unsur pengalaman spiritual. Nah, bila suatu ibadah telah menjadi palsu, tidak dapat dipegangi dan hanya untuk membohongi orang lain, maka semuanya merupakan keburukan di bumi.

Apalagi sudah tidak menjadi sarana bagi kesejahteraan hidup manusia. Ditambah lagi, justru syariat hanya menjadi alat legitimasi kekuasaan (seperti sekarang ini juga). Yang mengajarkan syari’at juga tidak lagi memahami makna dan manfaat syari’at itu, dan tidak memiliki kemampuan mengajarkan aplikasi syari’at yg hidup dan berdaya guna. Sehingga syari’at menjadi hampa makna dan menambah gersangnya kehidupan rohani manusia.

Nah, yg dikritik Syekh Siti Jenar adalah shalat yg sudah kehilangan makna dan tujuannya itu. Shalat haruslah merupakan praktek nyata bagi kehidupan. Yakni shalat sebagai bentuk ibadah yg sesuai dgn bentuk profesi kehidupannya. Orang yg melakukan profesinya secara benar, karena Allah, maka hakikatnya ia telah melaksanakan shalat sejati, shalat yg sebenarnya. Orientasi kepada yang Maha Benar dan selalu berupaya mewujudkan Manunggaling Kawula Gusti, termasuk dalam karya, karsa-cipta itulah shalat yg sesungguhnya.
Makna Ihsan

“Itulah yang dianggap Syekh Siti Jenar Hyang Widi. Ia berbuat baik dan menyembah atas kehendak-NYA. Tekad lahiriahnya dihapus. Tingkah lakunya mirip dengan pendapat yg ia lahirkan. Ia berketetapan hati untuk berkiblat dan setia, teguh dalam pendiriannya, kukuh menyucikan diri dari segala yg kotor, untuk sampai menemui ajalnya tidak menyembah kepada budi dan cipta. Syekh Siti Jenar berpendapat dan menggangap dirinya bersifat Muhammad, yaitu sifat rasul yg sejati, sifat Muhammad yg kudus.”

“Gusti Zat Maulana. Dialah yg luhur dan sangat sakti, yg berkuasa maha besar, lagipula memiliki dua puluh sifat, kuasa atas kehendak-NYA. Dialah yg maha kuasa, pangkal mula segala ilmu, maha mulia, maha indah, maha sempurna, maha kuasa, rupa warna-NYA tanpa cacat seperti hamba-NYA. Di dalam raga manusia Ia tiada nampak. Ia sangat sakti menguasai segala yg terjadi dan menjelajahi seluruh alam semesta, Ngidraloka”.

Dua kutipan di atas adalah aplikasi dari teologi Ihsan menurut Syekh Siti Jenar, bahwa sifatullah merupakan sifatun-nafs. Ihsan sebagaimana ditegaskan oleh Nabi dalam salah satu hadistnya (Sahih Bukhari, I;6), beribadah karena Allah dgn kondisi si ‘Abid dalam keadaan menyaksikan (melihat langsung) langsung adanya si Ma’bud. Hanya sikap inilah yg akan mampu membentuk kepribadian yg kokoh-kuat, istiqamah, sabar dan tidak mudah menyerah dalam menyerukan kebenaran.

Sebab Syekh Siti Jenar merasa, hanya Sang Wujud yg mendapatkan haq untuk dilayani, bukan selain-NYA. Sehingga, dgn kata lain, Ihsan dalam aplikasinya atas pernyataan Rasulullah adalah membumikan sifatullah dan sifatu-Muhammad menjadi sifat pribadi.
Dengan memiliki sifat Muhammad itulah, ia akan mampu berdiri kokoh menyerukan ajarannya dan memaklumkan pengalamannya dalam “menyaksikan langsung” ada-NYA Allah. “Persaksian langsung” itulah terjadi dalam proses manunggal.

“Hyang Widi, wujud yg tak nampak oleh mata, mirip dengan ia sendiri, sifat-sifatnya mempunyai wujud, seperti penampakan raga yg tiada tampak. Warnanya melambangkan keselamatan, tetapi tanpa cahaya atau teja, halus, lurus terus-menerus, menggambarkan kenyataan tiada berdusta, ibaratnya kekal tiada bermula, sifat dahulu yg meniadakan permulaan, karena asal dari diri pribadi.”

Ihsan berasal dari kondisi hati yg bersih. Dan hati yg bersih adalah pangkal serta cermin seluruh eksistensi manusia di bumi. Keihsanan melahirkan ketegasan sikap dan menentang ketundukan membabi-buta kepada makhluk. Ukuran ketundukan hati adalah Allah atau Sang Pribadi. Oelh karena itu, sesama manusia dan makhluk saling memiliki kemerdekaan dan kebebasan diri. Dan kebebasan serta kemerdekaan itu sifatnya pasti membawa kepada kemajuan dan peradaban manusia, serta tatanan masyarakat yg baik, sebab diletakkan atas landasan Ke-Ilahian manusia. Penjajahan atas eksistensi manusia lain hakikatnya adalah bentuk dari ketidaktahuan manusia akan Hyang Widhi…Allah (seperti Rosul sering sekali mengatakan bahwa “Sesungguhnya mereka tidak mengerti”).

Karena buta terhadap Allah Yang Maha Hadir bagi manusia itulah, maka manusia sering membabi-buta merampas kemanusiaan orang lain. Dan hal ini sangat ditentang oleh Syekh Siti Jenar. Termasuk upaya sakralisasi kekuasaan Kerajaan Demak dan Sultannya, bagi Syekh Siti Jenar harus ditentang, sebab akan menjadi akibat tergerusnya ke-Ilahian ke dalam kedzaliman manusia yang mengatasnamakan hamba Allah yg shalih dan mengatasnamakan demi penegakan syari’at Islam.

Pribadi adalah pancara roh, sebagai tajalli atau pengejawantahan Tuhan. Dan itu hanya terwujud dengan proses wujudiyah, Manuggaling Kawula-Gusti, sebagai puncak dan substansi tauhid. Maka manusia merupakan wujud dari sifat dan dzat Hyang Widi itu sendiri. Dengan manusia yg manunggal itulah maka akan menjadikan keselamatan yg nyata bukan keselamatan dan ketentraman atau kesejahteraan yg dibuat oleh rekayasa manusia, berdasarkan ukurannya sendiri. Namun keselamatan itu adalah efek bagi terejawantah-NYA Allah melalui kehadiran manusia.

Sehingga proses terjadinya keselamatan dan kesejahteraan manusia berlangsung secara natural (sunnatullah), bukan karena hasil sublimasi manusia, baik melalui kebijakan ekonomi, politik, rekayasa sosial dan semacamnya sebagaimana selama ini terjadi.

Maka dapat diketahui bahwa teologi Manuggaling Kawula Gusti adalah teologi bumi yg lahir dengan sendirinya sebagai sunnatullah. Sehingga ketika manusia mengaplikasikannya, akan menghasilkan manfaat yg natural juga dan tentu pelecehan serta perbudakan kemanusiaan tidak akan terjadi, sifat merasa ingin menguasai, sifat ingin mencari kekuasaan, memperebutkan sesama manusia tidak akan terjadi. Dan tentu saja pertentangan antar manusia sebagai akibat perbedaan paham keagamaan, perbedaan agama dan sejenisnya juga pasti tidak akan terjadi.
Tafsir Kisah Musa dan Khidir (Syekh Siti Jenar)

“Sesungguhnya, Khidir AS bukanlah sosok lain yg terpisah sama sekali dari keberadaan manusia rohani. Apa yg disaksikan sebagai tanah menjorok dgn lautan di sebelah kanan dan kiri itu bukanlah suatu tempat yg berada di luar diri manusia. Tanah itulah yg disebut perbatasan (barzakh). Dua lautan itu adalah Lautan Makna (bahr al-ma’na), perlambang alam tidak kasatmata (‘alam al-ghaib) dan lautan Jisim (bahr al-ajsam), perlambang alam kasatmata (‘alam asy-syahadat).”

“Sedangkan kawanan udang adalah perlambang para pencari Kebenaran yg sudah berenang di perbatasan alam kasatmata san alam tidak kasatmata. Kawanan udang perlambang para penempuh jalan rohani (salik) yg benar-benar bertujuan mencari Kebenaran. Sementara itu, kawanan udang yg berenang di lautan sebelah kiri, di antara batu-batu, merupakan perlambang para salik yg penuh diliputi hasrat-hasrat dan pamrih-pamrih duniawi.”

“Sesungguhnya, peristiwa yg dialami Nabi Musa AS dgn Khidir AS, sebagaimana termaktub di dalam Al-Qur’an Al-Karim, bukanlah hanya peristiwa sejarah seorang manusia bertemu manusia lain. Ia adalah peristiwa perjalanan rohani yg berlangsung di dalam diri Nabi Musa AS sendiri. Sebagaimana yg telah saya jelaskan, yg disebut dua lautan di dalam Al-Qur’an tidak lain dan tidak bukan adalah Lautan Makna (bahr al-ma’na) dan Lautan Jisim (bahr al-ajsam). Kedua lautan itu dipisahkan oleh wilayah perbatasan atau sekat (barzakh).”

“Ikan dan lautan dalam kisah Qur’ani itu merupakan perlambang dunia kasatmata (‘alam asy-syahadat) yg berbeda dengan wilayah perbatasan yg berdampingan dgn dunia gaib (‘alam al-ghaib). Maksudnya, jika saat itu Nabi Musa AS melihat ikan dan kehidupan yg melingkupi ikan tersebut dari tempatnya berdiri, yaitu di wilayah perbatasan antara dua lautan, maka Nabi Musa AS akan melihat sang ikan berenang di dalalm alamnya, yaiu lautan. Jika saat itu Nabi Musa AS mencermati maka ia akan dapat menyaksikan bahwa sang ikan yg berenang itu dapat melihat segala sesuatu di dalam lautan, kecuali air (dilambangkan manusia juga sama). Maknanya, sang ikan hidup di dalam air dan sekaligus di dalam tubuh ikan ada air, tetapi ia tidak bisa melihat iar dan tidak sadar jika dirinya hidup di dalam air. Itulah sebabnya, ikan tidak dapat hidup tanpa air yg meliputi bagian luar dan bagian dalam tubuhnya. Di mana pun ikan berada, ia akan selalu diliputi air yg tak bisa dilihatnya.”

“Sementara itu, seandainya sang ikan di dalam lautan melihat Nabi Musa AS dari tempat hidupnya di dalam air lautan maka sang ikan akan berkata bahwa Musa AS di dalam dunia-yang diliputi udara kosong-dapat menyaksikan segala sesuatu, kecuali udara kosong yg meliputinya itu. Maknanya, Nabi Musa AS hidup di dalam liputan udara kosong yg ada di luar maupun di dalam tubuhnya, tetapi ia tidak bisa melihat udara kosong dan tidak sadar jika dirinya hidup di dalam udara kosong. Itu sebabnya, Nabi Musa AS tidak dapat hidup tanpa udara kosong yg meliputi bagian luar dan dalam tubuhnya. Di mana pun Nabi Musa AS berada, ia akan selalu diliputi udara kosong yg tidak bisa dilihatnya.”

“Sesungguhnya, pemuda (al-fata) yg mendampingi Nabi Musa AS dan membawakan bekal makanan adalah perlambang dari terbukanya pintu alam tidak kasatmata. Sesungguhnya, dibalik keberadaan pemuda (al-fata) itu tersembunyi hakikat sang Pembuka (al-Fattah). Sebab, hijab gaib yg menyelubungi manusia dari Kebenaran sejati tidak akan bisa dibuka tanpa kehendak Dia, sang Pembuka (al-Fattah). Itu sebabnya, saat Nabi Musa AS bertemu dgn Khidir AS, pemuda (al-fata) itu disebut-sebut lagi karena ia sejatinya merupakan perlambang keterbukaan hijab ghaib.”

“Adapun bekal makanan yg berupa ikan adalah perlambang pahala perbuatan baik (al-‘amal ash-shalih) yg hanya berguna untuk bekal menuju ke Taman Surgawi (al-jannah). Namun, bagi pencari Kebenaran sejati, pahala perbuatan baik itu justru mempertebal gumpalan kabut penutup hati (ghain). Itu sebabnya, sang pemuda mengaku dibuat lupa oleh setan hingga ikan bekalnya masuk ke dalam lautan.”

“Andaikata saat itu Nabi Musa AS memerintahkan si pemuda untuk mencari bekal yg lain, apalagi sampai memburu bekal ikan yg telah masuk ke dalam laut, niscaya Nabi Musa AS dan si pemuda tentu akan masuk ke Lautan Jisim (bahr al-ajsam) kembali. Dan, jika itu terjadi maka setan berhasil memperdaya Nabi Musa AS.”

“Ternyata, Nabi Musa AS tidak peduli dgn bekal itu. Ia justru menyatakan bahwa tempat di mana ikan itu melompat ke lautan adalah tempat yg dicarinya sehingga tersingkaplah gumpalan kabut ghain dari kesadaran Nabi Musa AS. Saat itulah purnama rohani zawa’id berkilau dan Nabi Musa AS dapat melihat Khidir AS, hamba yg dilimpahi rahmat dan kasih sayang (rahmah al-khashshah) yg memancar dari citra ar-Rahman dan ar-Rahim dan Ilmu Ilahi (ilm ladunni) yg memancar dari Sang Pengetahuan (al-Alim).”

“Anugerah Ilahi dilimpahkan kepada Khidir AS karena dia merupakan hamba-NYA yg telah mereguk Air Kehidupan (ma’ al-hayat) yg memancar dari Sang Hidup (al-Hayy). Itu sebabnya, barang siapa di antara manusia yg berhasil bertemu Khidir AS di tengah wilayah perbatasan antara dua lautan, sesungguhnya manusia itu telah menyaksikan pengejawantahan Sang Hidup (al-Hayy), Sang Penyayang (ar-Rahim). Dan, sesungguhnya Khidir AS itu tidak lain dan idak bukan adalah ar-roh al-idhafi, cahaya hijau terang yg tersembunyi di dalam diri manusia, “Sang Penuntun” anak keturunan Adam AS ke jalan Kebenaran Sejati. Dialah penuntun dan penunjuk (mursyid) sejati ke jalan Kebenaran (al-Haqq). Dia sang mursyid adalah pengejawantahan yang Maha Menunjuki (as –Rasyid).”

“Demikianlah, saat sang salik melihat Khidir AS sesungguhnya ia telah menyaksikan ar-roh al-idhafi, mursyid sejati di dalam diri manusia sendiri. Saat ia menyaksikan kawanan udang di lautan sebelah kanan, sesungguhnya ia telah menyaksikan Lautan Makna (bahr-al-ma’na) yg merupakan hamparan permukaan Lautan Wujud (bahr al-wujud). Namun, jika terputus penglihatan batiin (bashirab) itu pada titik ini, berarti perjalanan menusia itu menuju ke Kebenaran Sejati masih akan berlanjut.”
Sesungguhnya, perjalanan rohani menuju Kebenaran Sejati penuh diliputi tanda kebesaran Ilahi yg hanya bisa diungkapkan dalam bahasa perlambang. Sesungguhnya, masing-masing menusia akan mengalami pengalaman rohani yg berbeda sesuai pemahamannya dalam menangkap kebenaran demi kebenaran. Yang jelas, pengalaman yg akan manusia alami tidak selalu mirip dgn pengalaman yg dialami Nabi Musa AS.”

“Setelah berada di wilayah perbatasan, Khidir AS dan Nabi Musa AS digambarkan melanjutkan perjalanan memasuki Lautan Makna, yaitu alam tidak kasatmata. Mereka kemudian digambarkan menumpang perahu. Sesungguhnya, perahu yg mereka gunakan untuk menyeberang itu adalah perlambang dari wahana (syari’ah) yg lazimnya digunakan oleh kalangan awam untuk mencari ikan, yakni perlambang perbuatan baik (al ‘amal ash-shalih). Padahal, perjalanan mengarungi Lautan Makna menuju Kebenaran Sejati adalah perjalanan yg sangat pribadi menuju Lautan Wujud. Itulah sebabnya, perahu (syari’ah) itu harus dilubangi agar air dari Lautan Makna masuk ke dalam perahu dan penumpang perahu mengenal hakikat air yg mengalir dari lubang tersebut.”

“Setelah penumpang perahu mengenal air yg mengalir dari lubang maka ia akan menjadi sadar bahwa lewat lubang itulah sesungguhnya ia akan bisa masuk ke dalam Lautan Makna yg merupakan permukaan Lautan Wujud. Andaikata perahu itu tidak dilubangi, dan kemudian perahu diteruskan berlayar, maka perahu itu tentu akan dirampas oleh Sang Maha Raja (malik al-Mulki) sehingga penumpangnya akan menjadi tawanan. Jika sudah demikian, maka untuk selamanya sang penumpang perahu tidak bisa melanjutkan perjalanan menuju Dia, Yang Maha Ada (al-Wujud), yg bersemayam di segenap penjuru hamparan Lautan Wujud. Penumpang perahu itu mengalami nasib seperti penumpang perahu yg lain, yakni akan dijadikan hamba sahaya oleh Sang Maha Raja. Bahkan, jika Sang Maha Raja menyukai hamba sahaya-NYA itu maka ia akan diangkat sebagai penghuni Taman (jannah) indah yg merupakan pengejawantahan Yang Maha Indah (al Jamal).”

“Adapun Atas Pernyataan kenapa wahana (syariah) harus dilubangi dan tidak lagi digunakan dalam perjalanan menembus alam ghaib manuju Dia? Dapat dijelaskan sebagai berikut.”

“Sebab, wahana adalah kendaraan bagi manusia yg hidup di alam kasatmata untuk pedoman menuju ke Taman Surgawi. Sedangkan alam tidak kasatmata adalah alam yg tidak jelas batas-batasnya. Alam yg tidak bisa dinalar karena segala kekuatan akal manusia mengikat itu tidak bisa berijtihad untuk menetapkan hukum yg berlaku di alam gaib. Itu sebabnya, Khidir AS melarang Nabi Musa AS bertanya sesuatu dgn akalnya dalam perjalanan tersebut. Dan, apa yg disaksikan Nabi Musa AS terdapat perbuatan yg dilakukan Khidir AS benar-benar bertentangan dgn hukum suci (syari’at) dan akal sehat yg berlaku di dunia, yakni melubangi perahu tanpa alasan, membunuh seorang anak kecil tak bersalah dan menegakkan tembok runtuh tanpa upah.”

“Namun jika wahana (syari’ah) tidak lagi bisa dijadikan petunjuk, sebenarnya pedomannya tetaplah sama, yaitu Kitabullah dan Sunnah Rasul. Tetapi pemahamannya bukan dgn akal (‘aql) melainkan dgn dzauq, yaitu cita rasa rohani. Inilah yg disebut cara (thariqah). Di sini, sang salik selain harus berjuang keras juga harus pasrah kepada kehendak-NYA. Sebab, telah termaktub dalam dalil araftu rabbi bi rabbi bahwa kita hanya mengenal Dia dgn Dia. Maksudnya jika Tuhan tidak berkehendak kita mengenal-NYA maka kita pun tidak akan bisa mengenal-NYA. Dan, kita mengenal-NYA pun maka hanya melalui Dia (walaupun kita tidak mau tetapi semua telah kehendak-NYA). Itu sebabnya, di alam tidak kasatmata yg tidak jelas batas dan tanda-tandanya itu kita tidak dapat berbuat sesuatu kecuali pasrah seutuhnya dan mengharap limpahan rahmat dan hidayah-NYA.”

“Tentang makna di balik kisah Khidir AS membunuh seorang anak (ghulam) dapat saya jelaskan sebagai berikut.”
“Anak adalah perlambang keakuan kerdil yg kekanak-kanakan. Kedewasaan rohani seorang yg teguh imannya bisa runtuh akibat terseret cinta kepada keakuan kerdil yg kekanak-kanakan tersebut. Itu sebabnya, keakuan kerdil y kekanak-kanakan itu harus dibunuh agar kedewasaan rohani tidak terganggu.”

“Sesungguhnya, di dalam perjalanan rohani menuju Kebenaran Sejati selalu terjadi keadaan di mana keakuan kerdil yg kekank-kanakan (ghulam) dari salik cenderung mengikari kehambaan dirinya terhadap Cahaya Yang Terpuji (Nur Muhammad) sebagai akibat ia belum fana ke dalam Sang Rasul (fana fi rasul). Ghulam cenderung durhaka dan ingkar terhadap kehambaan kepada Sang Rasul. Jika keakuan yg kerdil dan kekanak-kanakan itu dibunuh maka akan lahir ghulam yg lebih baik dan lebih diberbakti yg melihat dengan mata batin bahwa dia sesungguhnya adalah “hamba” dari Sang Rasul, pengejawantahan Cahaya Yang Terpuji (Nur Muhammad).”

“Sesungguhnya, keakuan kerdil yg kekanak-kanakan adalah perlambang dari keberadaan nafsu manusia yg cenderung durhaka dan ingkar terhadap Sumbernya. Sedangkan ghulam yg baik dan berbakti merupakan perlambang dari keberadaan roh manusia yg cenderung setia dan berbakti kepada Sumbernya. Dan sesungguhnya, perbuatan Khidir AS itu adalah perlambang yg sama saat Nabi Ibrahim AS akan menyembelih Nabi Ismail AS ‘Pembuhunan’ itu adalah perlambang puncak dari keimanan mereka yg beriman (mu’min).”

“Adapun dinding yg ditinggikan Khidir AS adalah perlambang Sekat Tertinggi (al barzakh al ‘a’la) yg disebut juga dgn Hijab Yang Maha Pemurah (hajib ar-Rahman). Dinding itu adalah pengejawantahan Yang Maha Luhur (al-Jalil). Lantaran itu, dinding tersebut dinamakan Dinding al-Jalal (al jidar al-Jalal), yg dibawahnya tersimpan Khazanah Perbendaharaan (Tahta al-Kanz) yg ingin diketahui.”

“Sedangkan dua anak yatim (ghulamaini yatimaini) pewaris dinding itu adalah perlambang jati diri Nabi Musa AS, yg keberadaannya terbentuk atas jasad ragwi (al-basyar) dan rohani (roh). Kegandaan jati diri manusia itu baru tersingkap jika seseorang sudah berada dalam keadaan tidak memiliki apa-apa (muflis), terkucil sendiri (mufrad) dan telah berada di dalam waktu tak berwaktu (ibn al-waqt). Dua anak yatim itu adalah perlambang gambaran Nabi Musa AS dan bayangannya di depan Cermin Memalukan (al-mir’ah al-haya’I).”
“Adapun gambaran tentang ‘ayah yg salih’ dari kedua anak yatim, yakni ayah yg mewariskan Khazanah Perbendaharaan , adalah perlambang diri dari Abu halih, Sang Pembuka Hikmah (al-hikmah al-futuhiyyah), yakni pengejawantahan Sang Pembuka. Dengan demikian apa yg telah dialami Nabi Musa AS dalam perjalanan bersama Khidir AS (QS. Al-Kahfi : 60-82) menurut penafsiran adalah perjalanan rohani Nabi Musa AS ke dalam dirinya sendiri yg penuh dgn perlambang (isyarat).”

“Memang Nabi Musa AS lahir hanya satu. Namun, keberadaan jati dirinya sesungguhnya adalah dua, yaitu pertama keberadaan sebagai al-basyar ‘anak’ Adam AS yg berasal dari anasir tanah yg tercipta; dan keberadaannya sebagai roh ‘anak’ Cahaya Yang Terpuji (Nur Muhammad) yg berasal dari tiupan (nafakhtu) Cahaya di Atas Cahaya (Nurun ‘ala Nurin). Maksudnya, sebagai al-basyar, keberadaan jasad ragawi nabi Musa AS berasal dari Yang Mencipta (al-Kha-liq).”

“Sehingga tidak akan pernah terjadi perseteruan dalam memperebutkan Khazanah Perbendaharaan warisan ayahnya yg shalih. Sebab, saat keduanya berdiri berhadap-hadapan di depan Dinding al-jalal (al-jidar al-Jalal) dan mendapati dinding itu runtuh maka saat itu yg ada hanya satu anak yatim. Maksudnya, saat itu keberadaan al-basyar ‘anak’ Adam AS akan terserap ke dalam roh ‘anak’ Nur Muhammad. Saat itulah sang anak sadar bahwa ia sejatinya berasal dari Cahaya di Atas cahaya (Nurun ‘ala Nurin) yg merupakan pancaran dari Khazanah Perbendaharaan. Sesungguhnya, hal semacam itu tidak bisa diuraikan dgn kaidah-kaidah nalar manusia karena akan membawa kesesatan. Jadi, harus dijalani dan dialami sendiri sebagai sebuah pengalaman pribadi.”
Penjelasan tentang konsep Shiratal Mustaqim (Syekh Siti Jenar)

“Saya hanya memberi sebuah petunjuk yg bisa digunakan untuk meniti jembatan (shirath) ajaib ke arah-NYA. Saya katakan ajaib karena jembatan itu bisa menjauhkan sekaligus mendekatkan jarak mereka yg meniti dgn tujuan yg hendak dicapai.”

“Sebagaimana kisah Nabi Musa AS dalam perjalanan mencari Khidir AS, jembatan itu memiliki empat bagian mantra yg masing-masing memiliki pintu. Pertama, mantra istighfar yg berisi perlambang Nabi Musa AS bersama pemuda (al-fata) menjumpai Khidir AS di perbatasan antara dua lautan. Kedua, mantra salawat yg berisi perlambang Khidir AS melubangi perahu. Ketiga, mantra dalil yg berisi perlambang Khidir AS membunuh anak. Keempat, mantra nafs al-haqq yg berisi perlambang Khidir AS menegakkan dinding yg di bawahnya tersembunyi perbendaharaan.”

Bagi kalangan awam, istighfar lazimnya dipahami sebagai upaya memohon ampun kepada al-ghaffar sehingga mereka beroleh ampunan (maghfirah). Tetapi bagi para salik, istighfar adalah upaya memohon pembebasan dari ‘belenggu’ (penjara) kekauan kepada al-ghaffar sehingga beroleh maghfirah yg menyingkap tabir ghain yg menyelubungi manusia. Sesungguhnya di dalam Asma’ al-Ghaffar terangkum makna Maha Pengampun dan juga Makna Maha Menutupi, Maha menyembunyikan dan Maha Menyelubungi.”
“Sesungguhnya perjalanan manusia, ketika sudah mengalami kasyf al-hijab ia telah sampai ke bagian jembatan yg disebut mantra istighfar. Tabir ghain yg menyelubungi keakuannya telah menyingsing. Ia telah menyaksikan Khidir AS, namun karena kadang ia terperangkap pada keinginan untuk memperoleh karunia-NYA semata (karamah dari kealian), namun ia hanya berputar-putar di mantra istighfar yg penuh diliputi gambaran-gambaran indah karunia-NYA.”

“Cara melepaskan hal itu, agar ia sampai pada mantra salawat adalah dgn “Melubangi perahu” seperti yg dilakukan Khidir AS hal ini harus dilakukan.”

“Tanpa melubangi perahu (maksudnya tinggalkan akal dimana itu hanya sekedar pancaindera yg tidak kekal dan hanya niat yg tulus dan “kasih” maka akan diberikan hidayah bagi yg demikian…..seperti Prabu Jayabaya melakukan Moksa, Beliau meninggalkan segala bentuk atribut kerajaan yg diperlambang meninggalkan akal..dan intinya kembali ke fitrah seorang bayi yg melihat dgn “kasih” tanpa ada kerajaan “Akal” di kepalanya), sang salik tidak akan mengetahui hakikat sejati Lautan Wujud (bahr al-wujud). Tanpa melubangi perahu maka kedudukan salik tidak jauh berbeda dgn kedudukan para nelayan; memanfaatkan perahu untuk mencari ikan (pahala) dan berbagai karunia-NYA yg terhampar di permukaan Lautan Wujud, yg selain bergelombang dahsyat juga berisiko dihadang Sang Rajadiraja (al-Malik al-Mulki) yg setiap saat akan merampas perahu-perahu yg baik.”

“Di mantra salawat ini sang salik harus menyadari kehambaannya kepada Yang Maha Terpuji (ahmad) sebagai Sumber segala kejadian. Di Mantra itu sang salik harus menjadi ghulam yg baik dan berbakti kepada sumbernya, yakni pancaran Air Kehidupan yg mengalir dari lubang perahu yg dibuat Khidir AS Ghulam yg durhaka dan mengingkari kehambaannya kepada Yang Terpuji harus dibunuh. Sang salik yg tenggelam ke dalam mantra salawat ini disebut fana ke dalam Rasulullah (fana’ fi rasul).”

“Air Kehidupan yang memancar dari lubang itu sesungguhnya sama hakikatnya dgn Air Kehidupan yg tergelar di hamparan Lautan Wujud. Walau demikian, tanpa melalui Air Kehidupan yg mengalir dari lubang maka salik tidak akan mencapai Air Kehidupan yg tergelar di Lautan Wujud.”
“Mantra tahlil adalah mantra Ke-Esa-an. Mantra Tauhid. Inilah mantra Ke-Esa-an Wujud; Lautan Wujud sama hakikatnya dengan Air Kehidupan. Ibarat ungkapan kesaksian tidak ada ilah selain Allah (la ilaha illa Allah), demikianlah di mantra ini terungkap kesaksian tidak ada air lain yg tergelar di hamparan Lautan Wujud kecuali Air Kehidupan (Ma’ al-Hayy) yg mengalir dari Sang hidup (al-Hayy). Inilah mantra yg diibaratkan dalam perlambang dinding yg ditegakkan Khidir AS yg di bawahnya tersembunyi perbendaharaan.”

“Mantra nafs al-haqq adalah mantra rahasia yg tidak bisa diuraikan. Sebab, mantra ini menyangkut Perbendaharaan Tersembunyi yg terdapat di bawah dinding. Tak ada satu pun di antara makhluk yg mengetahui keberadaan-NYA, kecuali memang dikehendaki-NYA. Jika Al Qur’an saja tidak memberikan penjelasan tentang apa sesungguhnya Perbendaharaan, tentunya manusia tidak boleh menghayal-khayal tentang Perbendaharaan itu. Gambaran Nabi Musa AS yg berpisah dengan Khidir AS di mantra itu adalah kearifan dari Sang Pencerita untuk tidak mengungkapkan apa yg tidak dapat dipahami pendengar-NYA.”

Bagi Syekh Siti Jenar, bentuk lafadz istighfar, shalawat, tasbih, tahlil dan semacamnya sebenarnya lafadz-lafadz yg menuntut menusi untuk menempuh jalan menuju kemanunggalan. Sehingga kalimat-kalimat tersebut tidaklah cukup hanya dijadikan ucapan penghias bibir belaka. Kalimat-kalimat tersebut hakikatnya adalah urat nadi perjalanan rohani manusia, yg penyelami atasnya dapat membawa ke samudera ma’rifat untuk mengenal dan mendekati-NYA dan kemudian menghampiri-NYA untuk manunggal dalam keabadian. Sehingga mantra-mantra dari kalimat itu akan tetap terbawa kesadarannya tetap mengiringinya dengan senyum menuju Haribaan-NYA. Yakinlah kamu atas nama Allah maka kamu akan sampai dgn kehendak-NYA…Amin…amin…
Pelaksanaan Haji Syekh Siti Jenar

Bagi Syekh Siti Jenar, ibadah haji di al-Haramain merupakan tindakan atau laku ‘abid yg sedang menjalankan ibadah untuk mengarahkan kiblat kepada Ma’bud. Inilah inti ibadah haji yg menurut Syekh Siti Jenar akan mampu membawa pencerahan bagi pelaksananya. Haji bukan semata-mata melaksanakan ihram, thawaf, sa’I, wuquf, bermalam di Muzdalifah dan Masy’ar al-Haram dan melempar jumrah secara badani.

Tetapi makna hakiki haji bagi Beliau adalah peribadatan yg mampu membawa seorang salik mendaki maqam jasadiyah ke maqam rohaniyah; tindakan manapaki kembali jejak Adam yg terusir dari surga, ke asal penciptaan yg mulia di antara semua hamba-NYA, yaitu Adam yg kepadanya seluruh malaikat bersujud dan dibanggakan Rabb-nya karena mengetahui nama-nama serta berwawansabda dgn al-Khaliq.

Demikian pula dgn Makkah. Bagi Beliau kota suci ini merupakan tempat meningkatkan kualitas kehidupan mistiknya. Ka’bah sebagai “pusat kosmik” merupakan tempat khusus memperoleh pengalaman rohani yg tidak mungkin diperoleh di temapat lain. Perenungan yg demikian dalam itulah yg kemudian menghasilkan pengalaman spiritual, menuju puncak ma’rifatullah.

Pengalaman spiritual pertama, Syekh Siti Jenar mengalami ke fana’-an yg lebih tinggi dibanding pengalaman spiritual yg sudah lewat. Dalam keadaan fana’-nya itu, ia mengalami pandangan lawami’, menyaksikan seorang pemuda yg telah sampai kepada tingkatan puncak dalam pendakian spiritual. Melalui isyarat (pembicaraan dgn bahasa perlambang) dan al-ima’ (pembicaraan tanpa lisan dan bahasa perlambang), pemuda tersebut mengungkap jalan menuju-NYA; menembus berbagai tabir hijab dualitas insaniyah dan Ilahi-yah, memasuki samudera sifat dan Asma Allah. Beliau dituntun menjadi al-Insan al-Kamil, dimana potensi Roh al-Haqq yg bersemayam dalam Baitul Haram hati-jiwanya, dioptimalisir bagi eksistensi dirinya di dunia. Jika Roh al-Haqq ini tidak dioptimalisasikan, maka hakikat manusia hidup adalah hanya sebagai mayat atau bangkai. Demikian pula jalur ibadah formal yg tidak disertai kebangkitan Roh al-Haqq, tidak akan memiliki efektivitas apapun, bagi kehidupan sejati di akhirat kelak.

Roh al-Haqq dari lubuk Abitul Haram hati itulah yg menjalin relasi dgn Dia (Huwa), yg meniupkan roh-NYA melalui nafs al-rahman. Melalui jalur itulah akan tersingkap seluruh rahasia keberadaan al-Haqq (Yang Riil) yg menjadi esensi sekaligus substansi Roh al-Haqq. Jalinan antara al-Haqq dan Huwa (Dia Yang Mutlak Tak Terbatas) itulah hakikat sejati dari fana’ fi tauhid; Yang Riil Yang Beragam (farq), manunggal dengan Yang Satu (Jam’).

Setelah Beliau mengalami pengalaman puncak spiritual yg dahsyat tsb, kembali terjadi pengalaman kedua. Melalui nur lawami’ dan fawa’id-nya, ia mengetahui bahwa pemuda yg semula membimbingnya mengalami pengalaman puncak, tiada lain dan tidak bukan adalah Abu Bakar al-Shidiq, sahabat etrkasih Rasulullah. Pengalaman pertemuan dgn roh Abu Bakar itu terjadi dalam kondisi ekstase kesufian, ketika kesadaran jiwanya berada dalam ‘alam al-khalaq (alam kasatmata)dgn ‘alam al-khayal (alam imajinasi).

Pengalaman ketiga, terjadi ketika thawaf wada’. Ketika kondisi rohaninya sedang berada dalam ke-fana’-an, ia merasakan nur dalam dirinya menyatu dgn Nur Muhammad. Dalam pergulatan kalbunya itu, kemudian ia terbawa dalam situasi yg mencengangkan. Mendadak Ka’bah dan segala yg disekitarnya lenyap. Ia berada di alam syahadah yg maha-luas, dimana seluruh tubuhnya memancar Nur. Ia merasakan dan menyatu dgn Nur, sehingga ia tidak tahu lagi tentang eksistensi dirinya. Antara sadar dan tidak, ia merasakan al-Haqq yg bersemayam di arsy Baitul Haram hatinya berkata-kata sendiri, “Ana sirr al-Haqqi wa ma al-Haqq ana, wa ANA AL-HAQQ fa innani ma ziltu aba wa bi al-Haqqi haqqun.”

Di Makkah beliau telah berhasil mencapai kemanunggalan. Kini seluruh pandangan beliau telah selalu berada dalam ‘ain al-bashirah, sebagai pengejawantahan dari al-Bashir.

Ketika Syekh Siti Jenar berada di depan kubur Rasulullah, ia kembali mengalami lintasan-lintasn rohani yg menakjubkan. Kali ini melalui pandangan al-bashirah-nya, ia dieprtumukan dgn sosok agung Muhammad SAW, yg mengungkapkan rahasia Nur Muhammad dan wujudiyah kepada Syekh Siti Jenar, mengungkapkan rahasia kalimat, “Ana min nur Allah wa khalq kulluhum min nuri.” Demikian pula mengenai rahasia Haqiqah Muhammad, yg di dalamnya terhadap nama lain Nabi Muhammad, yaitu “Ahmad” itulah yg dimaksud dalam hadist “ana Ahmadun bi-la mim.” Yg maksudnya adalah “Aku tidak lain adalah Ahad.” Jadi Nabi Muhammad yg diberi nama semesta “Ahmad” tidak lain adalah pengejawantahan dari sang “Ahad” sendiri.

Dari pengalaman kemanunggalan yg dialami di Makkah itu, Syekh Siti Jenar tidak bisa membedakan antara fana’ fi Allah dan fana’ fi rasul, sebab hakikat dan esensinya sama. Fana’ fi rasul, melalui rahasia di balik nama “Ahmad”, tidak lain juga fana’ fi al-Ahad.

Rahasia Menyingkap Ilmu Laduni

Menyingkap Rahasia Ilmu (Laduni) Rahasia ahli kitab yang mampu memindahkah kursi Ratu Bilkis sebagaimana di kisahkan Al qur an hingga ...